Sumber foto: Canva

Mengapa Didikan di Tiongkok Sangat Disiplin dan Keras?

Tanggal: 28 Agu 2025 14:02 wib.
Citra pendidikan dan pengasuhan di Tiongkok seringkali digambarkan sebagai sesuatu yang sangat disiplin, keras, dan tanpa kompromi. "Tiger Parenting" atau pengasuhan ala macan, menarik perhatian global. Banyak orang melihatnya sebagai kunci di balik keberhasilan Tiongkok dalam berbagai bidang, sementara yang lain mengkritiknya karena dianggap mengorbankan kebebasan dan kreativitas anak. Memahami mengapa pendekatan ini begitu mengakar di Tiongkok membutuhkan penelusuran ke dalam sejarah, budaya, dan filosofi yang telah membentuk masyarakatnya selama ribuan tahun.

Pengaruh Kuat Konfusianisme dan Nilai Kolektif

Salah satu fondasi terkuat yang membentuk didikan keras di Tiongkok adalah Konfusianisme. Filosofi kuno ini sangat menekankan pentingnya hierarki, rasa hormat terhadap otoritas (terutama orang tua dan guru), serta tanggung jawab kolektif. Konfusianisme mengajarkan bahwa setiap individu memiliki peran dalam menjaga harmoni sosial dan keluarga. Dalam konteks ini, disiplin bukan sekadar aturan, melainkan sebuah kewajiban moral.

Orang tua Tionghoa modern masih sangat dipengaruhi oleh nilai-nilai ini. Mereka melihat peran mereka tidak hanya sebagai pengasuh, tetapi juga sebagai guru moral yang harus membentuk anak-anak agar menjadi individu yang patuh, pekerja keras, dan berkontribusi pada keluarga serta masyarakat. Ketaatan pada orang tua atau guru dianggap sebagai bentuk penghormatan tertinggi. Kegagalan anak dalam mematuhi atau mencapai standar tinggi seringkali tidak hanya dipandang sebagai kegagalan pribadi, tetapi juga sebagai aib bagi keluarga, mencerminkan nilai kolektif yang lebih diutamakan daripada individualisme.

Tekanan Kompetisi yang Sangat Tinggi

Tiongkok adalah negara dengan populasi terbesar di dunia. Ini berarti kompetisi untuk mendapatkan tempat terbaik sangatlah ketat, terutama dalam bidang pendidikan dan pekerjaan. Jalur menuju kesuksesan seringkali dianggap tunggal, yaitu melalui sistem pendidikan formal. Ujian masuk perguruan tinggi, yang dikenal sebagai Gaokao, adalah salah satu ujian terberat di dunia. Hasil dari Gaokao bisa menentukan masa depan seseorang, dan ini menciptakan tekanan yang luar biasa besar pada siswa dan orang tua.

Sistem ini memicu mentalitas "berjuang untuk bertahan hidup", di mana setiap nilai, setiap jam belajar tambahan, dan setiap prestasi di luar sekolah sangat berarti. Orang tua merasa harus mendorong anak-anak mereka sekeras mungkin agar tidak tertinggal. Mereka berinvestasi besar pada les tambahan, kelas khusus, dan bimbingan belajar, bahkan sejak usia dini. Disiplin keras dianggap sebagai satu-satunya cara untuk memastikan anak-anak mereka bisa bersaing dan sukses di tengah lautan pesaing yang tak terhitung jumlahnya.

Pandangan tentang Kecerdasan dan Usaha

Di banyak budaya Barat, kecerdasan seringkali dianggap sebagai sesuatu yang bawaan sejak lahir. Namun, dalam budaya Tionghoa, ada keyakinan kuat bahwa usaha (usaha) dan ketekunan jauh lebih penting daripada bakat alami. Ada pepatah Tiongkok kuno yang berbunyi, "Sebuah mutiara tidak akan bersinar sampai dipoles." Pepatah ini menekankan bahwa potensi hanya bisa terwujud melalui kerja keras dan disiplin yang tak henti-hentinya.

Keyakinan ini memengaruhi cara orang tua Tionghoa mendidik anak-anak mereka. Ketika seorang anak gagal, mereka cenderung tidak menyalahkannya pada kurangnya bakat, tetapi pada kurangnya usaha. Hal ini memotivasi orang tua untuk terus mendorong anak-anak mereka untuk mencoba lebih keras dan tidak menyerah. Pola pikir ini juga membentuk karakter yang tahan banting dan gigih, yang merupakan aset berharga di dunia yang kompetitif.

Peran Sejarah dan Perkembangan Ekonomi

Secara historis, Tiongkok telah melewati masa-masa sulit, termasuk perang, kelaparan, dan pergolakan sosial. Pengalaman ini membentuk mentalitas yang menghargai ketekunan, pengorbanan, dan kerja keras sebagai jalan menuju kemakmuran. Perkembangan ekonomi Tiongkok yang pesat dalam beberapa dekade terakhir juga didorong oleh mentalitas ini. Generasi yang lebih tua melihat hasil dari disiplin dan kerja keras dalam bentuk kemajuan ekonomi yang luar biasa.

Mereka ingin anak-anak mereka memiliki alat yang sama untuk mencapai kesuksesan. Banyak orang tua Tionghoa modern adalah anak-anak dari generasi yang mengalami kesulitan ekonomi, dan mereka sangat termotivasi untuk memastikan anak-anak mereka tidak mengalami hal yang sama. Mereka percaya bahwa dengan memberikan pendidikan terbaik—meskipun itu berarti harus keras dan menuntut—mereka memberikan warisan terbaik untuk masa depan anak-anak mereka.

Meskipun didikan keras di Tiongkok telah menunjukkan hasil dalam hal prestasi akademik dan ekonomi, ada juga perdebatan yang berkembang tentang dampak psikologisnya. Banyak yang berpendapat bahwa tekanan yang intens bisa menyebabkan stres, kecemasan, dan bahkan depresi pada anak. Ada juga kritik bahwa pendekatan ini bisa menghambat kreativitas dan pemikiran out-of-the-box, yang sangat dibutuhkan di era inovasi global saat ini.
Copyright © Tampang.com
All rights reserved