PAPDI Tegaskan Vaksin HPV Aman dan Tidak Ganggu Kesuburan

Tanggal: 29 Agu 2025 07:43 wib.
Perhimpunan Dokter Spesialis Penyakit Dalam Indonesia (PAPDI) kembali menekankan pentingnya meluruskan informasi terkait vaksin Human Papillomavirus (HPV). Salah satu isu yang kerap beredar di masyarakat adalah anggapan bahwa vaksin HPV dapat membuat rahim menjadi kering, menyebabkan kemandulan, atau menimbulkan masalah kesuburan pada penerimanya. PAPDI dengan tegas menyatakan bahwa kabar tersebut adalah hoaks dan tidak didukung bukti ilmiah.

Anggota Bidang Kerja Sama dan Humas PAPDI, dr. Anshari Saifuddin Hasibuan, Sp.PD, K-AI, menegaskan bahwa sejauh ini tidak ada satu pun data penelitian yang menunjukkan keterkaitan vaksin HPV dengan gangguan fungsi reproduksi. Menurutnya, klaim yang beredar hanya didasari spekulasi tanpa dasar ilmiah yang jelas. Oleh karena itu, masyarakat diminta untuk tidak terpengaruh oleh informasi yang menyesatkan. Vaksin ini sepenuhnya aman dan tidak memiliki efek pada organ vital maupun sistem reproduksi, sehingga kekhawatiran masyarakat terkait isu tersebut tidak beralasan.

Meski telah divaksin, wanita tetap dianjurkan untuk melakukan pemeriksaan papsmear secara rutin. Hal ini penting untuk mendeteksi dini adanya perubahan sel serviks yang berpotensi menjadi kanker. Vaksin memang dapat mencegah sebagian besar infeksi HPV, tetapi langkah pencegahan sekunder seperti papsmear tetap diperlukan untuk memberikan perlindungan menyeluruh terhadap kanker serviks.

HPV sendiri adalah virus yang dapat ditularkan melalui berbagai cara, terutama lewat aktivitas seksual. Penularan dapat terjadi melalui kontak fisik baik vaginal, anal, maupun oral. Selain itu, jalur non-seksual juga memungkinkan, misalnya penularan dari ibu ke bayi melalui proses persalinan normal atau melalui transmisi ekstragenital seperti infeksi di fasilitas kesehatan. Karena sifatnya yang mudah menular, pencegahan melalui vaksinasi menjadi langkah yang sangat penting.

Data ilmiah menunjukkan bahwa vaksinasi HPV mampu mencegah lebih dari 90 persen kasus penyakit yang disebabkan oleh virus ini. Sebagian besar infeksi HPV sebenarnya bisa hilang dengan sendirinya dalam jangka waktu sekitar dua tahun, namun beberapa jenis infeksi bisa menetap lebih lama dan berpotensi berkembang menjadi kanker, termasuk kanker serviks, kanker anus, dan beberapa jenis kanker lain.

Saat ini vaksin HPV direkomendasikan untuk diberikan bukan hanya pada wanita, tetapi juga pada pria. Hal ini karena infeksi HPV dapat menyerang kedua gender, dengan risiko pada laki-laki berupa munculnya kutil kelamin atau kanker anus. Vaksinasi HPV dianjurkan sejak usia dini, yakni mulai dari 9 tahun hingga 45 tahun. Untuk anak-anak berusia 9–14 tahun, vaksin diberikan dalam dua dosis. Sedangkan untuk kelompok usia 15–26 tahun pada pria dan 15–45 tahun pada wanita, vaksin diberikan dalam tiga dosis. Vaksin juga bisa diberikan pada individu dengan kondisi kesehatan khusus seperti immunocompromised, dengan pola pemberian tiga dosis sesuai standar medis.

Ketua Satgas Imunisasi PP PAPDI, Dr. dr. Sukamto Koesnoe, SpPD, K-AI, FINASIM, juga menambahkan bahwa tujuan utama vaksin hanyalah untuk meningkatkan sistem kekebalan tubuh terhadap virus HPV. Vaksin ini sama sekali tidak berkaitan dengan organ reproduksi atau organ vital lainnya, sehingga masyarakat tidak perlu khawatir akan dampak negatif terhadap kesuburan. Justru dengan melakukan vaksinasi HPV, risiko terjangkit penyakit berbahaya yang diakibatkan virus ini bisa ditekan secara signifikan.

Dengan adanya penegasan ini, PAPDI berharap masyarakat bisa lebih tenang dan percaya diri untuk melakukan vaksinasi HPV tanpa takut pada isu-isu menyesatkan yang beredar. Vaksinasi bukanlah ancaman, melainkan bentuk perlindungan yang sangat penting bagi kesehatan jangka panjang, terutama dalam mencegah penyakit yang dapat mengancam jiwa seperti kanker serviks.
Copyright © Tampang.com
All rights reserved