Sumber foto: Canva

Mengapa Anak-Anak Cenderung Lebih Cepat Menyerap Bahasa?

Tanggal: 28 Agu 2025 14:45 wib.
Sering kita dengar bahwa anak-anak itu seperti "spons" yang mampu menyerap informasi, terutama bahasa, dengan sangat cepat. Seorang anak kecil dari keluarga bilingual bisa beralih dari satu bahasa ke bahasa lain tanpa kesulitan, suatu hal yang sering membuat orang dewasa terkagum-kagum. Fenomena ini bukan kebetulan, melainkan hasil dari kombinasi unik antara faktor biologis, neurologis, dan lingkungan yang hanya terjadi di masa kanak-kanak. Kemampuan luar biasa ini punya alasan kuat yang menjadi subjek penelitian para ahli saraf dan linguistik selama beberapa dekade.

Jendela Emas Pembelajaran Otak

Salah satu alasan paling mendasar mengapa anak-anak unggul dalam belajar bahasa adalah plastisitas otak yang luar biasa di usia muda. Plastisitas mengacu pada kemampuan otak untuk beradaptasi, berubah, dan membentuk koneksi saraf baru. Pada masa kanak-kanak, terutama antara usia 0 hingga 7 tahun, otak berada dalam periode yang disebut "jendela kritis" atau "jendela emas" untuk belajar bahasa.

Di masa ini, otak masih sangat fleksibel dan efisien dalam menyerap pola-pola baru, termasuk aturan gramatikal, kosa kata, dan fonologi (bunyi-bunyian bahasa). Jalur saraf yang diperlukan untuk pemrosesan bahasa terbentuk dengan sangat cepat. Setelah melewati masa ini, plastisitas otak mulai berkurang. Meskipun orang dewasa masih bisa belajar bahasa baru, prosesnya menjadi lebih sulit, lebih lambat, dan cenderung membutuhkan usaha yang lebih besar untuk mencapai tingkat kefasihan yang sama seperti penutur asli.

Bagi anak kecil, pemrosesan bahasa baru tidak hanya melibatkan satu area otak. Otak mereka secara efektif menggunakan seluruh bagian otak yang tersedia untuk menguasai bahasa. Berbeda dengan orang dewasa yang cenderung mengandalkan area spesifik untuk bahasa, anak-anak membangun peta neurologis yang lebih luas, sehingga memungkinkan mereka untuk mengolah bahasa secara lebih intuitif dan alami.

Produksi Melodi dan Bunyi yang Belum Kaku

Aspek lain yang berkontribusi pada kemampuan ini adalah fleksibilitas organ vokal dan pendengaran anak-anak. Saat lahir, bayi memiliki kemampuan untuk membedakan semua bunyi vokal dan konsonan dari semua bahasa di dunia. Seiring bertambahnya usia dan terpapar bahasa tertentu (misalnya bahasa Indonesia), otak mereka akan "membuang" kemampuan untuk membedakan bunyi yang tidak relevan. Proses ini terjadi secara alami untuk mengoptimalkan pemahaman terhadap bahasa ibu mereka.

Ini menjelaskan mengapa seorang penutur bahasa Inggris sering kesulitan mengucapkan bunyi "r" yang bergetar seperti dalam bahasa Spanyol, atau sebaliknya. Mereka kehilangan kemampuan untuk membedakan dan menghasilkan bunyi tersebut karena otaknya sudah dilatih untuk tidak memperhatikannya sejak kecil. Anak-anak yang terpapar dua bahasa sejak dini, misalnya Indonesia dan Spanyol, akan mempertahankan kemampuan untuk membedakan dan menghasilkan kedua bunyi tersebut dengan mudah. Mereka tidak perlu "belajar" bunyinya dari awal, karena kemampuan itu sudah ada.

Selain itu, otot-otot mulut, lidah, dan tenggorokan anak masih sangat lentur dan belum kaku seperti orang dewasa. Mereka bisa meniru aksen dan intonasi dengan sempurna tanpa perlu latihan khusus. Inilah mengapa anak-anak bisa terdengar seperti penutur asli, sementara orang dewasa sering memiliki aksen yang kental.

Lingkungan Pembelajaran yang Sempurna

Faktor biologis dan neurologis tidak akan berfungsi tanpa lingkungan yang mendukung. Anak-anak belajar bahasa melalui interaksi yang intens dan konstan dengan orang tua, pengasuh, dan lingkungan sekitar. Mereka tidak belajar dari buku tata bahasa atau kelas formal, melainkan dari konteks sehari-hari.

Satu hal yang penting adalah frekuensi dan kualitas paparan. Anak-anak terus-menerus mendengar bahasa dalam percakapan yang alami dan penuh makna. Orang tua sering mengulang kata-kata, menggunakan intonasi berlebihan (seperti saat berbicara pada bayi), dan memberikan umpan balik langsung. Proses ini membuat pembelajaran menjadi interaktif dan personal.

Selain itu, minimnya hambatan psikologis juga punya andil besar. Anak-anak tidak takut membuat kesalahan atau merasa malu saat berbicara. Mereka tidak peduli jika kata-kata mereka salah atau susunan kalimatnya tidak sempurna. Keinginan mereka untuk berkomunikasi jauh lebih besar dari rasa takut akan kritik. Rasa takut ini sering menjadi penghalang utama bagi orang dewasa yang ingin belajar bahasa baru. Mereka cenderung khawatir tentang aksen atau kesalahan gramatikal, yang bisa memperlambat proses belajar.

Pembelajaran Secara Intuitif vs. Analitis

Anak-anak belajar bahasa secara intuitif. Mereka menginternalisasi aturan-aturan bahasa tanpa perlu mempelajarinya secara sadar. Mereka tidak tahu apa itu subjek, predikat, atau kata kerja, tapi mereka bisa menggunakannya dengan benar. Ini berbeda dengan orang dewasa yang cenderung belajar bahasa secara analitis. Mereka mencoba memahami aturan gramatikal, menghafal kosa kata, dan menerapkan logika.

Pendekatan intuitif ini memungkinkan anak untuk menyerap bahasa sebagai sebuah sistem yang utuh, bukan sebagai kumpulan bagian yang terpisah. Mereka bisa memahami makna secara keseluruhan dan membangun pemahaman dari konteks, yang jauh lebih efektif dan alami daripada menghafal.
Copyright © Tampang.com
All rights reserved