Sumber foto: Canva

Benarkah Anak di Bawah 2 Tahun Jika Sakit Demam Jangan Langsung Diberi Obat?

Tanggal: 28 Agu 2025 14:00 wib.
Demam pada anak, terutama yang berusia di bawah dua tahun, seringkali membuat orang tua panik. Refleks pertama yang muncul adalah memberikan obat penurun panas. Ada saran yang kerap terdengar: jangan langsung buru-buru memberi obat. Benarkah demikian? Memahami demam dan cara kerjanya pada tubuh anak adalah kunci untuk mengambil keputusan yang tepat dan aman, tidak hanya berdasarkan rasa khawatir semata.

Memahami Demam sebagai Respons Tubuh, Bukan Musuh

Demam bukanlah penyakit, melainkan respons alami dan mekanisme pertahanan tubuh terhadap infeksi. Ketika virus, bakteri, atau kuman lain masuk, otak akan menaikkan suhu tubuh sebagai upaya untuk menciptakan lingkungan yang tidak nyaman bagi patogen tersebut. Dengan kata lain, demam adalah tanda bahwa sistem kekebalan tubuh anak sedang bekerja keras melawan penyakit.

Pada dasarnya, demam membantu tubuh anak melawan infeksi. Saat suhu tubuh meningkat, produksi sel darah putih dan antibodi juga ikut meningkat, mempercepat proses penyembuhan. Pemberian obat penurun panas, atau antipiretik, secara berlebihan atau terlalu cepat dapat menghambat proses alami ini. Oleh karena itu, para ahli kesehatan seringkali menyarankan untuk tidak langsung memberi obat jika demam masih tergolong ringan.

Kapan Pemberian Obat Penurun Panas Dibutuhkan

Keputusan untuk memberikan obat penurun panas harus didasarkan pada kondisi anak, bukan hanya pada angka di termometer. Demam yang ringan (sekitar 38°C - 38.5°C) biasanya tidak memerlukan obat jika anak masih aktif, mau bermain, dan bisa minum. Dalam kasus ini, tujuan utama orang tua adalah membuat anak merasa nyaman.

Namun, pemberian obat penurun panas sangat dianjurkan jika anak menunjukkan gejala-gejala berikut:


Suhu Sangat Tinggi: Demam mencapai 38.9°C atau lebih, terutama jika disertai gejala lain yang mengkhawatirkan.
Anak Terlihat Sangat Lemas dan Rewel: Jika demam membuat anak tidak nyaman, rewel, sulit tidur, atau kehilangan nafsu makan dan minum secara signifikan, obat bisa membantu meringankan gejalanya.
Memiliki Riwayat Kejang Demam: Anak dengan riwayat kejang demam (febrile seizure) memerlukan penanganan cepat untuk mencegah terulangnya kejang. Dokter biasanya akan merekomendasikan obat penurun panas segera setelah demam mulai terdeteksi.


Penting untuk diingat, jenis obat yang diberikan pada anak harus sesuai dengan anjuran dokter dan dosis yang tepat berdasarkan berat badan anak, bukan hanya usianya. Penggunaan obat yang tidak tepat bisa menyebabkan efek samping yang serius.

Perawatan Alternatif untuk Memberikan Kenyamanan

Selain obat, ada beberapa cara alami dan aman untuk membantu anak merasa lebih nyaman saat demam:


Kompres Hangat: Kompres air hangat pada dahi, ketiak, atau lipatan paha dapat membantu menurunkan suhu tubuh secara bertahap melalui penguapan. Hindari kompres air dingin atau alkohol karena bisa membuat anak menggigil.
Cairan yang Cukup: Pastikan anak minum banyak cairan, seperti air putih, ASI, atau sup bening, untuk mencegah dehidrasi. Dehidrasi dapat membuat demam lebih sulit turun.
Pakaian yang Tipis: Pakaikan anak pakaian yang longgar dan tipis agar panas tubuh bisa keluar. Hindari menyelimuti anak terlalu tebal karena justru bisa menjebak panas.
Istirahat Cukup: Dorong anak untuk banyak beristirahat. Istirahat adalah salah satu cara terbaik bagi tubuh untuk menyembuhkan diri.


Pentingnya Konsultasi dengan Tenaga Medis

Bagi orang tua, rasa khawatir saat anak demam itu wajar. Namun, penting untuk tidak mengambil keputusan sendiri tanpa informasi yang valid. Konsultasi dengan dokter adalah langkah paling bijak, terutama untuk anak di bawah dua tahun. Dokter akan memberikan diagnosis yang tepat, menyingkirkan kemungkinan penyakit serius, dan merekomendasikan penanganan yang aman dan efektif.

Orang tua juga perlu mengenali tanda-tanda bahaya yang memerlukan penanganan medis segera, seperti:


Demam lebih dari 39.5°C pada bayi di bawah 3 bulan.
Demam yang tidak turun selama lebih dari 2-3 hari.
Anak terlihat sangat sakit, lesu, dan tidak responsif.
Muncul ruam, sesak napas, atau gejala lain yang tidak biasa.
Copyright © Tampang.com
All rights reserved