Wapres Gibran Curhat soal AI: Kenapa Reaksinya Selalu Negatif?
Tanggal: 25 Mar 2025 14:27 wib.
Tampang.com | Wakil Presiden Republik Indonesia, Gibran Rakabuming Raka, membagikan pengalamannya dalam memperkenalkan Artificial Intelligence (AI) kepada masyarakat. Sayangnya, setiap kali ia mengunggah konten terkait AI di Instagram dan TikTok, respon yang diterima justru negatif. Hal ini ia ungkapkan saat menghadiri diskusi "Artificial Intelligence: Shaping Indonesia’s Future" di Universitas Pelita Harapan (UPH), Karawaci, Tangerang, pada Kamis (20/3/2025).
Gibran: AI Bukan Ancaman, Tapi Penunjang Produktivitas
Dalam diskusi tersebut, Gibran menekankan bahwa AI tidak akan menggantikan manusia, melainkan menjadi alat penunjang untuk meningkatkan produktivitas dan kreativitas.
"Jadi AI itu bukan ancaman. Setuju semua ya? AI itu jadi penunjang ke depan untuk meningkatkan produktivitas," ujar Gibran, disambut tepuk tangan mahasiswa UPH.
Ia juga menceritakan bagaimana dalam beberapa minggu terakhir dirinya bersama komunitas AI aktif melakukan sosialisasi AI ke tingkat SMA. Mereka belajar dari dasar, mulai dari prompting, pembuatan video, grafis yang menghibur, hingga tools untuk menyelesaikan soal matematika.
"Harapannya ke depan bisa menyosialisasikan AI di tingkat SMP, SD, bahkan TK. Di negara-negara lain, pemerintah sudah mendorong anak-anak untuk menggunakan AI. Kita tidak boleh ketinggalan," lanjutnya.
Manfaat AI: Dari Lalu Lintas hingga Penanganan Banjir
Menurut Gibran, AI bisa membantu menyelesaikan berbagai persoalan di masyarakat, mulai dari pelayanan publik, pembayaran pajak, hingga mengatasi kemacetan saat mudik.
"Kita ingin nantinya masalah traffic di exit tol saat mudik bisa dibantu AI agar tidak ada penumpukan kendaraan," katanya.
Tak hanya itu, Gibran juga optimis bahwa AI dapat digunakan untuk membantu menangani banjir yang kerap terjadi di Indonesia.
"Akhir-akhir ini banyak banjir, saya yakin ke depan AI bisa membantu dalam penanganannya juga," tambahnya.
Fakultas AI UPH: Mencetak Profesional AI Berintegritas
Dalam kesempatan yang sama, Gibran mengapresiasi Universitas Pelita Harapan (UPH) yang telah menghadirkan Fakultas AI sebagai pilihan studi di perguruan tinggi.
Dekan Fakultas AI UPH, Dr. Rizaldi Sistiabudi, menjelaskan bahwa fakultas ini bertujuan melahirkan profesional AI yang tidak hanya unggul secara teknis, tetapi juga memiliki integritas dan tanggung jawab dalam penerapannya.
"Mahasiswa akan diajarkan untuk bertanggung jawab secara moral dalam penggunaan AI, termasuk dalam menghadapi isu seperti bias algoritma dan keamanan data," jelas Rizaldi.
Fakultas AI UPH juga menerapkan kurikulum berstandar internasional dengan fokus pada bidang Machine Learning, Computer Vision, Natural Language Processing, dan Ethical AI. Pembelajaran dilakukan dengan metode Practice-Centered Learning (PCL), di mana mahasiswa akan langsung mengaplikasikan ilmu mereka dalam studi kasus dan proyek industri nyata.
Selain itu, UPH bekerja sama dengan Zhejiang University, China, memberikan kesempatan bagi mahasiswa untuk mengikuti program pertukaran pelajar dan riset internasional.
Kesimpulan: AI Sebagai Masa Depan Indonesia
Wapres Gibran berharap anak muda Indonesia tidak takut terhadap perkembangan AI, melainkan harus bisa beradaptasi dan memanfaatkannya untuk hal-hal positif.
"Sekali lagi, manusia yang tidak menggunakan AI akan dikalahkan oleh manusia yang menggunakan AI. Jadi anak-anak muda di sini jangan sampai ketinggalan," tegasnya.
Dengan perkembangan teknologi yang semakin pesat, AI bukan lagi sekadar tren, tetapi menjadi alat penting dalam membangun masa depan Indonesia.