Sumber foto: Canva

Kesiapan Fisik dan Mental Orang Indonesia Menghadapi Perbedaan Suhu di Negara Lain

Tanggal: 28 Agu 2025 14:35 wib.
Bepergian ke luar negeri adalah impian banyak orang, terutama saat tujuannya adalah negara dengan empat musim yang menawarkan pengalaman berbeda. Bagi orang Indonesia, yang terbiasa hidup di iklim tropis dengan suhu relatif stabil sepanjang tahun, menghadapi perbedaan suhu yang ekstrem saat berkunjung ke negara lain seringkali menjadi tantangan tersendiri. Dari panas terik yang kering hingga dingin menusuk tulang, adaptasi menjadi kunci. Pertanyaannya, seberapa besar kejutan yang dirasakan dan bagaimana tubuh kita bereaksi terhadap perubahan tersebut?

Terbiasa dengan Kelembapan dan Panas Tropis

Secara geografis, Indonesia terletak di garis khatulistiwa, membuat suhunya cenderung stabil di kisaran 25 hingga 32 derajat Celsius sepanjang tahun. Kelembapan udara yang tinggi juga menjadi ciri khas iklim tropis. Tubuh orang Indonesia sudah beradaptasi dengan kondisi ini. Kita terbiasa berkeringat untuk mendinginkan tubuh dan merasa nyaman di lingkungan yang lembap. Sistem termoregulasi tubuh kita bekerja optimal di suhu ini.

Ketika keluar dari zona nyaman iklim tropis, tubuh akan dipaksa beradaptasi dengan cepat. Kejutan terbesar biasanya datang saat musim dingin, di mana suhu bisa turun drastis hingga di bawah nol derajat Celsius. Sebaliknya, saat musim panas di negara-negara subtropis, suhu bisa lebih tinggi dari yang biasa kita rasakan, dengan kelembapan yang jauh lebih rendah, menciptakan sensasi panas yang kering dan menyengat. Perbedaan inilah yang bisa menimbulkan syok termal.

Reaksi Tubuh Menghadapi Perubahan Suhu Ekstrem

Saat tubuh terpapar suhu yang jauh berbeda, berbagai reaksi fisiologis akan terjadi. Saat suhu dingin, pembuluh darah di kulit akan menyempit (vasokonstriksi) untuk mengurangi aliran darah dan menjaga panas tubuh di organ-organ vital. Tubuh juga bisa menggigil untuk menghasilkan panas melalui kontraksi otot. Sensasi dingin yang menusuk, kedinginan di ujung jari tangan dan kaki, serta kulit yang memucat adalah hal umum. Bagi yang tidak terbiasa, respons ini bisa terasa sangat tidak nyaman, bahkan menyakitkan.

Sebaliknya, saat menghadapi suhu panas yang kering, tubuh akan berusaha mendinginkan diri dengan cara berbeda. Keringat akan lebih cepat menguap karena kelembapan rendah, yang membuat kita merasa lebih cepat haus dan berisiko dehidrasi. Panas yang kering juga bisa menyebabkan kulit menjadi kering, bibir pecah-pecah, dan iritasi pada selaput hidung. Kondisi ini bisa terasa sangat berbeda dari panas lembap yang biasa kita rasakan di Indonesia.

Persiapan yang Tepat sebagai Kunci Adaptasi

Untuk meminimalkan kejutan dan ketidaknyamanan, persiapan yang matang adalah segalanya. Pakaian menjadi faktor paling penting. Saat akan bepergian ke negara beriklim dingin, penerapan konsep berpakaian lapis (layering) sangat disarankan. Pakaian dasar dari bahan termal, lapisan tengah dari fleece atau wol, dan lapisan luar tahan air serta angin akan menjaga tubuh tetap hangat. Jangan lupakan aksesori seperti sarung tangan, syal, dan topi wol yang berfungsi melindungi bagian tubuh yang paling cepat kehilangan panas.

Saat menghadapi musim panas yang kering, memilih pakaian dari bahan alami seperti katun atau linen yang menyerap keringat dan longgar adalah pilihan bijak. Jangan lupa membawa tabir surya dengan SPF tinggi dan pelembap untuk melindungi kulit dari sengatan matahari dan kekeringan. Mengatur asupan cairan juga sangat penting untuk mencegah dehidrasi.

Selain pakaian, pola makan dan istirahat juga memegang peranan besar. Mengonsumsi makanan yang menghangatkan tubuh saat cuaca dingin, atau makanan yang menyegarkan saat cuaca panas, bisa membantu proses adaptasi. Cukup istirahat akan memberi kesempatan bagi tubuh untuk menyesuaikan diri dengan perubahan lingkungan dan mengurangi risiko jatuh sakit.

Dampak Psikologis

Perbedaan suhu ekstrem tidak hanya berdampak pada fisik, tetapi juga bisa memengaruhi kondisi mental. Perubahan lingkungan yang drastis, terutama paparan suhu dingin yang ekstrem, bisa menimbulkan rasa terisolasi atau ketidaknyamanan. Langit yang sering mendung dan matahari yang jarang terlihat di musim dingin bahkan bisa memicu kondisi yang dikenal sebagai Seasonal Affective Disorder (SAD) pada beberapa orang, meskipun ini lebih sering dialami oleh penduduk lokal.

Sebaliknya, bagi sebagian orang Indonesia, pengalaman menghadapi salju atau bermain di suhu beku adalah pengalaman yang sangat dinanti-nantikan dan memicu kegembiraan. Rasa takjub melihat pemandangan yang berbeda dari biasanya bisa menutupi ketidaknyamanan fisik.
Copyright © Tampang.com
All rights reserved