Sumber foto: Canva

Alasan Beberapa Negara Melarang Penggunaan Kantong Plastik Total

Tanggal: 29 Agu 2025 09:09 wib.
 Di berbagai belahan dunia, dari Afrika hingga Eropa dan Asia, banyak negara telah mengambil langkah berani dengan melarang penggunaan kantong plastik sekali pakai secara total. Keputusan drastis ini didasari oleh serangkaian alasan mendesak, mulai dari kerusakan ekologis hingga tantangan kesehatan publik.

Ancaman Terhadap Ekosistem Laut dan Darat

Alasan utama di balik larangan kantong plastik adalah dampak lingkungan yang masif. Kantong plastik terbuat dari bahan petrokimia yang sulit terurai. Mereka bisa membutuhkan waktu ratusan bahkan ribuan tahun untuk benar-benar hilang dari lingkungan. Selama proses itu, kantong plastik sering kali berakhir di lautan, sungai, dan lahan.

Di lautan, kantong plastik menjadi salah satu polutan terbesar. Laporan PBB menunjukkan bahwa jutaan ton sampah plastik masuk ke laut setiap tahun. Hewan laut, seperti penyu, ikan, dan mamalia laut, sering kali mengira kantong plastik sebagai makanan atau ubur-ubur. Ketika tertelan, kantong plastik bisa menyumbat saluran pencernaan mereka, menyebabkan kelaparan dan kematian. Selain itu, plastik juga bisa menjerat hewan-hewan ini, membuat mereka mati lemas atau terluka.

Di daratan, kantong plastik menyumbat saluran air, got, dan drainase. Akibatnya, sistem drainase menjadi tidak berfungsi, meningkatkan risiko banjir, terutama di wilayah perkotaan padat. Di tanah pertanian, partikel plastik dapat mencemari tanah, merusak kesuburan, dan memengaruhi hasil panen. Lingkungan yang tercemar plastik juga menjadi tidak nyaman dipandang, menurunkan kualitas hidup masyarakat.

Dampak Buruk pada Kesehatan Manusia

Kantong plastik tidak hanya merusak lingkungan, tetapi juga bisa membahayakan kesehatan manusia. Saat kantong plastik terurai menjadi fragmen yang sangat kecil, yang dikenal sebagai mikroplastik, partikel-partikel ini bisa masuk ke rantai makanan. Ikan dan hewan laut lainnya yang mengonsumsi mikroplastik pada akhirnya akan dimakan oleh manusia.

Penelitian awal menunjukkan bahwa mikroplastik telah ditemukan di berbagai bagian tubuh manusia, termasuk darah, paru-paru, dan plasenta. Meskipun dampak jangka panjang dari keberadaan mikroplastik ini masih dalam penelitian, kekhawatiran tentang potensi risiko kesehatan sangatlah nyata. Mikroplastik bisa membawa bahan kimia beracun yang ditambahkan selama proses produksi plastik, seperti ftalat dan bisfenol A (BPA), yang dapat mengganggu sistem hormon.

Larangan kantong plastik juga terkait dengan praktik kesehatan. Kantong plastik yang sering digunakan berulang kali untuk membawa bahan makanan tanpa dicuci dapat menjadi tempat berkembang biak bakteri dan kuman. Ini meningkatkan risiko kontaminasi silang, terutama jika kantong yang sama digunakan untuk bahan makanan mentah dan matang.

Mendorong Ekonomi Sirkular dan Inovasi

Larangan kantong plastik total bukan hanya tentang melarang, tetapi juga tentang mendorong perubahan perilaku dan inovasi. Ketika masyarakat tidak lagi memiliki opsi kantong plastik sekali pakai, mereka akan beralih ke alternatif yang lebih berkelanjutan. Hal ini mendorong tumbuhnya industri tas belanja kain, tas daur ulang, dan wadah yang dapat digunakan berulang kali. Ini menciptakan ekonomi sirkular, di mana produk didesain untuk digunakan kembali, bukan dibuang setelah satu kali pemakaian.

Pemerintah yang memberlakukan larangan ini sering kali juga memberikan insentif atau dukungan untuk bisnis yang mengembangkan bahan kemasan ramah lingkungan. Inovasi dalam bahan biodegradable, seperti tas dari pati singkong atau rumput laut, semakin berkembang. Larangan ini memaksa industri untuk berpikir di luar kebiasaan lama dan berinvestasi dalam solusi yang lebih hijau.

Dengan adanya larangan, masyarakat juga didorong untuk menjadi lebih sadar akan jejak lingkungan mereka. Membawa tas belanja sendiri menjadi kebiasaan baru yang positif, mengurangi ketergantungan pada produk sekali pakai.

Upaya Global Menuju Keberlanjutan

Larangan kantong plastik merupakan bagian dari upaya global yang lebih besar untuk mengatasi krisis iklim dan lingkungan. Negara-negara yang mempelopori larangan ini, seperti Rwanda, Kenya, dan beberapa negara bagian di Amerika Serikat, mengirimkan pesan kuat kepada dunia bahwa keberlanjutan adalah prioritas.

Rwanda, misalnya, melarang kantong plastik pada tahun 2008 dan menjadi salah satu negara paling bersih di Afrika. Kenya memberlakukan larangan pada tahun 2017 dengan denda besar bagi pelanggarnya, menunjukkan komitmen serius mereka. Komitmen ini tidak hanya berdampak pada lingkungan domestik, tetapi juga menginspirasi negara-negara lain untuk mengambil langkah serupa. Ini menunjukkan bahwa perubahan besar bisa dimulai dari kebijakan yang tegas.

Larangan kantong plastik adalah manifestasi dari pemahaman bahwa masalah lingkungan membutuhkan solusi sistemik. Ini bukan hanya tanggung jawab individu, tetapi juga kebijakan pemerintah yang berani untuk memutus siklus konsumsi dan pembuangan yang tidak berkelanjutan.
Copyright © Tampang.com
All rights reserved