Asal Usul Tradisi Minum Teh di Inggris yang Jadi Ikon Budaya
Tanggal: 29 Agu 2025 08:52 wib.
Teh adalah minuman yang identik dengan Inggris, sama seperti teh adalah minuman yang sangat populer di seluruh dunia. Bagi banyak orang, membayangkan Inggris seringkali tak terpisahkan dari ritual minum teh sore atau Afternoon Tea yang ikonik. Siapa sangka, minuman ini bukan asli dari sana. Ia datang dari Asia Timur, melewati perjalanan panjang yang penuh intrik politik, perdagangan global, dan peran seorang bangsawan yang mengubah kebiasaan minum teh dari sekadar minuman eksklusif menjadi ritual budaya yang mendunia.
Kedatangan Teh di Tanah Inggris: Sebuah Minuman Eksotis
Teh pertama kali masuk ke Inggris pada abad ke-17, dibawa oleh para pedagang dari Perusahaan Hindia Timur Britania yang berlayar ke Timur. Awalnya, teh adalah barang langka yang sangat mahal dan hanya bisa dinikmati oleh kaum bangsawan super kaya. Raja Charles II dan istrinya, Catherine dari Braganza, adalah sosok penting yang mempopulerkan teh di kalangan elit kerajaan. Catherine, yang berasal dari Portugal, membawa kebiasaan minum teh sebagai bagian dari mahar pernikahannya, menjadikannya tren di istana.
Saat itu, teh dipercaya memiliki khasiat obat, bisa menyembuhkan penyakit, dan menjadi simbol status sosial yang tinggi. Memiliki teh di rumah adalah tanda kekayaan dan keanggunan. Para bangsawan akan memamerkan poci teh dari Tiongkok yang indah dan cangkir-cangkir keramik yang dihias dengan rumit sebagai bagian dari pesta teh yang mewah. Konsumsi teh pada masa itu masih sangat terbatas, bukan kebiasaan sehari-hari seperti sekarang.
Revolusi Teh: Dari Bangsawan ke Masyarakat Luas
Minum teh mulai menyebar ke masyarakat luas ketika harganya turun drastis di abad ke-18 dan ke-19. Perusahaan Hindia Timur Britania mulai mengimpor teh dalam jumlah besar dari Tiongkok dan kemudian mengembangkan perkebunan teh besar di India dan Ceylon (sekarang Sri Lanka) untuk memecahkan monopoli Tiongkok. Ketersediaan teh yang melimpah ini membuatnya lebih terjangkau oleh kelas menengah dan bawah.
Namun, faktor terpenting yang mengubah teh menjadi kebiasaan nasional adalah penciptaan tradisi Afternoon Tea oleh Anna Russell, Duchess of Bedford, pada tahun 1840-an. Di masa itu, makan siang para bangsawan sangat ringan, dan makan malam baru disajikan sangat larut, sekitar pukul 8 malam. Anna merasa lapar di sore hari, dan ia meminta pelayannya membawakan teh, roti, dan kue ke kamarnya. Kebiasaan ini kemudian berkembang menjadi ritual sosial di mana ia mengundang teman-teman untuk bergabung. Tradisi ini kemudian menyebar ke seluruh Inggris sebagai acara sosial yang sopan dan menyenangkan, yang diisi dengan percakapan, tawa, dan tentu saja, teh, scone, sandwich, dan kue.
Ritual dan Aturan Tak Tertulis dalam Tradisi Teh
Tradisi minum teh di Inggris berkembang menjadi ritual dengan aturan-aturan tak tertulis yang khas, terutama dalam acara formal. Misalnya, ada perdebatan abadi tentang urutan memasukkan susu dan teh ke dalam cangkir. Tradisi kuno mengajarkan untuk menuangkan susu terlebih dahulu, terutama jika menggunakan cangkir keramik tipis yang rentan retak karena suhu teh panas. Namun, banyak orang kini lebih memilih menuangkan teh terlebih dahulu untuk bisa mengatur seberapa banyak susu yang diinginkan.
Cara memegang cangkir, mengaduk teh, dan menyajikan scone juga punya etiketnya sendiri. Mengaduk teh harus dilakukan dengan gerakan lembut dari depan ke belakang, bukan memutar. Scone harus dipotong menjadi dua secara horizontal, lalu diolesi selai dan krim. Pertanyaan yang sering memicu perdebatan adalah apakah yang dioleskan duluan itu selai atau krim. Warga Cornwall biasanya mengoleskan selai, sementara warga Devon lebih suka krim. Detail-detail kecil ini justru menunjukkan betapa tradisi teh sudah begitu mengakar dan memiliki warisan yang kaya.
Teh dan Identitas Inggris di Panggung Global
Hingga kini, teh tetap menjadi bagian tak terpisahkan dari identitas Inggris. Ia tidak hanya dinikmati di rumah atau di kedai teh mewah, tetapi juga di tempat kerja sebagai bagian dari ritual istirahat sore, atau bahkan di tengah krisis sebagai penenang. Ungkapan seperti "A nice cup of tea solves everything" (secangkir teh yang enak menyelesaikan segalanya) menunjukkan betapa teh telah menjadi simbol kenyamanan, ketenangan, dan ketahanan.