Mengapa Kita Bisa Merinding Saat Mendengar Musik?
Tanggal: 28 Agu 2025 14:44 wib.
Pernahkah bulu kuduk berdiri, kulit terasa merinding, atau bahkan jantung berdebar kencang saat mendengarkan sebuah lagu? Sensasi ini, yang dalam bahasa ilmiah disebut frisson, adalah respons fisik misterius yang dialami banyak orang. Fenomena ini terasa begitu kuat, seolah-olah musik tidak hanya kita dengarkan, tetapi juga kita rasakan secara fisik. Sensasi ini bukan kebetulan; ini adalah hasil dari perpaduan rumit antara biologi otak, emosi, dan bagaimana kita memproses suara.
Reaksi Otak Terhadap Musik yang Intens
Frisson adalah respons dari sistem saraf otonom, bagian dari otak yang mengatur fungsi tubuh tanpa disadari, seperti detak jantung, pernapasan, dan suhu. Respons ini sama dengan saat kita merasa takut atau kedinginan, di mana otot-otik kecil di pangkal setiap rambut akan berkontraksi, menyebabkan rambut berdiri dan kulit terlihat bergelombang. Namun, dalam kasus frisson, pemicunya bukan ancaman fisik, melainkan rangsangan dari musik.
Para ilmuwan meyakini bahwa frisson terjadi ketika musik memicu pelepasan dopamin, sebuah neurotransmitter yang terkait dengan kesenangan, motivasi, dan ganjaran. Otak kita seolah-olah mengantisipasi "puncak" musik, seperti saat melodi mencapai klimaks, harmoni yang indah, atau perubahan tempo yang dramatis. Saat ekspektasi ini terpenuhi, otak meresponsnya dengan banjir dopamin, menciptakan sensasi yang terasa seperti euphoria atau kenikmatan yang kuat. Reaksi dopamin ini kemudian memicu respons fisik seperti merinding.
Peran Emosi dan Ingatan Pribadi
Merinding karena musik tidak hanya dipicu oleh struktur musik itu sendiri, tapi juga sangat bergantung pada keterikatan emosional pendengarnya. Seringkali, lagu yang memicu frisson adalah lagu yang punya kenangan kuat atau bermakna bagi seseorang. Mungkin itu lagu yang diputar di momen penting dalam hidup, atau lagu yang liriknya sangat relevan dengan pengalaman pribadi. Ketika mendengarkan lagu ini, otak tidak hanya memproses suara, tetapi juga menghidupkan kembali emosi dan ingatan yang terkait.
Emosi inilah yang memperkuat respons dopamin. Otak mengidentifikasi lagu sebagai sesuatu yang luar biasa berharga dan bermakna, lalu memberi "ganjaran" berupa sensasi merinding. Ini adalah bukti bahwa otak manusia tidak memisahkan musik dari konteksnya; ia memproses musik bersamaan dengan ingatan, perasaan, dan sejarah pribadi yang melekat padanya.
Struktur Musik yang Mengundang Frisson
Selain faktor emosional, struktur musik itu sendiri memainkan peran penting. Beberapa elemen musik cenderung lebih sering memicu frisson, yaitu:
Akord Tidak Terduga: Ketika sebuah lagu menggunakan akord atau harmoni yang tidak biasa, otak akan merasa terkejut dan tertarik. Perubahan tiba-tiba ini menciptakan ketegangan yang dilepaskan saat akord kembali ke resolusi, memicu respons fisik.
Perubahan Volume atau Dinamika: Transisi mendadak dari bagian yang sunyi ke bagian yang keras dan megah, seperti saat instrumen orkestra masuk bersamaan, bisa sangat memicu frisson. Otak mengantisipasi klimaks, dan saat terjadi, sensasinya terasa kuat.
Melodi yang Naik: Melodi yang bergerak dari nada rendah ke nada tinggi, seolah-olah "terbang", juga seringkali memicu sensasi merinding. Gerakan melodi ini secara naluriah terasa seperti pendakian emosional.
Tempo yang Berubah: Perubahan tempo yang tidak terduga, dari cepat ke lambat atau sebaliknya, juga bisa membuat otak bereaksi.
Kombinasi elemen-elemen ini sering ditemukan dalam musik klasik yang dramatis, musik soundtrack film, atau lagu pop dengan klimaks emosional yang kuat.
Psikologi Pendengar: Keterbukaan terhadap Pengalaman
Satu hal yang menarik, tidak semua orang mengalami frisson. Sejumlah penelitian menunjukkan bahwa orang-orang yang lebih terbuka terhadap pengalaman baru, cenderung lebih sering merinding saat mendengarkan musik. Keterbukaan ini adalah salah satu dari lima ciri kepribadian utama dan mencerminkan sejauh mana seseorang menikmati estetika, fantasi, dan emosi yang kuat.
Orang-orang dengan skor tinggi dalam keterbukaan terhadap pengalaman cenderung lebih mudah terhanyut oleh musik. Mereka memproses musik tidak hanya sebagai suara, tetapi sebagai sebuah pengalaman yang multidimensi. Mereka akan lebih memperhatikan detail, merasakan emosi yang terkandung, dan membiarkan diri mereka larut dalam lagu, yang pada akhirnya meningkatkan kemungkinan terjadinya frisson.