Kisah Dimas, Penjaga Perlintasan Kereta yang Rela Tak Berlebaran Demi Keamanan Pemudik
Tanggal: 30 Mar 2025 02:05 wib.
Tampang.com | Di tengah hiruk-pikuk perjalanan mudik Lebaran, ada sosok-sosok yang tetap menjalankan tugasnya tanpa libur demi memastikan perjalanan pemudik tetap aman. Salah satunya adalah Dimas, seorang Penjaga Jalan Lintasan (PJL) Pos 17 di Jalan Jagir Wonokromo, Surabaya, Jawa Timur.Meski tugasnya terlihat sederhana—menaikkan dan menurunkan palang pintu perlintasan kereta—perannya sangat vital dalam mencegah kecelakaan. Dengan penuh tanggung jawab, Dimas dan rekan-rekannya memastikan setiap kereta yang melintas tidak membahayakan para pengguna jalan.Tak Bisa Pulang Demi Tugas MuliaBagi Dimas, menjadi petugas PJL berarti harus siap bekerja saat orang lain berkumpul dengan keluarga di kampung halaman. Selama bertahun-tahun, ia sudah terbiasa merayakan Lebaran di pos jaga, bukan di rumah bersama keluarga."Sewaktu awal-awal, rasanya berat sekali. Melihat orang lain bisa pulang kampung, sementara saya harus tetap bertugas di sini," ujar pria 27 tahun itu.Namun, tahun pertama bekerja menjadi yang paling berat baginya. Pada tahun 2020, menjelang Ramadhan, ia menerima kabar duka bahwa ayahnya meninggal dunia akibat serangan jantung."Saat itu saya sedang berjaga di siang hari. Tiba-tiba dapat kabar kalau bapak sesak napas dan dibawa ke rumah sakit. Tidak lama kemudian, beliau meninggal," kenangnya dengan mata berkaca-kaca.Kesedihannya semakin mendalam ketika ia tidak bisa langsung pulang ke Tuban untuk mengantar kepergian sang ayah. Banyak rekan kerjanya saat itu yang sakit akibat pandemi Covid-19, sehingga tidak ada yang bisa menggantikannya.Keesokan harinya, ia akhirnya mengajukan cuti selama dua hari untuk menghadiri pemakaman. "Tetap ada rasa bersalah karena tidak bisa berada di samping bapak di momen terakhirnya," tuturnya.Rutinitas Padat Selama Arus MudikSelama musim mudik, volume perjalanan kereta api meningkat drastis. Jika pada hari biasa jumlah kereta yang melintas di perlintasan tempatnya bekerja berkisar 105 kali per hari, maka saat Lebaran bisa mencapai 115 kali per hari."Jadi harus lebih waspada, lebih ketat dalam penjagaan," ungkapnya.Jadwal kerjanya pun tetap sama seperti hari biasa, dengan sistem tiga sif: 06.00 - 14.00 WIB 14.00 - 22.00 WIB 22.00 - 06.00 WIBSaat bertugas, ia selalu memastikan palang pintu tertutup dengan baik dan berkoordinasi dengan pos komando pusat melalui handy talkie. Setiap keputusan yang diambil harus tepat, karena kesalahan sekecil apa pun bisa berakibat fatal.Lebaran Tanpa Keluarga, Panggilan Video Jadi PenggantiMeski tidak bisa berkumpul dengan keluarga, Dimas tetap bersyukur karena mendapat dukungan penuh dari istri dan orang-orang terdekatnya."Alhamdulillah, istri dan keluarga sangat memahami pekerjaan saya. Kalau tidak bisa pulang, kami biasanya hanya video call," katanya.Bagi Dimas, keberuntungan besar jika ia mendapatkan jatah libur tepat pada hari Lebaran, seperti yang terjadi pada tahun 2024. Saat itu, ia bisa merayakan Idul Fitri bersama keluarga, menikmati opor ayam, dan berbincang dengan sanak saudara yang jarang bertemu."Senang banget, rasanya hoki (beruntung) bisa kumpul bareng-bareng," ucapnya dengan senyum semringah.Namun, Lebaran tahun ini ia kembali harus bertugas. Ia baru akan mendapatkan libur pada H+7 Idul Fitri. Terkadang, jika istrinya tidak ada urusan di kampung halamannya di Madura, ia akan menemaninya di pos jaga.Pesan untuk Para PemudikDimas berharap, para pemudik tetap mematuhi peraturan lalu lintas, terutama saat melintas di perlintasan kereta api."Tetap patuhi rambu-rambu yang ada. Jangan menerobos perlintasan saat palang sudah mulai turun. Nikmati perjalanan dengan sabar agar selamat sampai tujuan," pesannya.Meski harus mengorbankan momen bersama keluarga, Dimas tetap menjalankan tugasnya dengan sepenuh hati. Baginya, memastikan perjalanan para pemudik tetap aman adalah bentuk pengabdian yang tak ternilai harganya.