Sumber foto: Google

Gedung Putih Akui Kebocoran Informasi Serangan AS ke Houthi di Yaman

Tanggal: 26 Mar 2025 09:46 wib.
Tampang.com | Pemerintahan Amerika Serikat (AS) tengah menghadapi skandal besar setelah Gedung Putih mengonfirmasi adanya kebocoran informasi militer terkait serangan udara terhadap kelompok Houthi di Yaman. Jurnalis Jeffrey Goldberg dari The Atlantic secara tidak sengaja mendapatkan akses ke rencana serangan dua hari sebelum serangan dimulai.

Dalam laporannya, Goldberg mengungkap bahwa ia menerima pesan terenkripsi berisi rincian target, jenis senjata yang digunakan, serta urutan serangan langsung dari Menteri Pertahanan AS, Pete Hegseth.

Kesalahan Fatal: Jurnalis Ditambahkan ke Grup Rahasia

Menurut laporan AFP, kebocoran ini berawal dari kesalahan teknis yang membuat Goldberg ditambahkan ke grup "Houthi PC Small Group", tempat pejabat tinggi AS membahas strategi militer.

Percakapan dalam grup tersebut mengungkap adanya perdebatan di kalangan pejabat pemerintahan Donald Trump terkait pentingnya serangan ke Houthi. Wakil Presiden JD Vance sempat mempertanyakan urgensi serangan, mengingat Eropa lebih terdampak dibanding AS. Namun, Menteri Pertahanan Hegseth dan Penasihat Keamanan Nasional Mike Waltz bersikeras bahwa hanya AS yang mampu menjalankan operasi ini.

Sementara itu, penasihat senior Trump, Stephen Miller, bahkan menyatakan bahwa AS seharusnya mendapat keuntungan ekonomi dari intervensi ini.

Gedung Putih dan Trump Bungkam, Demokrat Bereaksi Keras

Setelah laporan ini mencuat, Gedung Putih melalui juru bicara Dewan Keamanan Nasional, Brian Hughes, mengatakan bahwa pihaknya tengah menyelidiki bagaimana kebocoran ini bisa terjadi.

Namun, Presiden Donald Trump langsung membantah keterlibatannya. "Saya tidak tahu apa-apa soal itu," ujarnya sambil mengejek The Atlantic sebagai media yang tidak penting.

Menteri Pertahanan Hegseth juga membantah klaim Goldberg dan menyebut laporan tersebut sebagai "berita sampah".

Di sisi lain, Partai Demokrat menilai insiden ini sebagai pelanggaran keamanan serius. Jamie Raskin, anggota Kongres dari Partai Demokrat, menuding bahwa kebocoran ini berpotensi melanggar hukum dan harus segera diusut tuntas.

Dampak Terhadap Keamanan Nasional AS

Para analis memperingatkan bahwa kebocoran informasi ini dapat memperburuk situasi di Timur Tengah. Serangan terhadap Houthi semakin meningkatkan ketegangan antara AS dan Iran, yang merupakan pendukung utama kelompok tersebut.

Meski demikian, militer AS tetap melanjutkan serangan udara ke Yaman sejak 15 Maret 2025, dengan laporan korban jiwa mencapai lebih dari 50 orang.

Kejadian ini tidak hanya menjadi salah satu pelanggaran keamanan terbesar dalam sejarah AS, tetapi juga dapat mempengaruhi kebijakan luar negeri Washington di masa mendatang.
Copyright © Tampang.com
All rights reserved