Perbedaan Alergi Makanan dan Intoleransi Makanan
Tanggal: 28 Agu 2025 14:41 wib.
Perbedaan Alergi Makanan dan Intoleransi Makanan
Sering kali, orang-orang menyamakan alergi makanan dengan intoleransi makanan. Keduanya memang sama-sama bisa membuat tubuh bereaksi tidak nyaman setelah mengonsumsi makanan tertentu. Namun, meskipun gejalanya sekilas mirip, keduanya adalah kondisi yang sangat berbeda, baik dari segi penyebab, mekanisme, hingga tingkat bahayanya. Memahami perbedaan mendasar ini sangat penting untuk penanganan yang tepat dan menghindari risiko kesehatan yang tidak perlu.
Mekanisme Tubuh: Sistem Kekebalan vs. Sistem Pencernaan
Perbedaan paling krusial antara alergi dan intoleransi makanan terletak pada mekanisme tubuh yang terlibat. Alergi makanan adalah respons dari sistem kekebalan tubuh. Ketika seseorang dengan alergi mengonsumsi suatu makanan, tubuhnya keliru menganggap protein dalam makanan tersebut sebagai ancaman. Sebagai respons, sistem imun melepaskan berbagai zat kimia, termasuk histamin, yang memicu serangkaian gejala. Reaksi alergi bisa terjadi dalam hitungan menit hingga beberapa jam setelah mengonsumsi makanan pemicu, dan jumlah makanan yang sedikit pun sudah cukup untuk memicu respons ini.
Sebaliknya, intoleransi makanan adalah masalah pada sistem pencernaan. Ini terjadi ketika tubuh tidak mampu mencerna suatu zat dalam makanan dengan baik. Contoh klasik adalah intoleransi laktosa, di mana tubuh kekurangan enzim laktase untuk memecah gula laktosa yang ada dalam produk susu. Akibatnya, laktosa yang tidak tercerna akan berfermentasi di usus besar, menyebabkan gejala seperti kembung, diare, dan sakit perut. Intoleransi tidak melibatkan sistem kekebalan tubuh sama sekali. Gejala intoleransi biasanya muncul lebih lambat, bisa beberapa jam setelah makan, dan seringkali terkait dengan jumlah makanan yang dikonsumsi; semakin banyak makanan, semakin parah gejalanya.
Gejala dan Tingkat Bahaya yang Berbeda
Gejala alergi makanan bisa sangat bervariasi, mulai dari ringan hingga mengancam nyawa. Gejala ringan meliputi gatal-gatal, ruam merah (biduran), bengkak pada bibir, lidah, atau tenggorokan, dan sensasi gatal pada mulut. Gejala yang lebih parah bisa berupa kesulitan bernapas, mengi, pusing, hingga penurunan tekanan darah secara drastis yang dikenal sebagai anafilaksis. Kondisi anafilaksis ini adalah keadaan darurat medis yang bisa fatal jika tidak ditangani dengan cepat. Makanan pemicu alergi yang umum termasuk kacang-kacangan, susu sapi, telur, gandum, kedelai, dan seafood.
Sementara itu, gejala intoleransi makanan umumnya terbatas pada masalah pencernaan. Paling sering, gejala yang muncul adalah kembung, diare, sembelit, gas berlebihan, dan mual. Gejala-gejala ini memang sangat tidak nyaman, tetapi tidak mengancam jiwa. Intoleransi tidak akan menyebabkan anafilaksis, ruam, atau masalah pernapasan. Makanan yang sering memicu intoleransi meliputi laktosa (susu), gluten (gandum, jelai), kafein, dan zat tambahan makanan tertentu.
Diagnosis dan Penanganan yang Berbeda
Mendapatkan diagnosis yang tepat adalah kunci untuk mengelola kondisi ini. Untuk alergi makanan, dokter biasanya akan melakukan tes kulit (skin prick test) atau tes darah untuk mencari antibodi IgE yang spesifik terhadap makanan tertentu. Setelah alergi terkonfirmasi, penanganan utamanya adalah menghindari makanan pemicu sepenuhnya. Bagi penderita alergi berat yang berisiko anafilaksis, membawa epinephrine auto-injector (seperti EpiPen) sangat dianjurkan untuk berjaga-jaga jika terjadi reaksi darurat.
Sebaliknya, mendiagnosis intoleransi makanan seringkali lebih sulit karena tidak ada tes tunggal yang definitif. Dokter atau ahli gizi biasanya akan menyarankan diet eliminasi; yaitu mengeliminasi makanan yang dicurigai dari diet selama beberapa waktu, kemudian memperkenalkannya kembali sedikit demi sedikit untuk melihat reaksi tubuh. Penanganan intoleransi juga tidak harus menghindari makanan sepenuhnya; beberapa orang dengan intoleransi ringan masih bisa mengonsumsi makanan pemicu dalam jumlah kecil tanpa gejala yang parah.
Mengapa Sering Terjadi Salah Kaprah?
Salah kaprah ini sering terjadi karena beberapa alasan. Pertama, beberapa gejala seperti mual dan sakit perut bisa muncul pada kedua kondisi. Kedua, kurangnya edukasi publik tentang perbedaan mendasar antara respons imun dan respons pencernaan. Ketiga, istilah "alergi" sering digunakan secara longgar oleh masyarakat untuk menggambarkan reaksi negatif apa pun terhadap makanan, padahal sebenarnya itu adalah intoleransi. Contohnya, seseorang mungkin berkata "alergi susu" padahal yang dimaksud adalah intoleransi laktosa.
Mengetahui perbedaan ini adalah langkah pertama yang kuat. Jika seseorang mengalami reaksi yang parah seperti sesak napas setelah makan, itu adalah kondisi darurat dan harus segera mendapat bantuan medis, bukan hanya dianggap sebagai sakit perut biasa. Sebaliknya, jika gejalanya hanya kembung atau gas, mungkin itu hanya intoleransi yang bisa dikelola dengan membatasi konsumsi.