Program MBG Kembali Aktif, Harga Telur dan Ayam di Tingkat Peternak Mulai Merangkak Naik

Tanggal: 9 Agu 2026 22:17 wib.
Geliat Ekonomi Peternak Pasca Libur Panjang

Dinamika pasar komoditas pangan, khususnya unggas, kembali menunjukkan tren yang positif. Harga ayam hidup dan telur ayam ras di tingkat peternak mulai berangsur pulih setelah sebelumnya sempat tertekan cukup dalam. Pelemahan harga tersebut dipicu oleh menurunnya permintaan masyarakat selama masa libur sekolah yang bertepatan dengan periode bulan Suro dalam penanggalan Jawa.

Bagi para pelaku usaha di sektor peternakan, pergerakan harga ini merupakan angin segar. Beroperasinya kembali Program Makan Bergizi Gratis (MBG) dinilai menjadi salah satu motor penggerak utama yang mendorong peningkatan permintaan unggas secara signifikan di pasaran. Fenomena fluktuasi harga pangan ini menjadi indikator penting dalam melihat stabilitas ekonomi riil, mengingat dampaknya yang langsung menyentuh hajat hidup masyarakat luas dan kesejahteraan peternak rakyat.

Analisis Kondisi Pasar: Kesaksian dari Peternak Rakyat

Parjuni, selaku Anggota Gabungan Peternak Rakyat Solo Raya, mengonfirmasi bahwa anjloknya harga dalam beberapa pekan terakhir dipicu oleh kombinasi penurunan konsumsi masyarakat pada bulan Suro di wilayah Jawa, serta berhentinya sementara operasional dapur MBG selama masa libur sekolah.

"Memang mungkin karena kemarin momen di bulan Juni yaitu Suro, kalau di Jawa kan sedikit turun, ditambah mungkin program MBG off kemarin. Jadi itu juga menjadikan demand (permintaan) dari masyarakat itu turun," jelas Parjuni.

Namun, kondisi pasar kini mulai membaik setelah aktivitas sekolah kembali normal. Dampaknya langsung terasa pada pergerakan harga di lapangan. Harga telur di tingkat peternak yang sebelumnya sempat terperosok ke kisaran Rp17.000 hingga Rp18.000 per kilogram, kini perlahan terkerek naik menjadi sekitar Rp20.000 hingga Rp21.000 per kilogram. Meskipun perlahan pulih, angka tersebut dinilai masih berada di bawah Harga Acuan Pembelian (HAP) ideal yang ditetapkan oleh pemerintah agar peternak tidak merugi.

Oleh karena itu, para peternak menaruh harapan besar agar pemerintah dapat mempertahankan dan memperluas program-program serapan pangan yang melibatkan peternak rakyat guna menjaga stabilisasi harga di tingkat produsen.

Respon Bapanas dan Peningkatan Harga Secara Nasional

Di sisi pemerintahan, Badan Pangan Nasional (Bapanas) terus memantau pergerakan harga unggas secara ketat. Sebelumnya, Bapanas telah menugaskan ID FOOD untuk menyalurkan bantuan kepada sekitar 1,4 juta keluarga berisiko stunting, berupa satu kilogram daging ayam dan 10 butir telur setiap bulan. Terkait kelanjutan program intervensi tersebut, Deputi Ketersediaan dan Stabilisasi Pangan Bapanas, I Gusti Ketut Astawa, menyatakan bahwa pelaksanaannya masih menunggu keputusan Rapat Koordinasi Terbatas (Rakortas).

Ketut Astawa memastikan bahwa tren kenaikan harga ayam dan telur di tingkat peternak saat ini merupakan siklus wajar akibat normalnya kembali permintaan dari program MBG. "Tolong biarkan dulu peternak kita menikmati, sehingga mencapai harga acuan yang kita tetapkan," tuturnya.

Berdasarkan data Bapanas per pertengahan Juli 2026, rata-rata harga ayam broiler hidup di tingkat peternak telah mencapai Rp22.032 per kilogram. Angka ini menunjukkan peningkatan sebesar 5,53% dibandingkan sepekan sebelumnya yang berada di angka Rp20.878 per kilogram. Kendati demikian, terdapat disparitas harga antarwilayah terkait kendala distribusi dan logistik. Harga terendah tercatat di Sumatra Selatan sebesar Rp19.500 per kilogram, sedangkan harga tertinggi di Riau mencapai Rp26.000 per kilogram.

Sementara itu, harga telur ayam ras di tingkat peternak juga mengalami kenaikan 2,2% menjadi rata-rata Rp22.989 per kilogram dari sebelumnya Rp22.495 per kilogram. Di beberapa daerah seperti Sulawesi Utara, harganya bahkan melampaui HAP dengan menembus Rp27.067 per kilogram, sedangkan di Banten masih stabil di kisaran Rp21.250 per kilogram.

Dampak Signifikan Dapur SPPG Terhadap Ekonomi Lokal

Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementerian Pertanian, Agung Suganda, menegaskan bahwa harga daging ayam ras maupun telur di tingkat konsumen secara rata-rata masih berada di bawah harga acuan, sehingga ruang pemulihan harga yang wajar bagi peternak masih sangat terbuka. Ia menyoroti bahwa kembali beroperasinya dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) merupakan faktor kunci yang menjamin kepastian penyerapan hasil ternak rakyat.

"Untuk ayam di tingkat peternak harganya alhamdulillah per hari ini sudah Rp22.000 dan sesuai dengan target kita. Kemudian kalau telur tadi masih sekitar Rp22.000 juga," ungkap Agung.

Keberlanjutan program MBG terbukti tidak hanya sekadar menyediakan pemenuhan gizi bagi siswa, tetapi juga menciptakan ekosistem pasar yang berkelanjutan bagi peternak lokal. Menurut Agung, satu fasilitas dapur SPPG saja membutuhkan pasokan hingga 1,86 ton telur per bulan secara rutin.

"Ini tentu mendorong ekonomi rakyat," pungkasnya. Kebijakan makro yang memastikan adanya permintaan institusional berskala besar seperti ini diharapkan dapat terus berjalan guna menjaga ketahanan pangan nasional dan melindungi roda perekonomian di tingkat akar rumput.

 
Copyright © Tampang.com
All rights reserved