BRIN Kembangkan Kemasan Pangan Biodegradable untuk Kurangi Sampah Plastik
Tanggal: 31 Mar 2025 18:26 wib.
Tampang.com | Plastik sekali pakai menjadi salah satu penyumbang terbesar pencemaran lingkungan. Tidak hanya sulit terurai, limbah plastik juga berkontribusi dalam pembentukan mikroplastik yang berbahaya bagi ekosistem dan kesehatan manusia. Untuk mengatasi permasalahan ini, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mengembangkan kemasan pangan biodegradable berbahan biomassa, seperti aren dan selulosa.
Solusi Ramah Lingkungan untuk Kemasan Pangan
Kemasan pangan konvensional yang berbahan plastik sering kali sulit terurai di alam. Seiring waktu, plastik ini pecah menjadi partikel mikroplastik yang dapat mencemari lingkungan dan masuk ke rantai makanan.
“Inovasi ini diharapkan mampu mengurangi sampah kemasan plastik karena lebih mudah terurai,” ujar Muslih Anwar, peneliti Pusat Riset Teknologi dan Proses Pangan BRIN, Jumat (28/3/2025).
Menurutnya, jika mikroplastik termakan oleh ikan dan akhirnya dikonsumsi manusia, efek jangka panjangnya dapat menyebabkan gangguan kesehatan dan hormon. Oleh karena itu, pengembangan kemasan pangan biodegradable menjadi langkah penting dalam mengurangi dampak negatif plastik terhadap lingkungan dan kesehatan manusia.
Kemasan dengan Sensor pH untuk Deteksi Kualitas Pangan
Selain menciptakan kemasan yang ramah lingkungan, BRIN juga berinovasi dalam memperpanjang umur simpan makanan. Salah satu caranya adalah dengan mengembangkan kemasan yang mampu membunuh mikroba dan mendeteksi kesegaran produk secara real-time.
Para peneliti menambahkan sensor pH dalam kemasan yang akan berubah warna jika makanan mulai rusak. "Sensor ini berfungsi untuk mendeteksi perubahan pH akibat senyawa basa yang timbul dari proses pembusukan makanan," jelas Muslih.
Dengan adanya teknologi ini, konsumen dapat mengetahui kondisi makanan tanpa perlu bergantung pada tanggal kedaluwarsa, sehingga dapat mengurangi risiko konsumsi makanan yang sudah tidak layak.
Standarisasi Kemasan Plastik Saset agar Lebih Mudah Didaur Ulang
Selain inovasi kemasan biodegradable, BRIN juga mengembangkan teknologi untuk standarisasi kemasan plastik saset yang lebih mudah didaur ulang.
Menurut Erny Soekotjo, peneliti Pusat Penelitian Sistem Produksi Berkelanjutan dan Penilaian Daur Hidup BRIN, kemasan saset saat ini sulit didaur ulang karena terdiri dari beberapa lapisan bahan yang berbeda (multilayer). Industri daur ulang pun enggan mengolahnya karena dianggap memiliki nilai ekonomi rendah.
"Sedang dikembangkan teknologi untuk mengganti multilayer ini menjadi mono-material, supaya plastiknya bisa didaur ulang tanpa merusak proses daur ulang lainnya," ujar Erny.
Pengembangan ini sudah dimulai sejak 2022 dan telah mendapatkan Standar Nasional Indonesia (SNI) pada tahun 2024. Dengan adanya standar ini, diharapkan industri semakin tertarik untuk menggunakan kemasan yang lebih mudah didaur ulang, sehingga sampah plastik dapat dikurangi secara signifikan.
Kesimpulan
Pengembangan kemasan pangan biodegradable dan kemasan plastik yang lebih mudah didaur ulang merupakan langkah maju dalam mengatasi permasalahan limbah plastik di Indonesia. Selain lebih ramah lingkungan, inovasi ini juga dapat membantu menjaga kesehatan manusia dari bahaya mikroplastik. Dengan terus berkembangnya teknologi kemasan, masa depan industri pangan yang lebih berkelanjutan dan bersih dari limbah plastik bisa segera terwujud.