Sumber foto: Kompas.com

Permukaan Laut Naik 20 Cm, 680 Juta Orang di Dunia Terancam

Tanggal: 30 Mar 2025 12:36 wib.
Tampang.com | Utusan Khusus Sekretaris Jenderal PBB untuk Isu Air, Retno Marsudi, mengungkapkan bahwa permukaan air laut naik hingga 20 cm akibat mencairnya gletser. Kenaikan ini menjadi ancaman serius bagi ratusan juta orang di berbagai belahan dunia.

Mencairnya Gletser Sebabkan Hilangnya 900 Gigaton Air Tawar

Berdasarkan laporan Intergovernmental Panel on Climate Change (IPCC), dalam 50 tahun terakhir, dunia telah kehilangan 900 gigaton air tawar akibat mencairnya gletser. Hal ini menyebabkan naiknya permukaan laut hingga 20 cm lebih tinggi dibandingkan tahun 1900.


"Situasi ini telah menyebabkan naiknya level permukaan laut secara signifikan. Saat ini, air laut sudah naik 20 cm lebih tinggi dibanding permukaan laut tahun 1900," ujar Retno dalam sebuah acara di Jakarta Pusat, Rabu (26/3/2025).


680 Juta Orang Terancam, 700 Juta Berisiko Mengungsi

Naiknya permukaan air laut berpotensi menenggelamkan wilayah pesisir dan mengancam 680 juta orang di dunia. Selain itu, kekeringan dan banjir akibat perubahan iklim juga semakin parah.


"Pada 2023, PBB mencatat 32 juta orang terdampak krisis air hanya dalam satu tahun. Di tahun yang sama, 29,4 juta orang terkena dampak kekeringan," jelas Retno.


Retno juga memperingatkan bahwa 700 juta orang memiliki risiko harus mengungsi akibat kekeringan yang semakin parah. Diperkirakan pada tahun 2050, tiga per empat penduduk dunia akan terdampak oleh kekeringan.

Indonesia Juga Terancam Krisis Air

Krisis air juga menjadi ancaman bagi Indonesia. Saat ini, sekitar 3 juta orang hidup dengan risiko mengonsumsi air yang sudah tercemar. Retno menekankan bahwa pemerintah, sektor swasta, dan masyarakat harus bekerja sama untuk menangani masalah ini sebelum semakin memburuk.


"Pemerintah, swasta, dan semua pemangku kepentingan harus bersama-sama menangani krisis air ini," imbuhnya.


Tiga Langkah Strategis untuk Atasi Krisis Air

Sebagai Utusan Khusus PBB untuk Isu Air, Retno menjelaskan bahwa ada tiga tugas utama dalam menangani krisis air global, yaitu:



Advokasi – Mendorong para pemimpin dunia untuk menjadikan isu air sebagai prioritas politik dan meningkatkan kesadaran masyarakat tentang pentingnya air bersih.


Penyelarasan (Alignment) – Membangun kolaborasi internasional untuk menyusun strategi bersama dalam menghadapi krisis air.


Percepatan (Acceleration) – Mengakselerasi komitmen dan aksi nyata dalam penanganan krisis air di seluruh dunia.




"Kolaborasi, kerja sama, dan keterlibatan semua pihak sangat penting. Hanya dengan itu kita bisa mengatasi masalah ini," tegas Retno.


PBB menyatakan siap bekerja sama dengan pemerintah Indonesia dan seluruh pemangku kepentingan untuk menghadapi ancaman krisis air global yang semakin nyata.
Copyright © Tampang.com
All rights reserved