Rekor Suhu Terpanas 2024, Permintaan Listrik Melonjak Tajam
Tanggal: 26 Mar 2025 13:46 wib.
Tampang.com | Suhu bumi yang mencapai rekor tertinggi pada tahun 2024 menyebabkan permintaan listrik meningkat drastis. Hal ini terungkap dalam laporan terbaru Global Energy Review 2025 dari International Energy Agency (IEA).
2024: Tahun Terpanas dalam Sejarah
Berdasarkan konfirmasi World Meteorological Organization (WMO), tahun 2024 menjadi tahun terpanas dalam sejarah pencatatan suhu selama 175 tahun terakhir.
Dalam laporan State of the Global Climate 2024, WMO mencatat bahwa suhu rata-rata global naik 1,55 derajat Celsius di atas tingkat pra-industri. Kondisi ini menyebabkan berbagai wilayah mengalami gelombang panas ekstrem, yang berdampak langsung pada meningkatnya kebutuhan energi listrik.
Lonjakan Permintaan Listrik
Seiring dengan meningkatnya suhu global, kebutuhan listrik juga melonjak pesat, terutama akibat meningkatnya penggunaan pendingin ruangan (AC) di berbagai negara. Namun, tidak hanya itu, pertumbuhan industri, elektrifikasi transportasi, serta berkembangnya pusat data dan kecerdasan buatan (AI) juga turut mendorong konsumsi listrik.
Menurut laporan IEA, permintaan energi global meningkat 2,2 persen pada 2024, hampir dua kali lipat dibandingkan rata-rata pertumbuhan tahunan 1,3 persen dalam periode 2013-2023.
Direktur Eksekutif IEA, Fatih Birol, menyatakan bahwa peningkatan konsumsi listrik membalikkan tren penurunan konsumsi energi di negara-negara maju dalam beberapa tahun terakhir.
Peningkatan Emisi Akibat Konsumsi Listrik
Lonjakan permintaan listrik menyebabkan kenaikan konsumsi bahan bakar fosil, terutama batu bara untuk Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) di negara-negara seperti China dan India. Hal ini memicu peningkatan emisi karbon dioksida (CO) sebesar 0,8 persen, dengan total emisi tahunan mencapai 37,8 miliar ton.
Namun, laporan IEA juga mencatat bahwa pertumbuhan pesat sumber energi bersih berhasil mengurangi dampak lonjakan emisi yang lebih besar. Sejak 2019, implementasi energi surya, angin, nuklir, dan pompa panas telah mencegah pelepasan 2,6 miliar ton CO per tahun.
Energi Terbarukan Semakin Mendominasi
Salah satu kabar baik dari laporan IEA adalah kapasitas energi terbarukan yang terus meningkat. Pada 2024, kapasitas pembangkit listrik dari sumber energi bersih yang terpasang secara global mencapai 700 gigawatt (GW).
Hal ini menunjukkan bahwa meskipun permintaan listrik melonjak akibat suhu tinggi, penggunaan energi bersih terus berkembang, membantu menekan peningkatan emisi dari sektor kelistrikan.
Dengan tren ini, diharapkan transisi ke energi terbarukan dapat terus berlanjut untuk mengurangi dampak perubahan iklim di masa depan.