Kenapa Makanan Fermentasi Disebut Baik untuk Usus?
Tanggal: 28 Agu 2025 14:44 wib.
Kimchi di Korea, kefir di Rusia, hingga tempe di Indonesia, makanan-makanan ini dianggap sebagai kunci untuk menjaga kesehatan usus. Klaim ini bukan tanpa dasar. Proses fermentasi yang mengubah bahan baku menjadi produk baru ternyata menciptakan sebuah ekosistem mikro yang sangat menguntungkan bagi sistem pencernaan manusia.
Kekayaan Mikroorganisme Hidup: Pasukan Probiotik
Alasan utama mengapa makanan fermentasi begitu dielu-elukan adalah kandungan probiotik di dalamnya. Probiotik adalah mikroorganisme hidup, seperti bakteri dan ragi baik, yang secara alami terbentuk selama proses fermentasi. Proses ini terjadi ketika bakteri baik mengonsumsi gula dan karbohidrat yang ada dalam makanan dan mengubahnya menjadi asam laktat, alkohol, atau senyawa lain.
Saat kita mengonsumsi makanan fermentasi, miliaran bakteri baik ini masuk ke dalam sistem pencernaan kita. Mereka kemudian bergabung dengan triliunan bakteri yang sudah ada di usus, membentuk sebuah komunitas yang dikenal sebagai mikrobioma usus. Mikrobioma yang seimbang dan beragam sangat penting untuk kesehatan. Probiotik dari makanan fermentasi membantu menambah jumlah bakteri baik, menyeimbangkan populasi mikroba, dan mengusir bakteri jahat yang bisa menyebabkan masalah pencernaan.
Bayangkan usus kita adalah sebuah hutan. Bakteri baik adalah pohon-pohon yang sehat, sementara bakteri jahat adalah hama. Makanan fermentasi ibaratnya adalah pupuk yang menyuburkan dan menambah jumlah pohon, sehingga hutan kita menjadi lebih kuat dan tahan dari serangan hama.
Membantu Proses Pencernaan dan Penyerapan Nutrisi
Selain menjadi sumber probiotik, makanan fermentasi juga membantu proses pencernaan itu sendiri. Bakteri baik yang ada di makanan fermentasi sudah "memproses" sebagian zat gizi, membuatnya lebih mudah dicerna oleh tubuh kita. Contohnya, pada tempe, proses fermentasi kedelai oleh jamur Rhizopus oligosporus memecah protein kompleks menjadi asam amino yang lebih sederhana. Hal ini membuat nutrisi dalam tempe lebih mudah diserap oleh usus, tidak seperti kedelai yang tidak difermentasi.
Pada produk susu seperti yoghurt dan kefir, bakteri baik memecah laktosa (gula susu) menjadi asam laktat. Ini sebabnya banyak orang dengan intoleransi laktosa seringkali bisa mengonsumsi yoghurt atau kefir tanpa mengalami masalah pencernaan seperti kembung atau diare. Proses ini juga membuat nutrisi penting seperti vitamin B dan vitamin K lebih mudah disintesis atau diserap oleh tubuh. Makanan fermentasi berfungsi sebagai "pracetus" yang meringankan kerja sistem pencernaan kita.
Efek Positif pada Kekebalan Tubuh dan Kesehatan Menyeluruh
Kesehatan usus tidak hanya soal pencernaan. Usus sering disebut sebagai "otak kedua" karena memiliki peran yang sangat besar dalam sistem kekebalan tubuh. Sekitar 70-80% sel kekebalan tubuh berada di usus. Mikrobioma usus yang sehat dan seimbang dapat membantu sel-sel kekebalan tubuh mengenali dan melawan patogen (mikroorganisme penyebab penyakit) dengan lebih efektif.
Dengan kata lain, mengonsumsi makanan fermentasi secara teratur bisa memperkuat daya tahan tubuh. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa orang yang rutin mengonsumsi makanan kaya probiotik memiliki risiko lebih rendah terkena infeksi, termasuk pilek dan flu. Probiotik juga berperan dalam memproduksi asam lemak rantai pendek (short-chain fatty acids), seperti butirat, yang menjadi sumber energi utama bagi sel-sel usus dan membantu menjaga integritas dinding usus. Dinding usus yang sehat mencegah masuknya zat-zat berbahaya ke dalam aliran darah, sebuah kondisi yang sering dikaitkan dengan peradangan dan berbagai penyakit.
Manfaat Ganda dari Sumber Alami
Mengonsumsi makanan fermentasi menawarkan manfaat ganda yang berasal dari sumber alami, bukan suplemen buatan. Selain probiotik, makanan ini juga sering kaya akan nutrisi lain yang terbentuk selama fermentasi. Makanan seperti kimchi, misalnya, juga kaya akan vitamin C dan antioksidan dari sayuran aslinya. Kombinasi nutrisi alami dan probiotik hidup membuat makanan fermentasi menjadi pilihan yang lebih komprehensif daripada sekadar mengandalkan suplemen probiotik.
Namun, penting juga untuk memilih jenis makanan fermentasi yang tepat. Makanan fermentasi yang dipasteurisasi (dipanaskan) dalam proses pembuatannya seringkali kehilangan sebagian besar bakteri baiknya. Karena itu, pilihlah produk yang secara jelas dilabeli sebagai "hidup" atau "aktif" dan tidak melalui proses pasteurisasi setelah fermentasi.