Dedi Mulyadi Semprot Eks Pegawai Hibisc yang Tagih Kompensasi: “Kok Nggak Punya Empati?”
Tanggal: 30 Mar 2025 12:26 wib.
Tampang.com | Puluhan mantan pegawai Hibisc Fantasy di Puncak, Bogor, mendatangi Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, untuk menagih janji kompensasi yang pernah disampaikan dalam sebuah video. Namun, alih-alih mendapatkan kepastian, mereka justru mendapat teguran keras dari sang gubernur.
Eks Pegawai Kecewa dengan Syarat Tambahan
Salah satu perwakilan mantan pegawai, Septian (30), mengungkapkan kekecewaannya karena kompensasi yang dijanjikan ternyata disertai syarat tambahan yang sebelumnya tidak disebutkan.
"Kami ke sini untuk menagih janji itu, tetapi argumennya sekarang harus ikut menanam pohon, harus terlibat. Kalau dari awal sudah ada pernyataan seperti itu, kami pasti menyesuaikan," ujar Septian.
Menurutnya, para mantan pegawai hanya ingin mendapatkan hak mereka sesuai janji yang pernah diberikan tanpa harus memenuhi persyaratan baru yang mendadak dimunculkan.
Dedi Mulyadi: Kompensasi Harus Dibarengi Tanggung Jawab Moral
Gubernur Dedi Mulyadi yang baru saja meninjau bekas lokasi Hibisc Fantasy menegaskan bahwa kompensasi tidak bisa diberikan begitu saja tanpa adanya tanggung jawab moral dari para mantan pegawai.
"Dengar dulu, ini bukan sekadar soal video. Saya membantu kalian yang menganggur, tetapi saya juga minta tanggung jawab moral kalian," ujar Dedi dengan nada tinggi.
Ia meminta agar para eks pegawai turut serta dalam rehabilitasi lingkungan di lokasi tersebut dengan menanam pohon sebagai bentuk kepedulian terhadap lingkungan dan masyarakat sekitar.
"Saya ingin kalian juga punya rasa tanggung jawab. Bantu menanam pohon di sini," tegasnya.
Namun, permintaan tersebut mengejutkan para mantan pegawai karena sebelumnya tidak pernah disebutkan sebagai syarat mendapatkan kompensasi. Mereka merasa bahwa hak mereka kini menjadi lebih sulit untuk diperoleh.
Dedi Mulyadi: “Jangan Bersikap Elitis, Tunjukkan Empati”
Saat dikonfirmasi oleh Kompas.com, Dedi menjelaskan alasan di balik sikap tegasnya. Ia menilai bahwa para mantan pegawai kurang memiliki empati dan hanya fokus menuntut hak tanpa mempertimbangkan dampak sosial dan lingkungan.
"Saya tidak suka dengan orang yang tidak punya empati, yang merasa seolah-olah lebih tinggi dibanding yang lain. Saat saya bilang saya akan transfer uang, tapi dengan syarat tanam satu pohon saja, mereka malah menolak dan mempertanyakan kenapa harus menanam pohon," ujar Dedi.
Menurutnya, masih banyak pekerja lain yang tetap berusaha mencari nafkah meskipun memiliki latar belakang pendidikan rendah. Sementara itu, eks pegawai Hibisc Fantasy dinilai hanya berpangku tangan dan menuntut kompensasi tanpa menunjukkan rasa kepedulian terhadap lingkungan sekitar.
"Orang lain yang pendidikannya rendah saja tetap bekerja dan mau menanam pohon. Kok kalian yang sudah lebih beruntung justru hanya menunggu uang datang begitu saja?" tambahnya.
Kompensasi Tetap Diberikan, tapi Dedi Harapkan Kesadaran Sosial
Meski marah, Dedi tetap berkomitmen memberikan kompensasi kepada para eks pegawai dan meminta nomor rekening mereka untuk proses transfer.
Namun, ia menegaskan bahwa bantuan ini bukan sekadar soal uang, melainkan juga soal kepedulian terhadap sesama.
"Saya tetap akan memberikan kompensasi, tetapi saya ingin mereka punya empati. Ini bukan sekadar soal menagih uang, tapi soal bagaimana mereka bisa peduli terhadap lingkungan dan orang lain," pungkasnya.
Dengan kejadian ini, Dedi berharap para eks pegawai bisa memahami bahwa hak harus dibarengi dengan kewajiban serta kesadaran akan pentingnya kepedulian terhadap sesama dan lingkungan.