Sumber foto: iStock

Penelitian Terbaru: Generasi Sekarang Kurang Cerdas Dibanding Generasi Sebelumnya, Apa Penyebabnya?

Tanggal: 25 Mar 2025 14:57 wib.
Dalam era modern ini, banyak penelitian menunjukkan bahwa daya pikir manusia mengalami penurunan yang signifikan. Penelitian terbaru dari sejumlah institusi mengungkapkan bahwa manusia kontemporer, terutama generasi muda, terlihat kurang cerdas dibandingkan dengan generasi sebelumnya.

Menurut laporan yang diterbitkan oleh Financial Times, hasil penelitian ini menunjukkan bahwa individu dari berbagai kelompok usia mengalami kesulitan dalam berkonsentrasi, serta mengalami penurunan dalam kemampuan penalaran, pemecahan masalah, dan pengolahan informasi. Semua aspek ini seharusnya menjadi ukuran dalam menilai kecerdasan seseorang.

Studi yang berjudul "Monitoring the Future" yang dilakukan oleh University of Michigan mencatat bahwa remaja dan dewasa muda di Amerika Serikat menghadapi masalah dalam mempertahankan konsentrasi. Penelitian ini juga melibatkan data dari Programme for International Student Assessment (PISA), yang mengukur kemampuan belajar anak-anak berusia 15 tahun di seluruh dunia. Hasil kajian menunjukkan bahwa pandemi Covid-19 memburuk keadaan, di mana proses belajar-mengajar terputus dan mengakibatkan penurunan tajam dalam kemampuan kognitif di kalangan para pelajar.

Namun, penurunan ini bukanlah fenomena yang baru. Data menunjukkan bahwa tren penurunan kecerdasan sudah mulai terlihat sejak pertengahan tahun 2010-an. Penelitian menunjukkan bahwa penurunan keterampilan kognitif telah berlangsung lebih lama daripada yang diperkirakan, dengan dampak yang lebih dalam dibandingkan dengan apa yang disebabkan oleh pandemi. Ada banyak faktor yang bisa menjelaskan fenomena ini, tetapi salah satu indikator yang paling mencolok adalah menurunnya minat baca di kalangan masyarakat.

Pada tahun 2022, sebuah laporan dari National Endowment for the Arts mencatat bahwa hanya 37,6 persen orang Amerika melaporkan telah membaca novel atau cerita pendek pada tahun sebelumnya. Angka tersebut menunjukkan penurunan dari 41,5 persen pada tahun 2017 dan bahkan 45,2 persen pada tahun 2012.

Penurunan minat baca ini mengindikasikan bahwa masyarakat kini lebih cenderung menghabiskan waktu dengan aktivitas di dunia maya, seperti scrolling di media sosial, dibandingkan dengan menyelami karya sastra yang dapat merangsang pikiran dan memperkaya pengetahuan.

Namun, kritik terhadap kebiasaan membaca ini tidak sepenuhnya adil. Penelitian yang dilakukan pada tahun 2023 oleh Organisasi untuk Kerja Sama Ekonomi dan Pembangunan (OECD) juga mengungkapkan bahwa 34 persen orang dewasa di Amerika Serikat memperoleh nilai terendah dalam kemampuan berhitung.

Angka tersebut meningkat dari 29 persen setahun sebelumnya. Hal ini menunjukkan bahwa masalah kognitif tidak hanya terbatas pada kemampuan membaca, tetapi juga mencakup kemampuan matematika dan analisis yang lebih mendasar.

Perubahan dalam cara manusia mengonsumsi informasi juga memainkan peran penting dalam fenomena ini. Dengan tanpa disadari, cara kita berinteraksi dengan informasi telah berubah drastis, dan ini berdampak pada kemampuan untuk berpikir kritis dan terlibat dengan materi yang kompleks.

Era digital telah menawarkan akses informasi yang jauh lebih cepat dan mudah, tetapi sering kali dengan biaya kualitas. Penelitian menunjukkan bahwa waktu yang terhabiskan di layar, atau "screen time", telah merusak kemampuan verbal anak-anak dan menyulitkan mahasiswa untuk berkonsentrasi dan menyimpan informasi yang mereka pelajari.

Satu yang menarik untuk dicatat adalah bahwa media yang kita gunakan untuk menerima informasi juga telah berkembang. Sering kali, informasi yang kita konsumsi bersifat dangkal dan tidak mendalam. Berita instan dan konten singkat yang dirancang untuk cepat ‘konsumsi’ memerlukan perhatian yang sekejap, tetapi kehilangan esensi dari analisis mendalam dan pemikiran kritis yang diperlukan untuk memahami isu-isu yang kompleks. Akibatnya, generasi muda menjadi terbiasa dengan informasi yang disajikan secara ringkas dan cepat, tanpa mempertimbangkan argumen yang lebih mendalam.

Dampak jangka panjang dari semua ini belum sepenuhnya dipahami. Namun, ada konsensus di antara para peneliti bahwa jika tren ini terus berlanjut, kita mungkin akan melihat perubahan signifikan dalam cara masyarakat bekerja, berinovasi, dan berinteraksi satu sama lain.

Kolaborasi, kreativitas, dan kemampuan untuk menganalisis masalah yang kompleks semakin menjadi tantangan. Untuk mengatasi semua ini, mungkin akan diperlukan upaya kolektif yang lebih besar dari individu, keluarga, dan masyarakat untuk kembali menggali arti penting keterampilan kognitif yang lebih dalam dan pendidikan yang berbasis risiko berpikir dan penalaran.

Penting untuk mencatat bahwa pengaruh lingkungan, pergeseran budaya, dan kondisi sosial-ekonomi juga berkontribusi pada penurunan kecerdasan ini. Pertumbuhan teknologi yang pesat telah mengubah pola interaksi kita dengan informasi dan pengetahuan. Sementara teknologi memberikan kemudahan, risiko kehilangan keterampilan kognitif yang mendalam menjadi semakin nyata. Dan dalam dunia yang terhubung ini, tantangan untuk mempertahankan kecerdasan dan keterampilan berpikir kritis akan menjadi kunci untuk navigasi yang produktif di masa depan.
Copyright © Tampang.com
All rights reserved