Sumber foto: iStock

Di Balik Gemerlap Korea Selatan: Ketimpangan Hidup, Bunuh Diri, dan Krisis Kebahagiaan

Tanggal: 2 Mar 2025 08:06 wib.
Korea Selatan, sebuah negara yang dikenal dengan perkembangan teknologi dan budaya pop-nya yang mendunia, kini menghadapi masalah serius yang menarik perhatian masyarakat global. Kualitas hidup penduduknya semakin menurun, dan hal ini tercermin dalam meningkatnya angka bunuh diri yang mengkhawatirkan.

Dalam laporan tahunan Indikator Kualitas Hidup 2024 yang dirilis oleh Badan Statistik Korea, kualitas hidup warga Korea Selatan mengalami penurunan signifikan, di mana skor kepuasan hidup subjektif mereka tercatat hanya 6,4 dari 10, mengalami penurunan sebesar 0,1 poin dibandingkan dengan tahun sebelumnya.

Dari data yang dipublikasikan oleh The Korea Herald, peringkat kepuasan hidup Korea Selatan dalam konteks Organisasi untuk Kerja Sama dan Pembangunan Ekonomi (OECD) juga mencerminkan betapa suramnya keadaan ini.

Negara ini berada di peringkat ke-33 dari 38 negara anggota dengan skor rata-rata hanya 6,06, jauh lebih rendah dibandingkan rata-rata global yang mencapai 6,69. Angka ini semakin menekankan betapa banyaknya warga Korea yang merasa tidak puas dengan hidup mereka. Finlandia bahkan menduduki peringkat teratas dengan skor kepuasan hidup 7,74.

Faktor ekonomi berperan besar dalam tingkat kepuasan hidup. Mereka yang memiliki penghasilan di bawah 1 juta won (sekitar Rp11 juta) per bulan mengalami kepuasan hidup yang lebih rendah, dengan skor hanya mencapai 5,7, sementara mereka yang berpenghasilan di atas 5 juta won (sekitar Rp55 juta) melaporkan skor yang lebih tinggi, yakni 6,6. Hal ini menegaskan bahwa kondisi ekonomi yang sulit dapat mempengaruhi kesejahteraan mental dan emosional individu.

Analisis yang lebih dalam menunjukkan bahwa tren bunuh diri semakin mengkhawatirkan. Pada tahun 2023, Korea Selatan mencatat angka bunuh diri tertinggi dalam sembilan tahun terakhir, berada pada level 27,3 kasus per 100.000 orang. Angka ini mencerminkan lonjakan signifikan dan kembali menyamai level yang tercatat pada tahun 2014.

Yang lebih meresahkan, pria dewasa di Korea Selatan memiliki risiko bunuh diri yang hampir dua kali lebih tinggi dibandingkan wanita. Tingkat bunuh diri pria meningkat dari 35,3 menjadi mencapai 38,3 per 100.000 jiwa, sedangkan wanita juga mengalami kenaikan dari 15,1 menjadi 16,5 per 100.000 jiwa.

Data menunjukkan bahwa risiko bunuh diri semakin meningkat seiring dengan bertambahnya usia. Kelompok usia 80 tahun ke atas mencatatkan tingkat bunuh diri tertinggi, yaitu 59,5 per 100.000 jiwa. Mereka yang berusia di dekade tujuh juga menunjukkan angka tinggi, yakni 39 per 100.000 jiwa.

Di sisi lain, kelompok remaja menunjukkan fenomena yang berbeda, di mana remaja perempuan mengalami bunuh diri lebih banyak dibandingkan remaja laki-laki, dengan angka mencapai 8,8 per 100.000 jiwa, sedangkan remaja laki-laki tercatat pada angka 7,1.

Ketidakpuasan hidup dan angka bunuh diri yang meningkat tidak hanya menjadi masalah individu, tetapi juga mencerminkan masalah yang lebih besar dalam masyarakat Korea Selatan. Negara ini saat ini memegang rekor tertinggi tingkat bunuh diri di antara 38 negara anggota OECD. Pada tahun 2021, angka bunuh diri Korea Selatan mencapai 24,3 per 100.000 jiwa, jauh di atas angka Lithuania yang berada di posisi kedua dengan 18,5. Sebagai perbandingan, Yunani berada di posisi terendah dengan hanya 3,5 per 100.000 jiwa.

Selain lonjakan angka bunuh diri, indikator lainnya yang menunjukkan penurunan kualitas hidup adalah melemahnya hubungan antaranggota keluarga. Survei menunjukkan kepuasan terhadap hubungan keluarga di Korea Selatan hanya mencapai 63,5% pada tahun 2023, turun satu persen dibandingkan tahun sebelumnya.

Kepercayaan antarindividu pun menunjukkan tren menurun, dengan data menunjukan hanya ada 52,7% yang merasa saling percaya satu sama lain, angka yang jauh lebih rendah dibandingkan 59,3% yang tercatat pada tahun 2021. 

Menambah ketegangan, biaya hidup, terutama di sektor pendidikan, terus meningkat. Pengeluaran untuk pendidikan mengalami peningkatan sebesar 3,2% dan kini telah mencapai 60,9% dari pendapatan, memperparah keresahan masyarakat terhadap masa depan anak-anak mereka.

Selain itu, waktu luang warga Korea Selatan juga semakin menyusut, dengan rata-rata waktu santai yang kini hanya 4,1 jam per hari, meskipun jumlah hari perjalanan tahunan per orang sedikit meningkat menjadi 8,95 hari. Ini menandakan bahwa meskipun ada sedikit pemulihan pascapandemi, warga masih merasakan tekanan yang sangat besar dalam rutinitas harian.

Di tengah berbagai permasalahan yang terjadi, ada beberapa kabar baik yang perlu dicatat. Tingkat ketenagakerjaan di Korea Selatan berhasil mencapai angka 62,7% pada tahun 2024, sedikit meningkat dibandingkan dengan 62,6% di tahun sebelumnya. Kenaikan ini sebagian besar didorong oleh peningkatan partisipasi perempuan di tempat kerja. Namun, hal ini kontras dengan angka ketenagakerjaan pria yang menurun 0,4% menjadi 70,9%, sedangkan perempuan malah mengalami kenaikan 0,6% menjadi 54,7%.

Pendapatan Domestik Bruto (PDB) per kapita Korea Selatan juga menunjukkan tren positif, dengan data terbaru mencatat angka tertinggi, yaitu 42,35 juta won (sekitar Rp465 juta) pada tahun 2023. Ini meningkat 2,1%, dan meskipun aset bersih rumah tangga mencapai 393,19 juta won (sekitar Rp4,3 miliar), angka ini masih jauh di bawah puncaknya yang tercatat pada tahun 2022.

Seiring dengan kompleksitas masalah yang melanda masyarakat Korea Selatan, faktor-faktor seperti tekanan ekonomi, biaya hidup yang tinggi, jam kerja yang panjang, serta ekspektasi sosial yang cukup beban, menjadi pemicu utama ketidakpuasan hidup.

Di satu sisi, Korea Selatan dikenal sebagai negara dengan perekonomian maju, tetapi di sisi lain, banyak warganya yang tidak merasakan kebahagiaan yang diharapkan. Fenomena ini menandakan perlu adanya perhatian lebih dalam menyelesaikan isu-isu yang dihadapi oleh masyarakat agar kualitas hidup dapat kembali ditingkatkan.
Copyright © Tampang.com
All rights reserved