Dari Busan untuk Dunia: Gelar Profesor Kehormatan Haikal Hasan dan Pengakuan Global atas Diplomasi Halal Indonesia
Tanggal: 19 Jun 2026 22:08 wib.
Busan, Korea Selatan — Kepala Badan Penyelenggara Jaminan Produk Halal (BPJPH), Ahmad Haikal Hasan, resmi menerima gelar Profesor Kehormatan atau Profesor Emeritus dari Silla University, Busan, Korea Selatan, pada pertengahan Juni 2026. Penganugerahan ini menjadi salah satu momentum penting dalam perjalanan diplomasi halal Indonesia di tingkat internasional.
Gelar tersebut diberikan sebagai bentuk pengakuan atas kontribusi Haikal Hasan dalam membangun, memperluas, dan memperkuat ekosistem halal, tidak hanya di Indonesia, tetapi juga dalam percakapan global mengenai standar, pendidikan, riset, dan jaminan produk halal.
Bagi Indonesia, penghargaan ini tidak sekadar menjadi pencapaian personal seorang pejabat negara. Lebih jauh, pengukuhan tersebut mencerminkan semakin kuatnya posisi Indonesia sebagai salah satu pusat pertumbuhan industri halal dunia. Di tengah meningkatnya kebutuhan global terhadap produk yang aman, higienis, terstandar, dan memiliki nilai kepercayaan tinggi, konsep halal kini tidak lagi hanya dipahami sebagai urusan keagamaan, melainkan juga sebagai bagian dari sistem mutu, etika konsumsi, dan gaya hidup global.
Ahmad Haikal Hasan, yang akrab disapa Babe Haikal, menerima penghormatan tersebut dalam rangkaian kegiatan akademik dan kerja sama internasional yang melibatkan Silla University dan BIC Halal Korea. Dalam kesempatan itu, isu halal dibahas bukan hanya sebagai regulasi teknis, tetapi sebagai ekosistem pengetahuan yang membutuhkan dukungan pendidikan tinggi, riset lintas negara, dan penguatan sumber daya manusia.
Pengakuan Akademik atas Peran Indonesia
Penganugerahan gelar Profesor Kehormatan dari Silla University menandai adanya pengakuan dari institusi akademik internasional terhadap peran Indonesia dalam pengembangan jaminan produk halal. Sebagai negara dengan populasi Muslim besar dan pasar halal yang terus berkembang, Indonesia memiliki kepentingan strategis untuk menjadi rujukan dalam tata kelola, sertifikasi, dan pengembangan industri halal dunia.
BPJPH sebagai lembaga yang bertanggung jawab dalam penyelenggaraan jaminan produk halal memiliki posisi penting dalam proses tersebut. Di bawah kepemimpinan Haikal Hasan, penguatan ekosistem halal tidak hanya diarahkan pada aspek administratif sertifikasi, tetapi juga pada pembentukan jejaring internasional, kolaborasi kelembagaan, dan peningkatan kapasitas sumber daya manusia.
Silla University menilai kontribusi Haikal Hasan dalam memperkuat pemahaman mengenai jaminan produk halal menjadi salah satu alasan utama pemberian gelar tersebut. Ia dipandang memiliki peran dalam mendorong halal sebagai konsep yang lebih luas, mencakup produk makanan, minuman, kosmetik, obat-obatan, jasa, hingga rantai pasok global.
Dalam konteks global, halal tidak lagi berdiri sendiri sebagai label keagamaan. Ia menjadi bagian dari standar kepercayaan konsumen. Produk halal dipandang harus melalui proses yang jelas, bahan baku yang dapat ditelusuri, serta mekanisme produksi yang memenuhi prinsip kebersihan, keamanan, dan kepatuhan terhadap ketentuan yang berlaku.
Halal sebagai Bahasa Universal
Dalam pidatonya saat menerima gelar tersebut, Haikal Hasan kembali menegaskan visi yang selama ini kerap ia sampaikan: “Halal is for all” atau halal adalah untuk semua.
Pernyataan itu menjadi inti dari pesan yang ingin dibawa Indonesia ke panggung internasional. Halal, menurut pandangan tersebut, tidak semata-mata diperuntukkan bagi umat Islam. Lebih dari itu, halal dapat dipahami sebagai standar universal yang menyentuh kebutuhan masyarakat luas terhadap produk yang aman, bersih, terpercaya, dan memiliki kepastian proses.
Gagasan “halal is for all” juga menunjukkan bahwa industri halal memiliki potensi untuk menjembatani pasar lintas agama, lintas negara, dan lintas budaya. Di banyak negara, produk halal kini diminati bukan hanya oleh konsumen Muslim, tetapi juga oleh masyarakat umum yang mencari jaminan kualitas, keamanan pangan, dan transparansi dalam proses produksi.
Di sinilah posisi Indonesia menjadi penting. Sebagai negara yang memiliki pengalaman panjang dalam pengaturan halal, Indonesia berpeluang memainkan peran sebagai penghubung antara kebutuhan pasar global dan standar jaminan produk halal yang kredibel.
