Sumber foto: Google

Efisiensi, Manchester United Hapus Jatah Makan Gratis Karyawan

Tanggal: 26 Feb 2025 20:26 wib.
Manchester United terus mencari celah untuk memangkas pengeluaran klub. Setelah sebelumnya melakukan Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) massal, kini kebijakan efisiensi juga berdampak pada karyawan yang masih bertahan. Salah satu langkah terbaru yang diambil manajemen Setan Merah adalah menghapus jatah makan siang gratis bagi staf klub.

Kebijakan ini memicu reaksi beragam di kalangan pekerja, terutama bagi mereka yang selama ini mengandalkan fasilitas tersebut. Sebelumnya, para staf di Old Trafford dan Carrington dapat menikmati makan siang gratis sebagai bagian dari tunjangan kerja. Namun, dengan adanya langkah pemotongan biaya ini, fasilitas tersebut resmi dihapus. Bahkan, kantin staf di kedua lokasi tersebut juga akan segera ditutup.

Meski demikian, jajaran pelatih dan pemain utama Manchester United tetap mendapatkan hidangan makan siang seperti biasa. Hal ini menunjukkan bahwa pemangkasan fasilitas ini hanya berlaku bagi karyawan non-pelatih dan non-pemain.

Manchester United memang tengah berupaya menyeimbangkan keuangan klub di tengah tekanan finansial. Langkah ini diambil sebagai bagian dari restrukturisasi yang lebih luas setelah pemilik klub, keluarga Glazer, sepakat untuk menjual sebagian saham kepada Sir Jim Ratcliffe. Perubahan manajemen ini membawa konsekuensi berupa pengetatan anggaran guna meningkatkan efisiensi operasional.

Selain menghapus jatah makan gratis, kebijakan pemangkasan lainnya juga telah diterapkan. Sebelumnya, klub telah melakukan PHK terhadap sejumlah staf sebagai bagian dari langkah perampingan organisasi. Bagi mereka yang masih bertahan, kebijakan ini menambah beban karena tunjangan yang selama ini mereka nikmati berkurang.

Keputusan ini memicu berbagai reaksi dari karyawan dan para penggemar. Beberapa staf menyayangkan langkah tersebut, mengingat jatah makan siang gratis menjadi salah satu bentuk apresiasi bagi kerja keras mereka dalam mendukung operasional klub. Banyak yang merasa keputusan ini kurang adil, terutama karena jajaran pelatih dan pemain masih tetap mendapatkan fasilitas yang sama.

Sementara itu, para penggemar juga memberikan tanggapan beragam. Beberapa mendukung langkah efisiensi ini dengan alasan bahwa klub perlu menata kembali keuangan mereka agar tetap kompetitif di level tertinggi. Namun, tidak sedikit yang mengkritik kebijakan ini sebagai bentuk pemotongan yang tidak berimbang, terutama mengingat Manchester United masih aktif melakukan belanja pemain dengan nilai fantastis di bursa transfer.

Kebijakan efisiensi yang dilakukan Manchester United menandakan bahwa klub masih dalam tahap transisi besar. Dengan masuknya investor baru, perubahan dalam struktur organisasi dan kebijakan keuangan tampaknya akan terus berlangsung. Namun, langkah-langkah pemangkasan seperti ini juga menimbulkan pertanyaan tentang bagaimana manajemen memperlakukan para staf yang selama ini bekerja keras di balik layar.

Bagi karyawan yang terdampak, keputusan ini menjadi tantangan baru dalam menjalani kehidupan kerja di klub yang selama ini mereka cintai. Sementara itu, bagi manajemen, kebijakan ini diharapkan dapat membantu stabilisasi keuangan dan membawa Manchester United kembali ke jalur kesuksesan di dalam maupun di luar lapangan.
Copyright © Tampang.com
All rights reserved