Penerapan Neurosains Dalam Pembelajaran Agar Hasil Optimal

Tanggal: 23 Okt 2021 13:12 wib.
Di era new normal ini selalu mengedepankan keterampilan agar mampu menghadapi berbagai tantangan di abad 21 serta era industri 4.0. Semua faktor tersebut mendorong siswa terampil agar dapat berpikir kritis serta kreatif, berkolaborasi atau membangun jejaring, dan berkomunikasi juga kemampuan terkait literasi teknologi. Oleh karena itu, kegiatan pembelajaran tidak hanya dituntut menguasai materi pelajaran, tetapi juga harus mampu dalam memilih dan menentukan berbagai strategi pembelajaran yang mampu mengintegrasikan teknologi dan pembelajaran. Adalah pembelajaran dengan berbasis neurosains menuntut tenaga pengajar untuk memiliki pengetahuan yang memadai dan terpadu dengan konten (materi) pelajaran yang diajarkan, beragam pendekatan pedagogi, dan teknologi yang akan digunakan.

Tenaga pengajar harus mampu melaksanakan pembelajaran secara inovatif dengan penguasaan materi yang benar dan memadai, serta pendekatan pedagogi dan teknologi yang tepat. Dengan menguasai pembelajaran inovatif yang berbasis neurosains diharapkan tenaga pengajar akan mampu mengantarkan peserta didik untuk memiliki kemampuan memecahkan masalah-masalah yang mereka hadapi secara kritis, kreatif, komunikatif dan kolaboratif sesuai prinsip-prinsip kerja otak. Dengan demikian, kualitas proses pembelajaran yang dilakukan tenagaa pengajar dapat ditingkatkan sesuai tuntutan perkembangan zaman. Untuk mendorong proses pembelajaran lebih optimal, Univeritas Muhammadiyah Prof Dr Hamka (Uhamka) mulai mendorong penerapan strategi pembelajaran berbasis neurosains. Hal ini merupakan salah satu cara upaya untuk meningkatkan kualitas pendidikan dengan terus berinovasi melalui strategi pembelajaran.                                                                             

Hal tersebut dilakukan agar tenaga pendidik sebagai tonggak dalam pendidikan di sekolah atau universitas bisa memahami prinsip pembelajaran dengan memadukan antara potensi anak, lingkungan serta perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Di mana semuanya itu berpangkal dari otak. Menurut Pusat Neurosains Uhamka menunjukkan bahwa pemahaman akan fungsi otak dapat membantu upaya dalam optimalisasi sistem pembelajaran baik di sekolah hingga universitas. Dan dengan ilmu neurosains tersebut menjadi dasar dari strategi pembelajaran baru sehingga mampu menyeimbangkan fungsi otak kanan dan juga kiri dalam proses pembelajaran.

Namun tentunya pada setiap tenaga pendidik memiliki cara tersendiri untuk dapat mengembangkan metode maupun strategi pembelajaran. Sayangnya kebanyakan metode yang diterapkan oleh tenaga pendidik pada saat menyampaikan pelajaran tidak diiringi dengan pemahaman akan cara kerja otak manusia. Misalnya dalam hal yang paling mudah yaitu terkait dengan waktu pembelajaran. Mata kuliah 1 sks memiliki waktu pembelajaran selama 50 menit. Dan biasanya proses pembelajaran ini umumnya diisi dengan ceramah atau penyampaian satu arah dari tenaga pendidik. Dengan begitu otak akan mengalami keletihan, tidak hanya pembicara saja tetapi juga audiens. Jika dilakukan hanya dalam waktu 20 menit pertama hasilnya akan benar-benar optimal.

Berdasarkan pada sebuah penelitian ditemukan bahwa waktu yang paling optimal bagi otak manusia untuk dapat fokus dalam menerima informasi adalah 20 menit saja. Apabila siswa atau mahasiswa dipaksa untuk terus mendengarkan selama 50 menit maka hal tersebut justru akan membuat hasil pembelajaran yang dicapai tidak optimal karena otak para siswa atau mahasiswa sudah lebih sulit untuk menangkap materi yang disampaikan. Untuk mengatasi hal tersebut maka diterapkan strategi pembelajaran yang berbasis neurosains di kelasnya  dengan memberikan jeda selama lima menit dalam setiap 20 menit selama proses pembelajaran. Dan di dalam tiap 20 menit tersebut hanya akan menyampaikan satu tema agar materi yang disampaikan dapat lebih mudah menyerap dan dipahami oleh mahasiswa. Penerapan neurosains di bidang pengajaran ini intinya adalah agar siswa dapat memahami apa yang disampaikan oleh tenaga pengajar. 



Dalam pembelajaran berbasis neurosains ini, peserta didik diberikan stimulus mengoptimalkan sistem syarafnya sehingga dapat optimal menggunakan otak dalam berbagai hal baik untuk memecahkan masalah maupun menemukan gagasan baru, kebaruan ide, kreativitas, dan inovasi dalam proses pembelajaran. Pembelajaran berbasis neurosains dapat membuat hubungan di antara proses kognitif yang terdapat di dalam otak dengan tingkah laku yang akan dihasilkan. Hal ini dapat diartikan bahwa setiap perintah yang diproses oleh otak akan mengaktifkan daerah-daerah penting otak sehingga aktivasi otak peserta didik meningkat dan penguasaan materi pembelajaran berhasil maksimal.
Copyright © Tampang.com
All rights reserved