Sumber foto: Canva

Asal Usul Simbol Merpati Putih sebagai Lambang Perdamaian

Tanggal: 29 Agu 2025 07:43 wib.
Di seluruh dunia, gambar seekor merpati putih sudah dikenal secara universal sebagai lambang perdamaian. Simbol ini begitu kuat, sering muncul dalam demonstrasi, karya seni, hingga logo-logo organisasi kemanusiaan. Namun, pernahkah terlintas di pikiran dari mana asal usulnya? Mengapa dari sekian banyak burung, justru merpati yang terpilih untuk mewakili gagasan luhur tentang perdamaian dan harmoni?

Merpati dalam Tradisi dan Mitologi Kuno

Narasi tentang merpati sebagai simbol perdamaian bermula jauh sebelum era modern. Dalam mitologi Yunani kuno, merpati adalah hewan suci yang dikaitkan dengan Aphrodite, dewi cinta, kecantikan, dan seksualitas. Kehadiran merpati di sisi Aphrodite melambangkan cinta yang lembut dan penuh kasih, yang secara tidak langsung juga merupakan elemen penting dari perdamaian. Konsep ini kemudian diadopsi oleh bangsa Romawi yang mengaitkan merpati dengan Venus, dewi mereka yang setara dengan Aphrodite. Bagi mereka, merpati sering digambarkan bersarang di dekat cangkir Venus, melambangkan harapan akan keharmonisan dalam rumah tangga.

Selain itu, beberapa tradisi di Timur Tengah juga menempatkan merpati dalam posisi yang dihormati. Misalnya, dalam mitologi Sumeria, merpati dikaitkan dengan Inanna/Ishtar, dewi yang berhubungan dengan kesuburan dan perang, namun juga digambarkan dengan merpati, yang bisa melambangkan aspek kehidupan dan rekonsiliasi. Hubungan dengan dewi kesuburan dan cinta ini secara perlahan menempatkan merpati dalam asosiasi positif yang melampaui konflik dan kekerasan.

Kisah Bahtera Nuh: Poin Paling Krusial

Titik balik terpenting yang benar-benar mengokohkan merpati sebagai simbol perdamaian berasal dari kisah Bahtera Nuh yang tercatat dalam kitab suci agama-agama Abrahamik, termasuk Yudaisme, Kristen, dan Islam. Menurut kisah tersebut, setelah banjir besar yang menghancurkan dunia, Nuh melepaskan burung gagak dan kemudian seekor merpati untuk mencari tahu apakah air sudah surut. Burung gagak kembali tanpa membawa apa-apa, menunjukkan bahwa daratan masih tertutup air. Namun, pada percobaan kedua, merpati kembali dengan membawa sehelai daun zaitun di paruhnya.

Daun zaitun ini menjadi bukti bahwa air sudah surut dan kehidupan bisa dimulai kembali di daratan. Bagi Nuh dan umat manusia, kedatangan merpati dengan daun zaitun itu adalah tanda harapan, keselamatan, dan akhir dari bencana. Ini adalah kabar baik yang menandakan perdamaian antara manusia dan alam. Sejak saat itu, merpati, khususnya yang berwarna putih, menjadi simbol kuat dari harapan dan datangnya masa damai setelah kekacauan dan konflik. Daun zaitun juga menjadi simbol tersendiri, kerap digabungkan dengan merpati untuk memperkuat makna tersebut.

Merpati dalam Simbolisme Kristiani

Dalam tradisi Kristen, merpati putih memiliki makna yang sangat sakral. Ia melambangkan Roh Kudus, kekuatan ilahi yang membawa kedamaian dan anugerah. Simbolisme ini terutama muncul dalam kisah pembaptisan Yesus. Diceritakan bahwa saat Yesus dibaptis, Roh Kudus turun dalam rupa seekor merpati dan hinggap di atasnya. Momen ini memperkuat asosiasi merpati dengan kedamaian, anugerah, dan keberadaan ilahi.

Dalam konteks ini, merpati tidak hanya melambangkan akhir dari bencana, tetapi juga kehadiran ketenangan spiritual dan kesucian. Gambaran merpati putih sering ditemukan dalam seni dan arsitektur gereja, menguatkan asosiasi antara perdamaian spiritual dan universal.

Merpati Modern dan Peran Pablo Picasso

Meskipun akar simbolismenya sudah sangat kuno, popularitas merpati putih sebagai simbol perdamaian global di era modern tidak lepas dari karya seorang seniman besar: Pablo Picasso. Pada tahun 1949, Picasso menggambar sebuah litograf sederhana dari seekor merpati untuk poster Kongres Perdamaian Dunia di Paris. Gambar itu dikenal sebagai La Colombe de la Paix atau The Dove of Peace. Merpati yang digambar Picasso sangat sederhana namun kuat, tanpa ranting zaitun, namun maknanya begitu jelas.

Beberapa bulan setelah kongres, anak perempuan Picasso lahir dan ia menamainya Paloma, yang berarti "merpati" dalam bahasa Spanyol. Penggunaan merpati oleh Picasso dan hubungannya dengan gerakan perdamaian pasca-Perang Dunia II menjadikan simbol ini dikenal luas di seluruh dunia, melampaui batas-batas budaya dan agama. Merpati putih yang digambar Picasso menjadi ikon pergerakan anti-perang dan advokasi perdamaian di seluruh dunia, jauh melampaui makna religius asalnya.
Copyright © Tampang.com
All rights reserved