Dorong Tumpeng Eksis Global, Menbud: Tumpeng Simbol Identitas Budaya
Tanggal: 26 Agu 2025 16:43 wib.
Menteri Kebudayaan Republik Indonesia, Fadli Zon, menegaskan bahwa tumpeng bukan sekadar hidangan tradisional, melainkan simbol identitas budaya bangsa sekaligus instrumen diplomasi kuliner yang potensial untuk mendunia.
“Tumpeng mencerminkan hubungan manusia dengan Sang Pencipta sekaligus nilai gotong royong dan kebersamaan. Filosofi ini sangat universal dan relevan di tengah dunia yang semakin individualis. Karena itu, kuliner kita, termasuk tumpeng, bisa menjadi tradisi yang mendunia,” kata Fadli melalui keterangan resmi, Minggu (24/8).
Pernyataan itu ia sampaikan usai menghadiri Festival Tumpeng Indonesia 2025 yang digelar di Hotel Borobudur, Jakarta, Sabtu (23/8). Festival ini merupakan hasil kolaborasi antara Asosiasi Pengusaha Jasa Boga Indonesia (APJI), Indonesian Gastronomy Community (IGC), dan Hotel Borobudur.
Kuliner sebagai Diplomasi Budaya
Dalam kesempatan tersebut, Fadli menekankan bahwa kuliner Indonesia harus dipandang lebih dari sekadar konsumsi. Ia menyebutnya sebagai warisan budaya takbenda yang mampu menjadi jembatan antarbangsa sekaligus penggerak ekonomi kreatif.
“Kuliner adalah diplomasi budaya yang sangat efektif. Banyak masyarakat internasional mengenal Indonesia dari makanannya. Rendang pernah dinobatkan sebagai makanan terenak di dunia, sate, nasi goreng, hingga soto juga punya daya tarik luar biasa. Sayangnya, kuliner Indonesia belum dipromosikan secara proporsional,” jelasnya.
Hingga 2024, Indonesia telah menetapkan 2.213 Warisan Budaya Tak benda (WBTBI), termasuk 231 jenis kuliner tradisional. Namun, Fadli mengingatkan jumlah tersebut masih belum cukup merepresentasikan kekayaan kuliner Nusantara. Bahkan, beberapa hidangan mulai terancam punah, seperti Itak Poul-Poul dari Sumatera Utara dan Pendorong dari Bangka Belitung.
Perluas Jejak Restoran Indonesia
Lebih jauh, Fadli menyoroti pentingnya mempercepat promosi kuliner Indonesia di luar negeri. Ia mencontohkan Thailand dan Vietnam yang restoran tradisionalnya bisa ditemukan hampir di seluruh dunia. Sementara itu, restoran Indonesia masih terbatas meski mulai berkembang.
“Di Turki misalnya, jumlah restoran Indonesia meningkat pesat dari hanya tiga menjadi sekitar tiga puluh dalam lima tahun terakhir, khususnya di Istanbul. Ini bukti potensi kita besar sekali,” ujarnya.
Karena itu, ia mendorong sinergi antara Kementerian Kebudayaan, IGC, APJI, hingga KBRI atau KJRI untuk mendata dan memperluas keberadaan restoran Indonesia di berbagai negara.
“Kita jangan sampai kalah dengan negara tetangga. Kuliner Indonesia adalah ekspresi budaya kita. Wajib kita perkenalkan kepada dunia,” tegas Fadli.
Festival Tumpeng, Warisan Lintas Generasi
Festival Tumpeng Indonesia 2025 sendiri digagas sebagai ajang untuk menjadikan tumpeng sebagai warisan kuliner lintas generasi sekaligus simbol identitas bangsa. Acara ini menampilkan ragam kreasi tumpeng dari berbagai daerah dengan tetap mempertahankan filosofi dasar sebagai simbol syukur, doa, dan kebersamaan.
“Tumpeng diharapkan dapat menjadi representasi kuliner Nusantara di kancah internasional, bahkan mungkin bisa menjadi tradisi dunia. Semoga semakin banyak generasi muda mencintai budaya dan kuliner Nusantara, khususnya tumpeng,” tutup Menbud.