Pilot Lupa Bawa Paspor, Pesawat United Airlines Putar Balik di Atas Pasifik!
Tanggal: 27 Mar 2025 12:44 wib.
Sebuah insiden mengejutkan terjadi pada penerbangan maskapai United Airlines, di mana pesawat dengan nomor penerbangan UA 198 terpaksa putar balik setelah terbang selama dua jam di atas Samudera Pasifik.
Kejadian ini berlangsung pada hari Sabtu, 22 Maret 2025, ketika pesawat Boeing 787 yang membawa 257 penumpang dan 13 awak tersebut lepas landas dari Bandara Internasional Los Angeles (LAX), Amerika Serikat, menuju Shanghai, China. Dengan waktu keberangkatan sekitar pukul 14:00 waktu setempat, pesawat tersebut menjadi sorotan media ketika pilot menyadari bahwa ia lupa membawa paspor di dalam perjalanan.
Menurut laporan dari situs pelacakan penerbangan, FlightAware, pesawat tersebut berbalik arah dan mendarat kembali di Bandara Internasional San Francisco pada pukul 17:00. Dalam pernyataan resmi yang diungkapkan oleh United Airlines, disebutkan secara tegas, "Pilot tidak membawa paspor." Kejadian ini tidak hanya mengakibatkan keterlambatan dalam penerbangan, tetapi juga menimbulkan ketidaknyamanan bagi semua penumpang yang berada di dalam pesawat.
United Airlines pun segera merespons situasi ini dengan mengatur kru pengganti untuk melanjutkan penerbangan menuju Shanghai pada malam yang sama. Penumpang juga diberikan voucher makan sebagai bentuk kompensasi dan untuk meredakan ketidaknyamanan yang mereka alami selama menunggu.
Menurut perusahaan, penerbangan dilanjutkan dengan kru baru dan lepas landas kembali sekitar pukul 21:00. Meskipun akhirnya tiba di Shanghai, mereka mengalami keterlambatan signifikan hampir enam jam akibat insiden tersebut.
Seorang penumpang dari China bernama Yang Shuhan menyatakan, ia mendengar suara pilot melalui pengeras suara yang sangat frustrasi mengakui kesalahannya, "Saya lupa membawa paspor." Yang bahkan menuturkan bahwa ia merasa terkejut namun tetap menghargai kejujuran sang pilot, meskipun insiden ini sangat mengganggu rencananya.
Iya sedang dalam perjalanan pulang dari sebuah perjalanan bisnis ketika kejadian tersebut terjadi. Setelah mendarat di Shanghai pada pukul 00:43 hari Senin, 24 Maret 2025, Yang harus melanjutkan perjalanan selama 2,5 jam lagi untuk sampai ke rumahnya dalam keadaan sangat kelelahan.
Banyak penumpang lain di dalam pesawat juga mengungkapkan rasa frustrasi mereka terhadap kejadian yang tidak terduga ini. Di platform media sosial China, RedNote, sejumlah pengguna melontarkan kemarahan mereka, dengan salah satu unggahan viral yang menanyakan, "Bagaimana mungkin seorang pilot bisa melakukan kesalahan kerja separah ini?" Unggahan tersebut memperoleh lebih dari 10.000 likes, menunjukkan betapa besarnya perhatian publik terhadap insiden ini.
Dampak dari insiden ini tidak hanya berpengaruh pada penerbangan UA 198, tetapi juga memengaruhi penerbangan UA 199 yang seharusnya bertolak dari Shanghai menuju Los Angeles. Pesawat pengganti yang datang terlambat memaksa sejumlah penumpang untuk mengalami penundaan penerbangan yang cukup lama.
Salah satu penumpang yang tidak mau disebutkan namanya juga mengungkapkan rasa frustrasinya, mengatakan, "Saya harus menjadwal ulang penerbangan lanjutan dan semua rencana saya jadi berantakan."
Analis penerbangan asal Singapura, Shukor Yusof, mengomentari insiden ini sebagai sesuatu yang "sangat memalukan" bagi United Airlines. Menurutnya, kelalaian seperti ini dapat menyebabkan konsekuensi besar tidak hanya dari segi reputasi perusahaan, tetapi juga merugikan secara finansial.
Biaya yang harus dikeluarkan untuk bahan bakar yang terbuang dan kompensasi untuk penumpang yang terdampak dapat menjadi masalah serius bagi maskapai. "Ini adalah kesalahan yang tidak bisa diterima dari maskapai sebesar United," tambahnya.
United Airlines sendiri merupakan salah satu maskapai terbesar di dunia, yang mampu mengangkut sekitar 140 juta penumpang setiap tahunnya ke lebih dari 300 destinasi di enam benua. Namun, insiden ini terjadi di tengah sorotan negatif yang melanda mereka, terutama terkait masalah layanan konsumen yang nampak meningkat.
Baru-baru ini, seorang penumpang Yahudi Ortodoks juga menggugat United Airlines setelah diusir dari toilet oleh pilot saat mengalami gangguan pencernaan. Di sisi lain, seorang ibu dari New Jersey mengungkapkan ketidakpuasannya terhadap maskapai ini karena dipaksa mencabut alat bantu pernapasan putranya yang memiliki kondisi medis kompleks sebelum pesawat lepas landas. Insiden-insiden tersebut kian menunjukkan perlunya peningkatan perhatian terhadap pelayanan pelanggan dan kepatuhan terhadap prosedur di dalam pengoperasian maskapai.
Dengan adanya insiden yang melibatkan penerbangan UA 198, banyak kalangan mulai menyoroti pentingnya kehati-hatian dan disiplin di dalam industri penerbangan. Tidak hanya bagi pilot, tetapi juga seluruh awak pesawat harus mampu menjalankan tugas dengan penuh tanggung jawab agar kejadian serupa tidak terulang di masa mendatang.
Kedisiplinan dalam mematuhi kebijakan dan prosedur yang ada merupakan hal yang sangat penting untuk menjaga keselamatan dan kenyamanan penumpang. Dalam dunia penerbangan yang kompleks, perhatian dan dedikasi tinggi terhadap setiap detail kecil dapat menentukan keberhasilan sebuah penerbangan.
Karena insiden ini tidak hanya berdampak pada perjalanan individu, tetapi juga bisa mempengaruhi citra perusahaan besar seperti United Airlines. Semua pihak diharapkan dapat belajar dari kejadian tersebut untuk meningkatkan kualitas layanan demi kenyamanan dan keselamatan penumpang di masa depan.