Siements ‘Mengamuk’ di Kancah Musik: EP House of Vultures Resmi Rilis, Lahirkan Era Baru Rock Alternatif yang Lebih Gelap & Liar!
Tanggal: 29 Nov 2025 10:20 wib.
Jakarta — Kancah musik rock alternatif kembali bergetar. Grup band Siements akhirnya merilis EP terbaru mereka berjudul House of Vultures, sebuah proyek ambisius yang langsung menyita perhatian karena menghadirkan warna baru yang lebih agresif, eksperimental, dan gelap dibanding karya-karya mereka sebelumnya. Dengan atmosfer suram, lirik tajam, dan aransemen yang jauh lebih kompleks, EP ini dinilai sebagai titik balik penting dalam evolusi musikal band tersebut.
Kehadiran House of Vultures bukan hanya sekadar rilisan baru tetapi pernyataan sikap yang menunjukkan bahwa Siements siap keluar dari zona nyaman dan masuk ke ranah rock alternatif modern yang jauh lebih berani.
Warna Musik Baru: Gelap, Distorsi Pekat, dan Nuansa Post-Alternative
Dalam perilisan resminya, Siements menjelaskan bahwa EP ini terinspirasi dari perkembangan rock alternatif generasi baru yang didominasi sound gritty, bass dalam, dan layering elektronik yang subtil. Namun mereka tidak meniru melainkan mengembangkan.
Setiap lagu dalam EP ini dikatakan membawa elemen baru:
Vokal yang lebih mentah dan emosional
Penyanyi utama mengadopsi gaya vokal yang lebih serak, penuh tekanan, dan ekspresif.
Gitar dengan distorsi padat dan noise-texture
Riff-riff mereka kini lebih tajam, ritmis, dan mengandung karakter “industrial” yang sebelumnya jarang mereka gunakan.
Eksperimen elektronik
Beberapa bagian menggabungkan synth gelap, ambience urban, dan efek glitch yang membuat atmosfernya terasa lebih modern dan misterius.
Pendekatan musikal ini membuat House of Vultures terdengar jauh berbeda dibanding album-album Siements sebelumnya yang cenderung lebih clean dan bernuansa rock alternatif klasik.
Makna ‘House of Vultures’: Dunia Penuh Parasit Sosial
EP ini tidak hanya fokus pada musik tetapi juga menyuguhkan narasi tematik yang kuat.
Judul House of Vultures (Rumah Para Burung Nazar) menjadi metafora untuk:
individu atau sistem yang mengambil keuntungan dari orang lain,
lingkungan sosial beracun,
serta dinamika kekuasaan yang tidak sehat.
Siements menyampaikan bahwa EP ini lahir dari kelelahan melihat dinamika sosial yang semakin mengikis empati. Menurut mereka, “vultures” di sini bukan makhluk pemakan bangkai, melainkan simbol manusia yang memanfaatkan kelemahan orang lain.
Lirik-liriknya mengangkat isu:
manipulasi sosial,
eksploitasi kreativitas,
ambisi tanpa moral,
hingga tekanan mental di era digital.
Meski gelap, Siements mengaku ingin menggambarkan bahwa dari kehancuran pun selalu ada ruang untuk bangkit.
Respons Penggemar: Kejutan Besar, Tapi Diterima Histeris
Tak butuh waktu lama sejak rilis, House of Vultures langsung menjadi perbincangan hangat di komunitas rock tanah air. Platform streaming mencatat peningkatan signifikan dalam pemutaran lagu-lagu Siements, terutama di kalangan pendengar usia muda yang menggemari rock eksperimental dan alternatif modern.
Beberapa tanggapan awal di media sosial menyebutkan bahwa:
EP ini adalah karya paling matang Siements hingga saat ini,
keberanian mengeksplorasi sound gelap membuat mereka naik level,
serta adanya potensi besar untuk menembus pasar internasional.
Penggemar lama sempat terkejut dengan perubahan drastis ini, namun mayoritas menyambut positif karena melihat sisi lain dari karakter musikal Siements.
Proses Kreatif yang Intens dan Berbeda
Dalam wawancara singkat, para personel Siements mengungkap bahwa proses pembuatan EP ini jauh lebih melelahkan dibanding produksi sebelumnya. Mereka melakukan eksplorasi suara berbulan-bulan, mengundang produser tamu, dan melakukan rekaman di beberapa studio berbeda demi mendapatkan atmosfer yang diinginkan.
Band mengakui bahwa EP ini merupakan refleksi emosi yang termampat selama beberapa tahun terakhir—mulai dari tekanan pandemi, dinamika sosial, hingga pergolakan internal band.
“Ini bukan cuma EP. Ini purging. Ini pelepasan energi yang menumpuk terlalu lama.” ujar salah satu personel.
Rencana Ke Depan: Tur Mini dan Video Musik Sinematik
Untuk mendukung rilis House of Vultures, Siements telah menyiapkan sejumlah agenda:
Peluncuran video musik bergaya sinematik, mengusung konsep neo-gothic.
Tur mini di beberapa kota besar, dengan konsep panggung yang lebih teatrikal dan intens.
Kolaborasi dengan musisi alternatif lokal, termasuk remix elektronik untuk beberapa track dalam EP.
Semua ini dirancang untuk memperkuat identitas baru Siements sebagai band rock alternatif yang berani bereksperimen.
Siements Lahir Kembali Lewat House of Vultures
Dengan EP House of Vultures, Siements tidak sekadar merilis karya baru—mereka memperbarui DNA musikalnya. Sound yang lebih gelap dan modern, tema lirik penuh kritik sosial, serta keberanian meninggalkan gaya lama membuktikan bahwa band ini telah memasuki fase baru.
Bagi penggemar rock alternatif yang haus sesuatu yang liar, emosional, dan memiliki kedalaman artistik, House of Vultures hadir sebagai karya yang layak diputar berulang-ulang.