Penelitian Ungkap Teh Celup di Indonesia Mengandung Mikroplastik, Ini Bahayanya
Tanggal: 28 Mar 2025 13:11 wib.
Tampang.com | Penelitian terbaru dari Ecological Observation and Wetlands Conservation (ECOTON) mengungkap fakta mengejutkan: sejumlah teh celup yang beredar di Indonesia mengandung mikroplastik yang berbahaya bagi kesehatan. Mikroplastik ini berasal dari kantong teh celup yang melepaskan partikel plastik saat terpapar panas.
Mikroplastik Ditemukan dalam Teh Celup
Tim peneliti ECOTON menguji lima merek teh celup yang paling populer di Indonesia pada Februari 2025. Peneliti mikroplastik ECOTON, Rafika Aprilianti, menjelaskan bahwa uji coba dilakukan dengan dua metode berbeda untuk mendeteksi kandungan mikroplastik dalam teh.
Metode pertama: Kantong teh celup dimasukkan ke dalam air mendidih hingga suhu mencapai 95 derajat Celcius.
Metode kedua: Air dipanaskan hingga 95 derajat Celcius terlebih dahulu, lalu teh celup dimasukkan.
Hasilnya menunjukkan bahwa kedua metode tersebut menyebabkan pelepasan mikroplastik ke dalam air teh. Namun, jumlah partikel mikroplastik lebih tinggi pada metode pertama dibandingkan metode kedua.
Dalam metode pertama, jumlah mikroplastik yang terdeteksi dalam air teh berkisar antara 1.013 hingga 1.100 partikel per cangkir, sementara pada metode kedua jumlahnya lebih rendah, yaitu 641 hingga 763 partikel per cangkir.
Bahaya Mikroplastik bagi Kesehatan
Menurut Kementerian Kesehatan (Kemenkes), mikroplastik adalah partikel plastik berukuran kurang dari 5 milimeter yang dapat memberikan dampak negatif bagi kesehatan manusia.
Ketika dikonsumsi, mikroplastik dapat:
Masuk ke saluran pencernaan dan menyebar ke organ tubuh seperti hati, ginjal, jantung, hingga otak.
Menyebabkan inflamasi dan stres oksidatif yang berisiko memicu penyakit kronis.
Mengganggu sistem hormon dan meningkatkan risiko kanker.
Berdasarkan jurnal Environmental Science & Technology tahun 2024, masyarakat Indonesia diperkirakan mengonsumsi 15 gram mikroplastik per bulan, setara dengan tiga kartu ATM.
BPOM Lakukan Penelusuran
Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) menanggapi temuan ECOTON dengan menyatakan bahwa sebagian besar kantong teh celup di Indonesia terbuat dari kertas dan plastik, dengan lapisan plastik polietilen untuk meningkatkan daya rekat.
Koordinator Humas BPOM, Eka Rosmalasari, mengatakan bahwa pihaknya masih menelusuri temuan ini sebelum memberikan pernyataan resmi. Namun, BPOM menegaskan bahwa produk yang telah terdaftar di BPOM telah melalui evaluasi keamanan pangan.
"Kami masih melakukan penelusuran lebih lanjut terkait hasil penelitian ECOTON dan akan memberikan informasi terbaru setelah investigasi selesai," ujar Eka.
Cara Menghindari Mikroplastik dalam Teh
Sebagai langkah pencegahan, Rafika Aprilianti dari ECOTON menyarankan masyarakat untuk beralih ke teh daun asli yang diseduh langsung tanpa kantong teh celup berbahan plastik.
Beberapa cara menyeduh teh yang lebih aman adalah:
Menggunakan teko dan saringan stainless steel.
Memakai French press untuk menyaring daun teh.
Memilih teh organik dalam bentuk daun kering daripada teh celup kemasan.
Penemuan ini menjadi peringatan bagi masyarakat untuk lebih selektif dalam memilih produk makanan dan minuman, terutama yang berpotensi mengandung mikroplastik.