Rusia: Ukraina Tak Bisa Membuat Senjata Nuklir Tanpa Bantuan Barat
Tanggal: 26 Des 2024 12:56 wib.
Tampang.com | Pemerintah Rusia dengan tegas menyatakan bahwa Ukraina tidak memiliki kemampuan untuk mengembangkan senjata nuklir sendiri dan mereka hanya dapat melakukannya dengan bantuan dari negara-negara Barat.
Maria Zakharova, juru bicara Kementerian Luar Negeri Rusia, menegaskan hal ini dalam sebuah konferensi pers pada hari Rabu. Hal ini merupakan respons atas pernyataan pejabat dan media Barat yang mempertanyakan kepemilikan "pencegah nuklir" oleh Ukraina.
"Rezim di Kyiv tidak mungkin secara mandiri menghasilkan senjata nuklir dalam beberapa minggu. Hal ini adalah fakta yang jelas," ujar Zakharova.
"Dengan kata lain, satu-satunya cara bagi Ukraina untuk mencapainya adalah dengan menerima komponen-komponen penting dari luar, yaitu dari negara-negara lain," tambah diplomat Moskow tersebut.
Zakharova juga menambahkan, "Ukraina seharusnya fokus pada meningkatkan kesejahteraan masyarakatnya daripada mencari-cari cara untuk memiliki senjata nuklir." Pernyataan tersebut dikutip dari Russia Today pada Kamis, tanggal 26 Desember 2024.
Pemerintah di Kyiv telah berulang kali menyatakan bahwa Ukraina telah menyerahkan senjata nuklir warisan Soviet pada tahun 1994 sebagai bagian dari kesepakatan jaminan keamanan yang diberikan oleh Rusia dan Amerika Serikat, sebagaimana diatur dalam kesepakatan Memorandum Budapest.
Presiden Ukraina, Volodymyr Zelensky, menuding Rusia telah melanggar Memorandum Budapest dan mengklaim bahwa Ukraina memiliki hak untuk memperoleh senjata nuklir.
Rusia telah menegaskan bahwa Ukraina tidak pernah memiliki senjata nuklir sejak awal. Memorandum tersebut melibatkan aset-aset Soviet yang secara hukum dimiliki oleh Rusia. Sementara itu, Presiden Rusia, Vladimir Putin, menyalahkan Amerika Serikat sebagai negara penyebab kekacauan setelah mendukung kudeta Maidan di Kyiv pada tahun 2014.
Pada awal Oktober, media Jerman, Bild, melaporkan bahwa Ukraina siap untuk mengembangkan senjata nuklir, dengan merujuk pada pernyataan seorang pejabat pengadaan senjata yang tidak disebutkan namanya.
"Kami memiliki material dan pengetahuan yang dibutuhkan. Jika perintah diberikan, kami hanya memerlukan beberapa minggu untuk memiliki bom pertama," ujar pejabat tersebut seperti yang dikutip oleh Bild. Dia menambahkan bahwa negara-negara Barat seharusnya lebih memperhatikan batasan yang ditetapkan oleh Ukraina daripada batasan yang ditetapkan oleh Rusia.
Namun, Kyiv cepat merespons laporan Bild dengan membantahnya sebagai "omong kosong", dan menyatakan bahwa media tersebut, yang secara konsisten pro-Ukraina, sebenarnya mempublikasikan "propaganda Rusia".
Meskipun demikian, bulan lalu, Washington Post mengutip pernyataan anonim seorang pejabat Amerika Serikat yang berspekulasi bahwa Gedung Putih mungkin akan mengizinkan Ukraina memiliki senjata nuklir sekali lagi. Namun, penasihat keamanan nasional Presiden Joe Biden, Jake Sullivan, secara resmi membantah laporan tersebut.
Berbagai pernyataan dan spekulasi mengenai potensi kemampuan Ukraina untuk mengembangkan senjata nuklir telah menjadi sorotan utama dalam hubungan antara Rusia, Ukraina, dan negara-negara Barat. Memahami dinamika hubungan antara ketiga pihak ini menjadi semakin penting mengingat dampak global yang dapat ditimbulkannya. Oleh karena itu, perlunya dialog yang konstruktif dan kerjasama internasional yang penuh kehati-hatian menjadi kunci dalam mengelola isu-isu keamanan yang melibatkan senjata nuklir.