Imunisasi Campak Dianjurkan Sejak Usia 9 Bulan untuk Perlindungan Optimal Anak
Tanggal: 29 Agu 2025 07:44 wib.
Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) melalui Satuan Tugas Imunisasi mengingatkan para orang tua mengenai pentingnya imunisasi campak yang sudah bisa diberikan sejak anak berusia 9 bulan. Hal ini sejalan dengan pedoman resmi dari Kementerian Kesehatan Republik Indonesia yang menegaskan bahwa imunisasi campak, yang kini umumnya diberikan dalam bentuk vaksin campak dan rubela (MR), perlu diberikan secara bertahap sesuai jadwal untuk memberikan perlindungan maksimal terhadap penyakit menular tersebut. Ketua Satgas Imunisasi IDAI, Prof. Dr. dr. Hartono Gunardi, Sp.A, Subs.TKPS(K), menyampaikan bahwa pemberian vaksin ini bukan hanya sekadar formalitas, tetapi menjadi upaya penting untuk menjaga kesehatan anak sejak dini.
Menurut anjuran Kemenkes, seorang anak setidaknya harus mendapatkan tiga dosis vaksin campak dalam masa tumbuh kembangnya. Dosis pertama diberikan ketika anak berusia 9 bulan, kemudian dilanjutkan dengan dosis kedua pada usia 18 bulan. Adapun dosis ketiga diberikan pada saat anak sudah memasuki usia 7 tahun, biasanya dilakukan melalui program imunisasi massal yang diselenggarakan di sekolah-sekolah dalam momen Bulan Imunisasi Nasional (BIAN). Strategi ini dibuat untuk memastikan setiap anak di Indonesia mendapatkan perlindungan berlapis terhadap campak yang dikenal sangat menular.
Prof. Hartono menjelaskan bahwa vaksinasi perlu diulang karena kadar antibodi yang dibentuk tubuh setelah imunisasi akan mengalami penurunan seiring berjalannya waktu. Pemberian dosis pertama memang mampu memicu pembentukan antibodi, namun ketika tubuh menerima dosis kedua, respons imun yang terbentuk menjadi jauh lebih kuat dan cepat. Hal ini membuat kadar antibodi dalam tubuh meningkat lebih tinggi dibandingkan dengan satu kali pemberian saja, sehingga perlindungan pun bertahan lebih lama. Inilah mengapa pemberian imunisasi secara berulang dipandang sangat penting untuk efektivitas jangka panjang.
Efektivitas vaksin campak ini juga sangat menjanjikan. Pada pemberian satu dosis vaksin ketika anak berusia 9 bulan, perlindungan yang terbentuk bisa mencapai sekitar 85 persen. Namun, setelah anak menerima dosis kedua, tingkat perlindungan meningkat signifikan hingga 95 sampai 97 persen. Angka ini menunjukkan betapa kuatnya perlindungan yang diberikan vaksin campak terhadap risiko penularan. Bahkan, menurut Prof. Hartono, tingkat perlindungan tersebut jauh lebih tinggi dibandingkan dengan perlindungan yang dihasilkan vaksin COVID-19, sehingga semakin memperlihatkan betapa pentingnya imunisasi ini tidak boleh dilewatkan.
Selain menekankan pentingnya pemberian sesuai jadwal, IDAI juga mengingatkan orang tua untuk secara rutin mengecek status imunisasi anak agar tidak ada dosis yang terlewat. Jika memang ada jadwal yang terlewati, tidak perlu khawatir karena anak tetap bisa menerima dosis berikutnya tanpa harus mengulang dari awal. Prof. Hartono menegaskan bahwa tidak ada istilah vaksin yang hangus, sehingga anak tetap bisa dilindungi dengan baik meskipun mengalami keterlambatan dalam pemberian vaksinasi.
Lebih lanjut, terdapat beberapa kondisi kesehatan yang tidak menjadi penghalang imunisasi, seperti pilek, demam ringan, diare, ataupun alergi makanan. Kondisi-kondisi tersebut tidak serta-merta membuat imunisasi harus ditunda. Namun demikian, memang ada sejumlah kondisi medis yang menyebabkan anak tidak bisa menerima vaksinasi dalam waktu tertentu. Misalnya anak yang sedang menjalani terapi kortikosteroid dosis tinggi, seperti pada kasus asma berat atau penyakit ginjal bocor, ataupun yang sedang mendapat pengobatan imunosupresif seperti pada lupus. Selain itu, anak dengan kondisi demam tinggi, gagal jantung, anemia berat, atau penyakit berat seperti leukemia juga tidak boleh langsung diberikan imunisasi. Pada kasus-kasus ini, penyakit yang diderita harus ditangani terlebih dahulu sebelum vaksin diberikan agar tidak menimbulkan risiko tambahan.
Dengan penjelasan ini, IDAI berharap orang tua semakin sadar akan pentingnya imunisasi sejak dini dan tidak terpengaruh pada informasi keliru yang masih beredar di masyarakat, seperti anggapan bahwa vaksinasi bisa menyebabkan kecacatan. Prof. Hartono menekankan bahwa imunisasi adalah investasi kesehatan anak di masa depan. Dengan kepatuhan orang tua mengikuti anjuran Kemenkes, anak-anak Indonesia akan memiliki daya tahan tubuh yang lebih baik terhadap campak, sebuah penyakit menular yang faktanya lebih cepat menular dibandingkan COVID-19.