Dari Sertifikasi Menuju Ekosistem
Selama ini, pembahasan mengenai halal sering kali dipersempit hanya pada proses sertifikasi. Padahal, ekosistem halal jauh lebih luas daripada sekadar penerbitan label pada kemasan produk.
Ekosistem halal mencakup pendidikan, riset, audit, pengawasan, laboratorium, rantai pasok, logistik, pemasaran, pelatihan SDM, hingga kerja sama antarnegara. Karena itu, pengembangan halal membutuhkan keterlibatan banyak pihak: pemerintah, perguruan tinggi, pelaku usaha, lembaga sertifikasi, komunitas, industri teknologi, dan mitra internasional.
Penganugerahan gelar Profesor Kehormatan kepada Haikal Hasan memperlihatkan bahwa isu halal telah memasuki ruang akademik global. Dengan masuknya halal ke dalam diskursus pendidikan tinggi, topik ini dapat dikaji secara lebih ilmiah, multidisipliner, dan berorientasi pada kebutuhan masa depan.
Perguruan tinggi dapat mengambil peran dalam menyiapkan tenaga ahli halal, peneliti, auditor, analis laboratorium, konsultan industri, serta pengembang sistem digital yang mendukung transparansi proses sertifikasi. Dalam jangka panjang, penguatan pendidikan halal dapat membantu menciptakan standar yang lebih baik dan mempercepat adaptasi industri terhadap kebutuhan pasar internasional.
Kolaborasi Silla University dan BIC Halal Korea
Salah satu agenda penting dalam rangkaian kegiatan tersebut adalah penandatanganan kerja sama antara Silla University dan BIC Halal Korea. Kolaborasi ini diarahkan untuk memperkuat pendidikan, riset bersama, serta pengembangan sertifikasi halal berstandar internasional.
Kerja sama semacam ini memiliki nilai strategis bagi Indonesia dan Korea Selatan. Bagi Korea Selatan, meningkatnya perhatian terhadap pasar halal membuka peluang besar bagi industri makanan, kosmetik, farmasi, pariwisata, dan produk gaya hidup untuk menjangkau konsumen global. Bagi Indonesia, kerja sama tersebut memperluas jejaring diplomasi halal dan memperkuat posisi sebagai negara yang aktif membangun standar halal dunia.
Melalui kolaborasi akademik dan kelembagaan, kedua pihak dapat mengembangkan program pelatihan, pertukaran pengetahuan, penelitian terapan, serta model sertifikasi yang mampu menjawab kebutuhan industri modern. Di era perdagangan global, produk tidak hanya dituntut berkualitas, tetapi juga harus memiliki kejelasan asal-usul bahan, proses produksi, distribusi, dan kepatuhan terhadap standar pasar tujuan.
Dengan demikian, kerja sama Silla University dan BIC Halal Korea tidak hanya bersifat simbolis. Ia dapat menjadi fondasi bagi lahirnya program konkret dalam penguatan industri halal lintas negara.
Indonesia di Tengah Persaingan Industri Halal Dunia
Industri halal global terus berkembang seiring meningkatnya kesadaran konsumen terhadap kualitas, keamanan, dan nilai etis sebuah produk. Banyak negara, termasuk negara dengan penduduk Muslim minoritas, mulai melihat halal sebagai peluang ekonomi strategis.
Korea Selatan, Jepang, Thailand, Australia, Brasil, hingga negara-negara Eropa semakin aktif mengembangkan layanan dan produk ramah halal. Hal ini menunjukkan bahwa halal tidak lagi hanya menjadi isu domestik negara-negara Muslim, melainkan bagian dari kompetisi global dalam merebut pasar konsumen Muslim dan konsumen umum yang semakin selektif.
Dalam persaingan tersebut, Indonesia tidak cukup hanya menjadi pasar. Indonesia perlu menjadi pemain utama, penyusun standar, pusat pengetahuan, sekaligus mitra strategis bagi negara lain. Pengakuan terhadap Kepala BPJPH oleh Silla University dapat dibaca sebagai sinyal bahwa peran Indonesia mulai dilihat lebih serius dalam percaturan halal dunia.
Namun, pengakuan internasional juga membawa tanggung jawab besar. Indonesia perlu memastikan bahwa sistem jaminan produk halal di dalam negeri terus diperkuat, dipermudah, transparan, dan mampu menjawab kebutuhan pelaku usaha, termasuk UMKM. Jika ekosistem nasional kuat, posisi Indonesia di tingkat global akan semakin kredibel.
Halal, Pendidikan, dan Sumber Daya Manusia
Salah satu poin penting dalam penganugerahan gelar tersebut adalah pengakuan atas kontribusi Haikal Hasan dalam pengembangan pendidikan dan penguatan kapasitas sumber daya manusia di bidang halal.
SDM menjadi faktor penentu dalam keberhasilan industri halal. Regulasi yang baik tidak akan berjalan optimal tanpa tenaga ahli yang memahami standar, proses audit, teknologi pangan, manajemen mutu, hukum, komunikasi publik, dan diplomasi internasional.
