Mengapa Suhu Tubuh Bisa Naik di Malam Hari Saat Sakit?
Tanggal: 28 Agu 2025 14:26 wib.
Pengalaman demam di malam hari saat sedang sakit adalah hal yang sangat umum. Banyak orang merasa gejala demamnya memburuk setelah matahari terbenam, membuat malam terasa lebih panjang dan tidak nyaman. Sensasi panas yang merambat di tubuh, keringat dingin, atau menggigil adalah tanda-tanda yang familier. Fenomena ini bukan kebetulan belaka. Kenaikan suhu tubuh pada malam hari saat sakit sebenarnya merupakan respons biologis kompleks yang melibatkan ritme alami tubuh, sistem kekebalan, dan beberapa faktor eksternal.
Peran Ritme Sirkadian: Jam Biologis Tubuh
Tubuh manusia punya ritme sirkadian, yaitu siklus biologis alami yang berlangsung sekitar 24 jam dan diatur oleh cahaya dan kegelapan. Ritme ini memengaruhi banyak fungsi tubuh, termasuk suhu, hormon, dan siklus tidur-bangun. Suhu tubuh normalnya berada pada titik terendah saat kita tidur nyenyak di malam hari dan naik perlahan sepanjang hari. Saat kita sakit, ritme sirkadian ini berinteraksi dengan respons kekebalan tubuh.
Ketika infeksi atau peradangan terjadi, tubuh melepaskan zat kimia yang disebut sitokin. Sitokin ini berfungsi sebagai sinyal untuk mengaktifkan sistem kekebalan. Namun, beberapa sitokin juga memengaruhi pusat kontrol suhu di otak, yaitu hipotalamus. Hipotalamus kemudian meningkatkan suhu tubuh sebagai mekanisme pertahanan. Kenaikan suhu ini menciptakan lingkungan yang tidak ideal bagi patogen seperti virus atau bakteri, sehingga sistem kekebalan bisa bekerja lebih efektif.
Nah, di malam hari, saat ritme sirkadian kita secara alami menurunkan suhu tubuh, sistem kekebalan justru bekerja lebih keras untuk melawan infeksi. Interaksi antara respons kekebalan yang intens dan fluktuasi alami suhu tubuh inilah yang membuat demam terasa lebih tinggi. Alih-alih menurunkan suhu seperti biasanya, tubuh justru meningkatkan suhunya secara signifikan, menyebabkan demam terasa memburuk.
Sistem Kekebalan yang Bekerja Lebih Keras
Saat kita sakit, sistem kekebalan kita melakukan pertempuran besar-besaran di dalam tubuh. Banyak sel-sel kekebalan, seperti limfosit dan makrofag, menjadi sangat aktif untuk menyerang patogen. Sebagian besar aktivitas seluler ini terjadi selama kita beristirahat atau tidur. Saat tubuh tidak disibukkan dengan aktivitas fisik dan kognitif harian, ia punya energi dan sumber daya lebih banyak untuk fokus pada perbaikan dan penyembuhan.
Di malam hari, produksi sitokin pro-inflamasi (yang memicu demam) cenderung meningkat. Artinya, sinyal-sinyal untuk menaikkan suhu tubuh lebih kuat saat kita tidur. Ini adalah bagian dari strategi evolusioner tubuh untuk memaksimalkan respons imun saat kita berada dalam kondisi istirahat. Jadi, demam yang naik di malam hari adalah tanda bahwa sistem kekebalan kita sedang berada pada mode full-power untuk mengusir penyakit.
Selain itu, hormon juga memainkan peran. Kadar hormon kortisol, yang bertindak sebagai anti-inflamasi alami, biasanya berada pada puncaknya di pagi hari dan menurun di malam hari. Penurunan kortisol ini membuat respons peradangan (dan demam) menjadi lebih kuat dan tidak terkontrol di malam hari.
Faktor Eksternal yang Turut Berperan
Selain mekanisme internal, beberapa faktor eksternal juga bisa memperburuk sensasi demam di malam hari.
Suhu Ruangan: Selama tidur, kita mungkin memakai selimut tebal atau berada di ruangan yang pengap, yang bisa memerangkap panas dan membuat tubuh terasa semakin panas.
Kurangnya Pengalihan: Saat siang hari, kita cenderung sibuk dengan pekerjaan, tontonan, atau interaksi sosial, yang bisa mengalihkan perhatian dari rasa tidak nyaman akibat demam. Di malam hari, saat semua aktivitas berhenti dan kita hanya berbaring, kita jadi lebih fokus pada sensasi demam dan gejala lainnya, sehingga terasa lebih parah.
Dehidrasi: Seringkali, orang yang sakit kurang minum di malam hari. Dehidrasi bisa memengaruhi kemampuan tubuh untuk mengatur suhu dan bisa membuat demam terasa lebih intens.
Kapan Harus Khawatir?
Meskipun demam malam hari adalah respons normal, ada beberapa tanda yang perlu diwaspadai dan segera dikonsultasikan dengan dokter:
Suhu demam sangat tinggi (misalnya di atas 40°C) dan tidak turun dengan obat penurun panas.
Demam disertai gejala lain yang parah, seperti kebingungan, kesulitan bernapas, nyeri dada, atau kejang.
Demam yang berlangsung lebih dari 3 hari tanpa ada perbaikan.