Sumber foto: Google

Jepara Siaga Lingkungan, Saatnya Aksi Nyata Selamatkan Sampah dan Pesisir

Tanggal: 24 Feb 2026 15:51 wib.
Kota Jepara, yang dikenal sebagai pusat seni ukir dan kota kelahiran pahlawan nasional R.A. Kartini, kini menghadapi tantangan lingkungan yang semakin serius. Tidak hanya warisan budaya yang harus dijaga, tetapi juga lingkungan hidupnya yang sedang dalam tekanan berat. Dua isu lingkungan utama yang paling mencuat adalah krisis pengelolaan sampah dan ancaman abrasi pesisir yang semakin parah. Jika dibiarkan, kedua masalah ini bukan hanya mengancam kualitas hidup masyarakat, tetapi juga masa depan ekonomi dan ekologis Jepara.

https://dlhjepara.org/ menjadi salah satu sumber informasi dan gerakan penting yang mengajak seluruh elemen masyarakat untuk ikut peduli terhadap kondisi lingkungan di Jepara. Situs ini menampilkan berbagai program, data, dan kampanye yang berkaitan dengan kondisi sampah, program bersih-bersih, hingga upaya penanganan abrasi yang sedang berlangsung. Melalui platform ini, warga bisa mendapatkan update terbaru sekaligus ikut berpartisipasi dalam kegiatan-kegiatan nyata yang bertujuan menjaga kebersihan kota dan kelestarian wilayah pesisir.

Jepara selama beberapa tahun terakhir mengalami volume sampah yang terus meningkat. Pertumbuhan penduduk, perkembangan sektor pariwisata, serta perubahan gaya hidup menjadi beberapa faktor yang memperparah kondisi ini. Namun yang paling mencolok adalah rendahnya tingkat kesadaran masyarakat terhadap pemilahan dan pengelolaan sampah dari sumbernya. Banyak rumah tangga, pedagang, dan pengunjung wisata yang masih membuang sampah secara sembarangan. Akibatnya, kawasan permukiman, sungai kecil, dan beberapa titik di pesisir Jepara dipenuhi oleh tumpukan sampah plastik, kertas, dan sampah organik yang tidak terkelola dengan baik.

Sampah yang menumpuk berdampak langsung pada kesehatan masyarakat. Saluran air dan selokan yang tersumbat menyebabkan banjir lokal setiap kali hujan deras turun, sehingga risiko penyakit berbasis air meningkat. Selain itu, pemandangan sampah yang berserakan juga mengurangi daya tarik pariwisata Jepara sebuah potensi ekonomi penting yang seharusnya bisa berjalan beriringan dengan kelestarian lingkungan.

Ancaman lain yang tak kalah genting adalah abrasi pesisir. Karena lokasi geografisnya yang berbatasan langsung dengan laut Jawa, Jepara sangat rentan terhadap pengikisan daratan oleh ombak dan gelombang laut. Perubahan iklim global semakin memperburuk kondisi ini dengan naiknya permukaan air laut dan intensitas badai yang semakin tinggi. Banyak titik pesisir yang dulunya penuh dengan vegetasi dan menjadi tempat kehidupan nelayan kini mulai terkikis dan menyusut.

Abrasi tidak hanya menghancurkan garis pantai secara fisik, tetapi juga mengancam rumah, lahan pertanian, dan ekosistem pesisir yang produktif. Nelayan yang bergantung pada tingkat keamanan pantai untuk menyandarkan perahu mereka kini harus mencari lokasi lain yang lebih aman. Kehilangan wilayah pesisir juga berdampak pada habitat biota laut, termasuk mangrove, yang berperan penting sebagai pelindung alami dari gelombang besar sekaligus sebagai penyerap karbon yang efektif.

Upaya penanganan dari pemerintah kabupaten sejauh ini menunjukkan langkah serius, namun masih belum cukup. Berbagai program pengelolaan sampah mulai dari pengadaan TPS3R (Tempat Pengolahan Sampah Reduce, Reuse, Recycle) sampai kampanye reduce plastic telah digalakkan. Akan tetapi, tantangan terbesar bukan hanya soal infrastruktur, tetapi juga soal perilaku masyarakat. Program-program edukasi lingkungan harus terus digencarkan, khususnya di sekolah-sekolah dan komunitas lokal, agar perubahan perilaku menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari.

Jepara kini tengah mencoba berbagai pendekatan inovatif untuk menangani abrasi. Pembangunan struktur pelindung seperti pemecah gelombang, penanaman mangrove secara masif, dan revegetasi pesisir adalah beberapa langkah nyata yang sudah dijalankan. Swadaya masyarakat pesisir juga terlihat meningkat; kelompok pemuda dan organisasi lingkungan aktif melakukan kegiatan bersih pantai dan penanaman bibit bakau secara berkala.

Namun, solusi jangka panjang memerlukan sinergi antara pemerintah, masyarakat, akademisi, serta sektor swasta. Misalnya, sistem pengelolaan sampah berbasis komunitas perlu dilengkapi dengan fasilitas pengolahan yang modern dan ramah lingkungan. Edukasi tentang sampah organik, kompos, bank sampah, dan daur ulang harus menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan masyarakat Jepara. Sedangkan untuk isu pesisir, pendekatan ekosistem seperti restorasi mangrove harus dipandang sebagai investasi lingkungan, bukan sekadar proyek sesaat.

Tak kalah penting adalah peran serta generasi muda Jepara. Anak-anak dan remaja merupakan agen perubahan melalui pendidikan lingkungan sejak dini, mereka dapat menjadi duta yang menyebarkan pesan pelestarian lingkungan ke keluarga dan komunitasnya. Lomba-lomba kreatif seperti lomba daur ulang, penulisan esai lingkungan, dan kompetisi ide teknologi ramah lingkungan bisa menjadi medium untuk memantik semangat ini.

Pemerintah daerah juga harus terus memperkuat regulasi dan penindakan terhadap pelanggaran lingkungan, termasuk denda bagi pembuang sampah sembarangan dan pembatasan kegiatan yang berpotensi merusak pesisir. Transparansi dalam penyusunan anggaran lingkungan serta keterlibatan publik dalam perencanaan program akan membantu menciptakan rasa memiliki masyarakat terhadap lingkungan mereka sendiri.

dinas lingkungan hidup memiliki peranan sentral dalam koordinasi semua upaya ini. Lembaga ini tidak hanya bertindak sebagai regulator, tetapi juga sebagai penggerak pendidikan publik, fasilitator komunitas, dan penghubung antara pemerintah dengan masyarakat. Dengan dukungan kebijakan yang berkelanjutan dan partisipasi aktif seluruh elemen masyarakat, bukan tidak mungkin Jepara bisa menjadi contoh kota yang berhasil menyeimbangkan pembangunan dengan pelestarian lingkungan.

Jepara sedang berada pada titik kritis. Tantangan sampah dan abrasi adalah ancaman nyata yang membutuhkan aksi nyata bukan hanya janji atau retorika. Dengan komitmen bersama, kemandirian masyarakat, dan dukungan teknologi serta kebijakan yang tepat, masa depan Jepara tetap bisa cerah hijau, bersih, dan lestari.
Copyright © Tampang.com
All rights reserved