Sumber foto: Google

Kesalahan Fatal: Rencana Serangan AS ke Houthi Bocor Akibat Salah Undang Wartawan

Tanggal: 26 Mar 2025 10:11 wib.
Tampang.com | Kesalahan teknis dalam grup obrolan pejabat tinggi AS berujung pada bocornya rencana serangan militer terhadap kelompok Houthi di Yaman. Gedung Putih mengakui bahwa pihaknya tak sengaja memasukkan wartawan ke dalam grup tersebut, yang membahas strategi serangan sebelum diumumkan secara resmi.

Wartawan The Atlantic Dapat Akses Informasi Rahasia

Kejadian ini terungkap setelah Jeffrey Goldberg, pemimpin redaksi The Atlantic, menulis bahwa ia menerima pesan dari Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth melalui grup obrolan Signal yang juga diikuti oleh pejabat tinggi AS lainnya.

Dalam pesan tersebut, Hegseth secara rinci membahas target serangan, senjata yang digunakan, dan jadwal serangan. Goldberg mengutip salah satu pesan yang menyebut bahwa serangan pertama akan terjadi pada pukul 01.45 siang waktu Washington, dan ternyata tepat sasaran di Yaman.

Gedung Putih Akui Kesalahan Teknis

Juru bicara Dewan Keamanan Nasional AS, Brian Hughes, mengonfirmasi bahwa kebocoran ini tidak disengaja dan pihaknya sedang meninjau bagaimana nomor Goldberg bisa masuk ke dalam grup tersebut.


"Rangkaian pesan yang dilaporkan tampak asli, dan kami sedang menyelidiki bagaimana kesalahan ini bisa terjadi," ujar Hughes.


Perdebatan Internal di Grup Chat Terungkap

Selain rencana serangan, bocornya grup obrolan ini juga mengungkap adanya perdebatan di antara pejabat AS sebelum serangan dilaksanakan.

Pada 14 Maret 2025, seseorang yang diyakini sebagai Wakil Presiden AS JD Vance mengungkapkan keraguannya terhadap serangan ini, terutama karena lebih banyak kapal Eropa yang terdampak akibat serangan Houthi dibandingkan kapal AS.


"Saya tidak suka menyelamatkan Eropa lagi," tulis Vance dalam grup.


Komentar tersebut mendapat dukungan dari beberapa pejabat lain, termasuk seseorang berinisial SM, yang diyakini adalah penasihat Trump, Stephen Miller. Dalam pesannya, ia menyatakan bahwa jika AS harus mengeluarkan biaya besar untuk menyerang Houthi dan mengamankan jalur perdagangan, maka harus ada keuntungan ekonomi bagi AS sebagai imbalannya.

Siapa Houthi dan Mengapa Mereka Diserang?

Houthi adalah kelompok bersenjata yang telah menguasai sebagian besar wilayah Yaman selama lebih dari satu dekade. Mereka dikenal sebagai bagian dari Poros Perlawanan pro-Iran, yang menentang AS dan Israel.

Sejak perang di Gaza meletus, Houthi aktif menyerang kapal-kapal di Laut Merah dan Teluk Aden sebagai bentuk solidaritas terhadap Palestina. Serangan mereka membuat banyak kapal menghindari jalur tersebut, yang berdampak pada kerugian miliaran dolar bagi perdagangan global.

Langkah Selanjutnya dari Pemerintah AS

Meskipun telah terjadi kebocoran informasi, serangan terhadap posisi Houthi di Yaman tetap berlangsung. Namun, insiden ini menjadi tamparan keras bagi keamanan informasi pemerintah AS, terutama dalam operasi militer.

Para pejabat AS kini berupaya menelusuri penyebab kesalahan teknis ini, sambil terus memantau respons Houthi terhadap serangan yang telah mereka lancarkan.
Copyright © Tampang.com
All rights reserved