Karena itu, pendidikan halal perlu berkembang dari sekadar pelatihan teknis menjadi bidang kajian yang lebih luas. Perguruan tinggi dapat mengembangkan kurikulum halal yang menggabungkan ilmu agama, sains, teknologi, bisnis, hukum, komunikasi, dan hubungan internasional.
Di masa depan, kebutuhan terhadap ahli halal akan semakin besar. Industri membutuhkan auditor, konsultan, analis laboratorium, pengembang sistem digital, pengelola rantai pasok, hingga pakar pemasaran halal global. Negara yang mampu menyiapkan SDM unggul akan memiliki keunggulan kompetitif dalam industri halal dunia.
Diplomasi Halal sebagai Soft Power Indonesia
Penganugerahan gelar Profesor Kehormatan kepada Haikal Hasan juga dapat dilihat sebagai bagian dari diplomasi halal Indonesia. Dalam hubungan internasional, soft power tidak hanya dibangun melalui budaya populer, pariwisata, atau pendidikan, tetapi juga melalui standar, nilai, dan sistem kepercayaan yang diakui dunia.
Halal dapat menjadi salah satu instrumen soft power Indonesia. Melalui halal, Indonesia dapat memperkuat hubungan dengan negara lain, membuka peluang ekspor, meningkatkan kerja sama riset, serta memperkenalkan tata kelola produk yang berbasis pada kepercayaan dan kepastian proses.
Jika dikelola dengan baik, diplomasi halal dapat memberi dampak ekonomi yang luas. Produk Indonesia dapat lebih mudah masuk ke pasar global. Pelaku UMKM dapat naik kelas. Industri makanan, kosmetik, farmasi, fesyen, logistik, dan pariwisata dapat berkembang dengan standar yang lebih kompetitif.
Dalam konteks ini, penghargaan dari Silla University bukan hanya penghormatan akademik, tetapi juga momentum diplomatik. Ia memperlihatkan bahwa halal Indonesia memiliki daya tarik dan relevansi di luar batas nasional.
Tantangan Setelah Pengakuan
Meski menjadi kabar positif, pengakuan internasional ini juga perlu diikuti dengan pekerjaan besar di dalam negeri. Ekosistem halal Indonesia masih menghadapi sejumlah tantangan, mulai dari literasi pelaku usaha, percepatan sertifikasi, harmonisasi standar, digitalisasi layanan, hingga pengawasan produk di lapangan.
Bagi UMKM, proses sertifikasi halal harus dipahami sebagai peluang peningkatan daya saing, bukan semata beban administratif. Karena itu, edukasi publik menjadi penting. Pemerintah perlu memastikan bahwa informasi mengenai halal dapat dipahami dengan mudah oleh pelaku usaha kecil, konsumen, dan masyarakat umum.
Selain itu, pengembangan halal harus tetap inklusif. Visi “halal is for all” perlu diterjemahkan dalam kebijakan yang komunikatif, terbuka, dan mampu menjangkau masyarakat lintas latar belakang. Halal harus hadir sebagai standar yang memberi manfaat luas: meningkatkan kepercayaan konsumen, memperkuat kualitas produk, dan membuka akses pasar yang lebih besar.
Di sisi lain, kerja sama internasional juga harus menghasilkan manfaat nyata. Kolaborasi dengan kampus dan lembaga luar negeri perlu diarahkan pada program yang terukur, seperti pelatihan SDM, riset bersama, sertifikasi lintas negara, pengembangan laboratorium, dan peningkatan ekspor produk halal Indonesia.
Momentum Baru Industri Halal Nasional
Gelar Profesor Kehormatan dari Silla University kepada Ahmad Haikal Hasan menandai babak baru dalam pengakuan global terhadap peran Indonesia di sektor halal. Momentum ini dapat menjadi pintu masuk untuk memperluas jejaring internasional, memperkuat pendidikan halal, dan meningkatkan kepercayaan dunia terhadap sistem jaminan produk halal Indonesia.
Lebih dari sekadar penghargaan personal, peristiwa ini membawa pesan bahwa halal telah menjadi isu strategis global. Ia menyentuh ekonomi, pendidikan, diplomasi, riset, teknologi, dan perubahan perilaku konsumen dunia.
Ketika Haikal Hasan menegaskan bahwa “halal is for all”, pesan tersebut menggambarkan arah baru industri halal: lebih inklusif, lebih universal, dan lebih relevan dengan kebutuhan masyarakat modern.
Dari Busan, Korea Selatan, Indonesia kembali mengirimkan sinyal bahwa halal bukan hanya identitas, tetapi juga standar kualitas, jembatan kerja sama internasional, dan peluang besar bagi masa depan ekonomi global.
Pengakuan akademik dari Silla University menjadi simbol bahwa dunia semakin memperhatikan peran Indonesia. Tantangan berikutnya adalah memastikan bahwa pengakuan tersebut diterjemahkan menjadi langkah konkret: memperkuat sistem halal nasional, memperluas kolaborasi global, dan menjadikan Indonesia sebagai salah satu pusat utama ekosistem halal dunia.