Peneliti Australia Blak-Blakan Ungkap Alasan Indonesia Terbelah Dua
Tanggal: 2 Agu 2024 22:07 wib.
Indonesia merupakan negara yang memiliki kekayaan flora dan fauna yang melimpah. Namun, dari segi penyebaran spesies, Indonesia terbagi menjadi dua zona yang berbeda. Hal ini tampak dari garis imajiner pemisah yang akrab disebut Garis Wallace. Garis Wallace ini memiliki peran penting dalam membagi wilayah Indonesia menjadi dua zona ekologi yang berbeda.
Garis Wallace dipetakan oleh seorang penjelajah dan peneliti bernama Alfred Wallace pada tahun 1863. Saat itu, Alfred Wallace tengah melakukan perjalanan yang meliputi beberapa wilayah termasuk Indonesia, Singapura, Filipina, dan Papua Nugini. Selama perjalanannya, Wallace menyadari adanya perbedaan spesies flora dan fauna pada tiap wilayah yang dilaluinya. Fenomena ini menjadi awal misteri yang tersimpan selama ratusan tahun.
Misteri tersebut terkait dengan kemampuan spesies flora dan fauna di Asia untuk menyeberangi garis Wallace ke bagian lainnya, namun hal ini tidak terjadi pada spesies yang berasal dari Australia. Para peneliti menemukan bahwa fenomena ini disebabkan oleh perubahan iklim ekstrem yang terjadi pada masa lalu, sekitar 35 juta tahun yang lalu.
Perubahan iklim tersebut terjadi akibat dari aktivitas tektonik yang memisahkan benua Australia dari Antartika dan menabrak benua Asia. Sebagai hasilnya, terbentuklah wilayah Nusantara yang merupakan gabungan dari bagian-bagian benua tersebut. Untuk menjelaskan dampak perubahan iklim akibat tumbukan tersebut, para peneliti menggunakan model komputer untuk memperhitungkan kemampuan penyebaran, preferensi ekologi, dan keterkaitan evolusi pada lebih dari 20 ribu spesies di kedua sisi garis Wallace.
Menurut Alex Skeels, seorang ahli biologi evolusi di Universitas Nasional Australia, "Ketika Australia menjauh dari Antartika, itu membuka area laut dalam yang mengelilingi Antartika yang sekarang menjadi tempat Arus Sirkumpolar Antartika (ACC) berada." Arus Sirkumpolar Antartika (ACC) merupakan arus laut terbesar di dunia yang memiliki peran penting dalam mengatur iklim global.
Model tersebut berhasil mengungkapkan bahwa perubahan iklim tidak berdampak pada semua spesies. Hal ini terutama terjadi akibat perbedaan musim di wilayah Indonesia dan Australia. Misalnya, iklim di Semenanjung Asia Tenggara dan Indonesia lebih hangat dan basah, sementara Australia memiliki musim dingin dan kering.
Perbedaan iklim tersebut mempengaruhi kemampuan adaptasi setiap makhluk hidup di wilayah tersebut. Spesies flora dan fauna di Asia mampu beradaptasi dengan iklim hangat dan basah di Indonesia, sehingga dapat menyeberangi garis Wallace dan bermigrasi ke zona Australia. Namun, hal ini tidak berlaku sebaliknya, spesies yang hidup di benua Australia jauh lebih sulit untuk beradaptasi dan menyeberangi garis Wallace.
Misteri terkait dengan kemampuan berpindahnya spesies dari satu zona ke zona lainnya di Indonesia menjadi topik studi yang menarik bagi para peneliti di bidang ekologi dan evolusi. Fenomena ini juga mempertegas peran penting Garis Wallace dalam membatasi penyebaran spesies di wilayah Indonesia. Dengan pemahaman yang lebih mendalam tentang faktor-faktor yang mempengaruhi penyebaran spesies, diharapkan dapat memberikan pandangan yang lebih komprehensif terkait ekosistem di Indonesia.
Kajian lebih lanjut tentang hubungan antara garis pemisah Wallace dengan faktor-faktor iklim, geologi, dan evolusi flora dan fauna di wilayah Indonesia menjadi krusial untuk lebih memahami dinamika ekologi di wilayah tersebut. Dari penelitian ini juga diharapkan dapat dihasilkan informasi yang lebih berguna dalam upaya konservasi dan pelestarian keanekaragaman hayati di Indonesia.