Sumber foto: Canva

Mengapa Negara Tertentu Menolak Menggunakan Jam Musim Panas (Daylight Saving)?

Tanggal: 29 Agu 2025 09:03 wib.
Setiap tahun, miliaran orang di seluruh dunia beramai-ramai memajukan jam mereka satu jam saat musim semi dan memundurkannya kembali saat musim gugur. Praktik ini, yang dikenal sebagai Jam Musim Panas (Daylight Saving Time - DST), awalnya diperkenalkan untuk menghemat energi dan memanfaatkan sinar matahari sore lebih lama. Tetapi, tidak semua negara mengadopsinya. Banyak negara, termasuk sebagian besar wilayah di Asia dan Afrika, menolak atau bahkan sudah menghapus DST. Keputusan ini didasarkan pada berbagai pertimbangan yang lebih kompleks daripada sekadar menghemat energi, mencakup faktor geografis, ekonomi, dan bahkan kesehatan.

Posisi Geografis sebagai Faktor Penentu Utama

Alasan paling mendasar mengapa banyak negara menolak DST adalah posisi geografisnya. DST paling efektif di negara-negara yang berada jauh dari garis khatulistiwa, di mana perbedaan panjang siang dan malam antara musim panas dan musim dingin sangat signifikan. Di wilayah lintang utara dan selatan yang tinggi, siang hari di musim panas bisa berlangsung sangat lama, sementara di musim dingin sangat pendek. Memajukan jam satu jam saat musim panas memungkinkan warga untuk menikmati sinar matahari sore lebih lama, menghemat energi untuk penerangan.

Namun, di negara-negara yang berada di dekat garis khatulistiwa, seperti Indonesia, Singapura, atau Malaysia, panjang siang dan malam relatif konstan sepanjang tahun. Perbedaan antara siang terpanjang dan terpendek hanya sekitar satu jam atau kurang. Menerapkan DST di wilayah ini tidak akan memberikan manfaat signifikan dalam hal menghemat energi atau memperpanjang waktu beraktivitas di bawah sinar matahari. Perubahan waktu justru akan menyebabkan kebingungan dan ketidaksesuaian dengan ritme harian penduduk.

Dampak Ekonomi yang Tidak Menguntungkan

Meskipun DST awalnya diklaim untuk menghemat energi, banyak penelitian modern menunjukkan bahwa dampak ekonominya justru minimal atau bahkan merugikan. Di beberapa negara, DST justru bisa meningkatkan konsumsi energi. Sebagai contoh, saat jam dimajukan, orang mungkin menyalakan AC lebih lama di sore hari yang lebih terang dan panas, yang bisa mengimbangi penghematan dari pengurangan penggunaan lampu.

Selain itu, peralihan waktu dua kali setahun menciptakan disrupsi pada sistem transportasi, logistik, dan perdagangan. Maskapai penerbangan, perusahaan kereta api, dan jadwal pengiriman barang harus disesuaikan, yang bisa menimbulkan biaya operasional tambahan dan potensi kesalahan. Bagi negara-negara yang berdagang secara global, perbedaan zona waktu yang tidak konsisten bisa menjadi kendala, membuat perencanaan bisnis lintas batas menjadi lebih rumit.

Beberapa negara, seperti Rusia, telah mengadopsi DST dan kemudian meninggalkannya karena menyadari bahwa manfaat yang dijanjikan tidak terwujud. Di Amerika Serikat, studi menunjukkan bahwa perubahan waktu ini bisa menyebabkan kerugian ekonomi miliaran dolar per tahun akibat hilangnya produktivitas dan biaya yang terkait dengan disrupsi.

Pertimbangan Kesehatan dan Kesejahteraan

Alasan penting lainnya yang mendorong penolakan DST adalah dampak negatifnya pada kesehatan manusia. Perubahan waktu, meskipun hanya satu jam, bisa mengganggu ritme sirkadian, yaitu jam biologis internal tubuh kita. Gangguan ritme ini bisa menyebabkan masalah tidur, peningkatan risiko serangan jantung, stroke, dan kecelakaan, terutama di minggu-minggu awal setelah perubahan waktu.

Bagi sebagian orang, terutama mereka yang sensitif terhadap perubahan jadwal, transisi ini bisa memicu kelelahan, sulit tidur, dan penurunan konsentrasi. Mengubah jadwal tidur secara tiba-tiba dianggap sama dengan mengalami jet lag. Meskipun efeknya mungkin tidak terlalu dramatis, akumulasi gangguan tidur dari waktu ke waktu bisa berdampak serius pada kesehatan jangka panjang. Beberapa negara dan wilayah di Amerika Serikat, seperti Arizona dan Hawaii, menolak DST karena masalah ini dan memilih untuk tetap berada di zona waktu yang sama sepanjang tahun.

Isu Sosial dan Budaya

Penolakan DST juga dipengaruhi oleh faktor sosial dan budaya. Di beberapa negara, seperti Turki, keputusan untuk mengakhiri DST diambil untuk menyelaraskan waktu dengan negara-negara Arab dan Timur Tengah lainnya, yang tidak mengadopsi DST. Ini mempermudah koordinasi ekonomi dan religius.

Selain itu, DST bisa menimbulkan kebingungan dan ketidaknyamanan bagi masyarakat umum. Banyak orang mengeluh harus menyesuaikan jadwal harian mereka, dari jadwal sekolah anak-anak hingga waktu ibadah. Bagi negara-negara yang sudah memiliki ritme harian yang stabil, menambahkan perubahan waktu dua kali setahun dianggap tidak perlu dan hanya menambah kerumitan hidup.
Copyright © Tampang.com
All rights reserved