Kisah Pilu Ayah dan Anak di Bandung, Tinggal di Rumah 1x2 Meter
Tanggal: 25 Mar 2025 14:56 wib.
Tampang.com | Di tengah hiruk-pikuk Kota Bandung, terselip kisah menyayat hati tentang seorang ayah dan anak yang hidup dalam keterbatasan. Mereka tinggal di rumah berukuran hanya 1x2 meter, berdiri di antara beton Sungai Cikapundung.
Kondisi Memprihatinkan Terungkap Saat Peninjauan Banjir
Kisah ini terungkap saat Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, meninjau lokasi banjir di sekitar Sungai Cikapundung. Dalam kunjungannya, Dedi terkejut melihat tempat tinggal mereka yang sangat sempit dan jauh dari kata layak.
Dalam video yang diunggah di kanal Kang Dedi Mulyadi Channel pada Minggu (23/3/2025), terlihat rumah tersebut memiliki pintu yang sangat pendek, memaksa siapa pun yang masuk harus membungkuk. Di dalamnya, hanya terdapat kasur dan televisi tabung.
Hidup Serba Terbatas di Tengah Ancaman Banjir
Sang ayah, yang bekerja sebagai tukang servis payung, tinggal bersama anaknya yang berusia 14 tahun. Sang anak telah putus sekolah sejak lulus Sekolah Dasar (SD), sementara sang ibu telah lama pergi meninggalkan mereka.
Untuk kebutuhan sehari-hari, mereka mengandalkan sumur kecil yang terletak di samping rumah. Namun, setiap musim hujan, mereka harus menghadapi ancaman banjir. Air sungai yang meluap kerap menggenangi tempat tinggal mereka, membuat kehidupan semakin sulit.
“Kalau banjir bagaimana?” tanya Dedi Mulyadi.
“Lari ke arah sumur,” jawab sang ayah dengan nada pasrah.
Menolak Tawaran Pindah Meski Ditawari Kontrakan Gratis
Melihat kondisi yang begitu sulit, Dedi Mulyadi menawarkan bantuan agar mereka bisa tinggal di kontrakan yang lebih layak, setidaknya selama musim hujan. Namun, tawaran tersebut ditolak.
“Misalnya pindah nyari kontrakan ke depan?” tanya Dedi.
“Gak ada duit,” jawab sang ayah.
“Sama saya dikontrakin, mau nggak? Minimal selama musim hujan ini,” kata Dedi.
“Saya maunya di sini,” tegas sang ayah.
Sang ayah mengaku sudah terbiasa hidup di tempat tersebut dan merasa masih aman karena air sungai hanya naik setinggi betisnya.
Bantuan Dedi Mulyadi untuk Memperbaiki Rumah
Meskipun tawaran pindah ditolak, Dedi tetap menunjukkan kepeduliannya dengan memberikan bantuan berupa uang agar struktur rumah mereka bisa diperkuat. Awalnya, sang ayah menolak bantuan tersebut, namun akhirnya menerima setelah diyakinkan oleh Dedi.
Kisah ini menjadi pengingat betapa masih banyak masyarakat yang hidup dalam keterbatasan, bertahan dengan kondisi yang tidak layak, dan menolak untuk berpindah karena berbagai alasan. Semoga ada solusi terbaik bagi mereka yang masih berjuang di tengah keterbatasan.