Geger Industri EV China! Puluhan Merek Mobil Listrik Diprediksi Bangkrut di 2026, Akhir Era Mobil Elektrik Murah?
Tanggal: 4 Jan 2026 21:42 wib.
Industri kendaraan listrik di China yang sempat disebut sebagai pusat revolusi otomotif global sekarang menghadapi tantangan serius yang dapat mengguncang fondasinya. Menurut para analis otomotif, puluhan produsen mobil listrik China terancam bangkrut pada 2026, menyusul melemahnya permintaan domestik, perubahan kebijakan pemerintah, dan tantangan struktural lainnya. Tren ini menandakan bahwa gelombang ekspansi industri EV beberapa tahun terakhir kini memasuki fase seleksi alam, di mana perusahaan yang tidak mampu beradaptasi kemungkinan besar akan tersingkir.
Selama bertahun-tahun, China menjadi salah satu pusat pertumbuhan paling pesat untuk kendaraan listrik atau New Energy Vehicles (NEV). Memanfaatkan dukungan pemerintah berupa subsidi, diskon pajak, dan insentif fiskal, produsen EV China menyambut gelombang investor baru dan startup yang mencoba memperebutkan pangsa pasar yang luas. Namun, momentum ini mulai berubah seiring dengan perlambatan permintaan domestik dan penurunan insentif pemerintah.
Permintaan pasar domestik mulai melemah setelah mencapai puncaknya, karena konsumen tampak lebih berhati-hati dalam membeli kendaraan baru — sebuah fenomena yang belum pernah terjadi sejak pandemi COVID-19 pada 2020. Penurunan ini diperkirakan akan menjadi yang pertama sejak lima tahun terakhir, menandakan perlambatan tajam di pasar yang sebelumnya sangat dinamis. Banyak analis menilai hal ini sebagai salah satu penyebab utama mengapa puluhan merek EV kini berada dalam risiko serius untuk gulung tikar.
Salah satu indikator tekanan yang paling jelas adalah perubahan kebijakan fiskal yang selama ini menjadi pendorong utama pembelian kendaraan listrik. Pemerintah China telah mengurangi insentif pembebasan pajak pembelian yang sebelumnya mencapai 10 persen untuk kendaraan listrik. Mulai Januari 2026, pajak pembelian untuk EV akan dikenakan sebesar 5 persen, sebelum kembali ke tarif normal 10 persen pada 2028. Penurunan subsidi ini menjadi beban tambahan bagi produsen terutama yang sudah berjuang dengan margin keuntungan yang sangat tipis.
Penurunan insentif ini dipandang sebagai langkah pemerintah untuk mengurangi ketergantungan industri pada dukungan fiskal yang berkelanjutan. Namun, langkah ini juga memaksa konsumen untuk menanggung biaya lebih tinggi ketika membeli EV, sehingga permintaan diproyeksikan turun. Beberapa lembaga riset bahkan memprediksi bahwa total penjualan mobil secara keseluruhan di China termasuk kendaraan berbahan bakar bensin maupun listrik bisa turun sekitar 3 hingga 5 persen pada 2026.
Situasi ini menciptakan tekanan finansial besar pada perusahaan EV yang masih merugi. Tidak sedikit startup yang selama ini bertumpu pada suntikan modal investor untuk bertahan hidup. Kini mereka harus menghadapi realitas di mana pendapatan terus menurun, biaya produksi tetap tinggi, dan persaingan harga memaksa mereka untuk memangkas harga jual demi menarik pembeli. Hasilnya? Margin keuntungan yang sangat tipis atau bahkan negatif menjadi hal biasa di banyak lini produk.
Selain itu, kelebihan kapasitas produksi di China turut memperparah krisis ini. Lembaga keuangan dan data industri menunjukkan bahwa kapasitas produksi kendaraan listrik jauh lebih besar dibandingkan dengan permintaan pasar yang sedang melemah. Ketidakseimbangan ini menyebabkan banyak produsen harus menurunkan harga atau memperbesar diskon untuk menjaga volume penjualan, yang pada akhirnya memotong margin keuntungan mereka.
Persaingan yang semakin tajam juga menjadi faktor penting dalam fenomena "bertahan atau bangkrut" ini. Sebuah laporan independen menyebut bahwa dari ratusan merek EV yang ada di China, hanya sebagian kecil yang mungkin mampu bertahan dalam jangka panjang. Diperkirakan hanya sekitar 10 persen dari total merek yang dapat mencapai profitabilitas berkelanjutan, sementara sisanya bisa keluar dari pasar baik melalui kebangkrutan, penggabungan dengan merek yang lebih besar, atau pembelian oleh investor kuat.
Contoh perusahaan yang potensial bertahan adalah pabrikan besar yang memiliki basis produksi kuat dan pangsa pasar luas, seperti BYD, yang bahkan berhasil menyalip Tesla sebagai produsen EV terbesar di dunia. Namun, bagi ratusan produsen kecil dan menengah, keadaan ini jauh lebih sulit. Banyak dari mereka yang belum mencapai skala produksi yang efisien dan bergantung pada strategi harga agresif untuk menarik pembeli, yang kini tidak lagi cukup untuk menutup biaya produksi yang tinggi.
Akibatnya, industri EV China memasuki tahap konsolidasi besar-besaran. Para analis menyatakan bahwa hanya perusahaan yang benar-benar inovatif, yang mampu menghadirkan produk menarik dan efisien secara biaya, serta memiliki strategi ekspor global yang kuat, yang akan mampu bertahan di pasar yang semakin kompetitif.
Tren ini juga membuka peluang bagi pemain besar internasional untuk meninjau kembali strategi mereka di pasar China. Beberapa joint venture asing saat ini bahkan mungkin menghadapi tekanan serupa jika penjualan mereka berada di bawah ambang tertentu, yang bisa memicu restrukturisasi atau penarikan dari pasar.
Secara keseluruhan, apa yang sedang dialami industri kendaraan listrik China mencerminkan fase baru evolusi industri otomotif global. Setelah periode pertumbuhan cepat yang digerakkan oleh dukungan pemerintah dan investasi besar, kini tiba saatnya seleksi ketat. Perusahaan yang tidak adaptif mungkin akan hilang, sementara yang kuat akan memperkuat posisinya di pasar domestik dan global.