Sumber foto: iStock

Ramadan di UEA: Jam Kerja Dikurangi, Pegawai Bisa Kerja Fleksibel

Tanggal: 25 Feb 2025 20:49 wib.
Ramadan merupakan bulan yang sangat istimewa bagi umat Muslim di seluruh dunia. Selama sebulan penuh, umat Islam menjalankan ibadah puasa, yang tidak hanya mengharuskan mereka untuk menahan diri dari makan dan minum, tetapi juga memperbanyak kegiatan ibadah, seperti salat, membaca Al-Qur'an, dan beramal. Bulan ini menjadi momen untuk meningkatkan spiritualitas dan kepedulian sosial.

Mengacu pada informasi yang dirilis oleh Gulf News, Kementerian Sumber Daya Manusia Uni Emirat Arab (UEA) pada hari Senin lalu mengumumkan bahwa jam kerja bagi karyawan di sektor swasta akan dikurangi sebanyak dua jam setiap harinya selama bulan Ramadan. Kebijakan ini menjadi salah satu bentuk dukungan bagi pekerja agar mereka dapat lebih fokus menjalankan ibadah puasa dan kegiatan keagamaan lainnya, tanpa harus terbebani oleh waktu kerja yang panjang.

Dalam pengumuman tersebut, Kementerian Sumber Daya Manusia UEA juga menyatakan bahwa perusahaan-perusahaan memiliki fleksibilitas dalam menentukan pola kerja. Mereka dapat menerapkan sistem kerja jarak jauh atau pola kerja yang lebih fleksibel selama bulan suci ini, tentu saja dengan tetap memperhatikan batasan jam kerja harian. Dengan begitu, karyawan diberi kebebasan untuk mengatur waktu mereka secara lebih efektif.

Sementara itu, untuk pegawai kementerian dan otoritas federal, jam kerja resmi selama Ramadan telah ditetapkan dari pukul 9 pagi hingga 2:30 siang pada hari Senin hingga Kamis. Sedangkan pada hari Jumat, jam kerja ditentukan dari pukul 9 pagi hingga 12 siang. Penyesuaian jam kerja ini bukan hanya bertujuan untuk mengakomodasi kebutuhan karyawan yang berpuasa, tetapi juga untuk menjaga produktivitas kerja meskipun dengan waktu yang lebih singkat.

Selain di Uni Emirat Arab, beberapa negara lain juga menerapkan kebijakan serupa selama bulan Ramadan. Di negara-negara dengan populasi Muslim yang besar, seperti Indonesia, Malaysia, dan Turki, sering kali jam kerja juga disesuaikan untuk menghormati bulan suci ini. Misalnya, di Indonesia, perusahaan-perusahaan banyak yang memberikan fleksibilitas bagi karyawan untuk pulang lebih awal, sehingga mereka memiliki waktu lebih untuk berbuka puasa bersama keluarga.

Fenomena mengurangi jam kerja di bulan Ramadan juga memiliki dampak positif bagi kesejahteraan mental dan fisik karyawan. Dengan mengurangi beban kerja, karyawan dapat lebih mudah beradaptasi dengan tuntutan puasa, serta memfokuskan energi mereka pada ibadah dan aktivitas sosial di lingkungan sekitar. Penelitian menunjukkan bahwa fleksibilitas dalam jam kerja selama bulan puasa mampu meningkatkan kepuasan karyawan dan menjaga semangat kerja yang baik.

Ramadan 2025 diperkirakan akan dimulai pada Sabtu, 1 Maret, menurut prediksi berbagai observatorium astronomi. Banyak perusahaan yang sudah mulai merencanakan strategi dan kebijakan untuk menyongsong bulan suci ini, termasuk penyesuaian jam kerja dan program-program sosial yang melibatkan karyawan. Beberapa perusahaan bahkan menggagas program penyelenggaraan bazaar Ramadan, di mana karyawan dapat berpartisipasi dalam kegiatan sosial dan berbagi dengan mereka yang kurang beruntung.

Penerapan jam kerja yang lebih pendek selama Ramadan juga memberikan peluang bagi perusahaan untuk melakukan penilaian terhadap produktivitas karyawan. Dengan waktu kerja yang lebih singkat, perusahaan dapat mendorong karyawan untuk tetap menghasilkan output yang berkualitas dalam waktu yang terbatas. Ini menjadi tantangan tersendiri bagi manajemen untuk menciptakan lingkungan kerja yang produktif dan harmonis, di mana karyawan merasa diperhatikan dan dihargai oleh perusahaan.

Dalam konteks yang lebih luas, kebijakan tersebut juga mencerminkan komitmen UEA untuk mendukung nilai-nilai Islam dan memberi ruang bagi para pelaku bisnis untuk beroperasi sambil tetap menghormati tradisi dan praktik keagamaan. Ini menjadi contoh baik untuk negara-negara lain, di mana pemerintah mengambil langkah proaktif untuk menciptakan lingkungan kerja yang inklusif dan sensitif terhadap budaya.

Sebagai penutup, kebijakan pengurangan jam kerja selama Ramadan di UEA bukan hanya sekadar langkah administratif, tetapi juga merupakan upaya untuk memfasilitasi keseimbangan antara pekerjaan dan ibadah. Semangat bulan Ramadan, yang berfokus pada kebersamaan, refleksi diri, dan kebaikan, juga dapat ditanamkan dalam budaya kerja, di mana setiap individu merasa diperhatikan dan dihargai dalam menjalankan tugas dan tanggung jawab mereka.
Copyright © Tampang.com
All rights reserved