Simposium “WASM” Dorong Warisan Budaya Jadi Panduan Masa Depan

Tanggal: 28 Agu 2025 14:14 wib.
Kementerian Kebudayaan menggelar simposium internasional “We Are Site Managers” (WASM) edisi kedua di Kota Sawahlunto, Sumatra Barat, dengan tujuan menekankan pentingnya warisan budaya tidak sekadar sebagai memori masa lalu, tetapi juga sebagai panduan untuk pembangunan masa depan yang berkelanjutan.

Menteri Kebudayaan Fadli Zon menekankan bahwa warisan budaya merupakan pijakan penting bagi pembangunan yang berakar pada nilai, sejarah, dan identitas. “Setiap pusaka, termasuk Warisan Tambang Batubara Ombilin yang menjadi tuan rumah simposium ini, memiliki perjalanan dan transformasi panjang. Warisan budaya bukan kenangan yang diam, melainkan cermin peradaban yang terus bergerak dan berkembang,” ujarnya.

Simposium berlangsung 23–28 Agustus 2025, menggunakan Warisan Tambang Batu Bara Ombilin, situs Warisan Dunia UNESCO, sebagai studi kasus utama dan laboratorium hidup. Menbud menegaskan peran pengelola situs sebagai penjaga sekaligus pemikir, yang mengubah situs dari sekadar objek swafoto menjadi ruang refleksi, tempat generasi muda belajar, bertanya, dan terinspirasi oleh perjuangan leluhur.

Fadli Zon menyoroti tantangan modern dalam pelestarian budaya, termasuk globalisasi yang menyeragamkan budaya dan risiko hilangnya kesadaran sejarah sendiri. Menurutnya, pemerintah menempatkan kebudayaan sebagai fondasi pembangunan nasional, sekaligus sebagai elemen penting dalam Agenda Pembangunan Pasca-2030. “Indonesia ingin menjadi poros peradaban dunia, membaca ulang nilai-nilai luhur masa lalu untuk menavigasi masa depan,” tegasnya.

Rangkaian simposium diawali dengan jamuan di Istana Gubernur Sumatra Barat, dilanjutkan kunjungan ke sejumlah situs budaya, termasuk Stasiun Kayu Tanam, Stasiun Padangpanjang, dan Perkampungan Tradisional Minangkabau Padang Ranah Tanah Bato. Fokus utama berlangsung di Area A Warisan Tambang Batu Bara Ombilin, meliputi situs pertambangan dan kota tambang di Sawahlunto.

Puncak kegiatan adalah peluncuran “Dokumen Sawahlunto”, panduan aksi strategis bagi pengelolaan warisan budaya yang praktis dan adaptif, diharapkan juga menginspirasi komunitas warisan global. Peserta mengikuti sesi panel yang membahas isu pelestarian warisan industrial, keterlibatan masyarakat, identitas, interpretasi, dan manajemen risiko bencana, serta melakukan kunjungan lapangan, termasuk perjalanan nostalgia dengan lokomotif tua dan eksplorasi museum serta kota tambang.

Simposium dihadiri peserta dan pembicara dari berbagai negara, termasuk perwakilan UNESCO, ICOMOS Indonesia, serta pengelola situs dari Arab Saudi, Tiongkok, Malaysia, Singapura, Thailand, Taiwan, Korea Selatan, Jepang, Australia, Islandia, Inggris, Belanda, dan Indonesia.

Menbud Fadli Zon mengajak semua pihak menjadikan forum ini sebagai ruang diskusi terbuka, pertukaran best practices, dan jejaring untuk kolaborasi konkret dan berkelanjutan.

Sementara itu, Wali Kota Sawahlunto Riyanda Putra menyampaikan apresiasi karena kota kecilnya dipercaya menjadi tuan rumah simposium. “Sejarah kota kami adalah kisah kemanusiaan, kemajuan teknologi, dan perubahan budaya. Warisan para pekerja tambang, ‘orang rantai’, masih hidup dalam solidaritas dan nilai-nilai budaya kami hingga kini,” ujarnya.
Copyright © Tampang.com
All rights reserved