Mengungkap Alasan di Balik Selera Kuliner Orang Indonesia yang Suka Cita Rasa Gurih
Tanggal: 28 Agu 2025 14:05 wib.
Jika ada satu rasa yang dominan dalam masakan Indonesia, itu adalah gurih. Dari seporsi nasi goreng yang kaya rempah, semangkuk bakso yang berkuah kaldu kental, hingga rendang yang legit, cita rasa gurih seolah menjadi jiwa dari setiap hidangan. Preferensi kuat terhadap rasa ini bukanlah kebetulan belaka. Ada banyak faktor yang membentuk selera kuliner ini, mulai dari sejarah, kekayaan alam, hingga kebiasaan sehari-hari yang sudah mengakar kuat.
Sejarah dan Geografi: Melimpahnya Rempah dan Sumber Protein
Kecintaan orang Indonesia pada rasa gurih tidak bisa dilepaskan dari sejarah dan geografi kepulauan. Sejak dahulu kala, Nusantara adalah pusat perdagangan rempah-rempah yang tersohor. Rempah-rempah seperti cengkeh, pala, lada, dan ketumbar, yang banyak digunakan dalam masakan, tidak hanya memberikan aroma, tetapi juga menambah kedalaman rasa yang kompleks dan gurih. Penggunaan rempah ini menjadi ciri khas masakan Indonesia.
Selain rempah, Indonesia juga kaya akan sumber daya alam yang melimpah, terutama dari laut. Ikan, udang, dan berbagai jenis seafood lainnya merupakan sumber protein hewani yang mudah didapat. Seringkali, makanan-makanan ini diolah dengan cara direbus atau digoreng hingga menghasilkan kaldu atau minyak yang secara alami mengeluarkan rasa gurih yang khas. Penggunaan terasi atau petis, yang merupakan produk fermentasi dari hasil laut, juga menjadi elemen penting yang memberikan sentuhan gurih yang kuat dan unik pada masakan.
Peran Bumbu Dasar dan Tradisi Memasak
Dalam dapur tradisional Indonesia, ada bumbu dasar yang selalu digunakan, seperti bawang merah, bawang putih, kemiri, dan cabai. Bumbu-bumbu ini ditumis atau dihaluskan bersama rempah, menciptakan pasta bumbu yang menjadi fondasi setiap masakan. Proses menumis bumbu hingga matang dan beraroma ini sering disebut sebagai "mengeluarkan sarinya," yang tidak lain adalah proses pelepasan senyawa-senyawa yang memberikan cita rasa gurih. Kebiasaan ini sudah turun-temurun dan menjadi bagian tak terpisahkan dari cara memasak orang Indonesia.
Selain itu, teknik memasak seperti merebus dalam kaldu juga sangat populer. Semangkuk soto atau sup yang lezat kuncinya terletak pada kaldu yang kaya rasa. Kaldu dibuat dari tulang ayam, sapi, atau ikan yang direbus dalam waktu lama, sehingga semua sari-sari alaminya keluar. Rasa gurih yang dihasilkan dari kaldu ini terasa sangat autentik dan menenangkan, memberikan efek kenyamanan bagi siapa pun yang menyantapnya. Ini adalah cara alami orang Indonesia mendapatkan cita rasa gurih tanpa tambahan bahan instan.
MSG dan Adaptasi Selera di Era Modern
Perkembangan zaman membawa serta inovasi dalam dunia kuliner, termasuk kemunculan monosodium glutamat (MSG). Zat ini, yang sering disebut sebagai "penyedap rasa," merupakan representasi dari rasa umami atau gurih yang kuat. MSG dibuat dari fermentasi tebu, jagung, atau singkong, yang menghasilkan asam amino glutamat. Asam amino ini secara alami juga ditemukan dalam makanan gurih seperti keju, tomat, dan jamur.
Masyarakat Indonesia, yang sudah memiliki selera dasar terhadap rasa gurih, dengan mudah menerima kehadiran MSG. Penggunaan MSG dalam masakan menjadi jalan pintas untuk mendapatkan rasa gurih yang cepat dan konsisten, tanpa harus melalui proses panjang seperti membuat kaldu atau meracik bumbu dari nol. Ini membuat MSG menjadi sangat populer, baik di rumah tangga maupun di industri makanan, karena bisa menyempurnakan rasa makanan dalam waktu singkat.
Namun, penting juga untuk diingat bahwa MSG bukanlah satu-satunya sumber rasa gurih. Penggunaan MSG hanya menguatkan rasa alami yang sudah ada. Rasa gurih sejati dari masakan tradisional tetap datang dari bumbu rempah-rempah, kaldu, santan, dan bahan alami lainnya.
Gurih Sebagai Sensasi Kenikmatan dan Keseimbangan Rasa
Rasa gurih tidak berdiri sendiri. Ia seringkali berpadu dengan rasa lain, seperti pedas, manis, dan asam, untuk menciptakan harmoni rasa yang seimbang. Di Indonesia, cita rasa gurih sering disandingkan dengan rasa pedas dari cabai, seperti pada sambal, atau rasa manis dari kecap dan gula merah. Kombinasi ini menghasilkan sensasi yang kompleks dan membuat lidah ketagihan.
Pada dasarnya, rasa gurih memberikan sensasi kenikmatan yang mendalam dan memuaskan. Ia merangsang reseptor rasa umami di lidah, yang memberi sinyal ke otak bahwa makanan tersebut mengandung protein dan nutrisi yang dibutuhkan tubuh. Sinyal inilah yang menciptakan perasaan puas dan ingin terus menyantap hidangan tersebut.