Mewabahnya Campak di Eropa: Ancaman Serius yang Lebih Parah dari COVID-19?
Tanggal: 2 Apr 2025 13:57 wib.
Tampang.com | Eropa tengah menghadapi lonjakan kasus campak yang sangat mengkhawatirkan. Bahkan, data terbaru menunjukkan bahwa wabah ini menjadi yang terburuk dalam 17 tahun terakhir. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) dan UNICEF melaporkan bahwa sepanjang tahun 2024, terdapat 127.350 kasus campak di kawasan Eropa. Jumlah ini meningkat dua kali lipat dibandingkan tahun sebelumnya dan menjadi yang tertinggi sejak 1997.
Berdasarkan laporan WHO yang dirilis pada 13 Maret 2025, anak-anak di bawah usia lima tahun menjadi kelompok paling terdampak. Mereka menyumbang lebih dari 40% dari total kasus yang tersebar di 53 negara di Eropa dan Asia Tengah. Parahnya, lebih dari setengah dari mereka yang terinfeksi harus menjalani perawatan di rumah sakit. Hingga 6 Maret 2025, setidaknya 38 kematian telah dilaporkan akibat wabah ini.
Lonjakan Kasus Akibat Cakupan Vaksinasi yang Buruk
Regina De Dominicis, Direktur Regional UNICEF untuk Eropa dan Asia Tengah, mengungkapkan bahwa kawasan ini menyumbang sepertiga dari seluruh kasus campak di dunia pada tahun 2024. Salah satu penyebab utama meningkatnya kasus adalah rendahnya cakupan imunisasi. Pada tahun 2023 saja, lebih dari 500.000 anak di kawasan ini tidak mendapatkan dosis pertama vaksin campak (MCV1) melalui layanan imunisasi rutin.
"Kasus campak di seluruh Eropa dan Asia Tengah telah meningkat selama dua tahun terakhir—ini menunjukkan adanya kesenjangan besar dalam cakupan imunisasi," ungkap Regina.
Ia menegaskan bahwa pemerintah harus segera bertindak untuk melindungi anak-anak dari penyakit mematikan ini. Salah satu langkah krusial adalah investasi berkelanjutan dalam tenaga kesehatan dan peningkatan akses terhadap vaksin.
Seberapa Berbahaya Penyebaran Campak?
Menurut Michael Head, peneliti senior di bidang kesehatan global dari Universitas Southampton, penularan campak mirip dengan COVID-19, yaitu melalui droplet pernapasan dan aerosol. Virus ini sangat menular dan dapat menyebar dengan cepat dari satu individu ke individu lainnya.
"Infeksi ini dapat menyebabkan ruam dan demam pada kasus ringan, tetapi dalam kasus yang lebih berat, bisa menyebabkan ensefalitis (pembengkakan otak), pneumonia, bahkan kebutaan," tulisnya dalam The Conversation.
Risiko kematian akibat campak juga cukup tinggi, terutama bagi mereka yang tidak divaksinasi. Di negara maju, tingkat kematian akibat campak diperkirakan satu dari 1.000 hingga satu dari 5.000 kasus.
"Setiap orang yang terinfeksi campak rata-rata akan menularkan virus ini ke 12 hingga 18 orang lainnya. Angka ini jauh lebih tinggi dibandingkan COVID-19," jelasnya.
Meski sangat menular, campak sebenarnya dapat dicegah dengan vaksinasi. Vaksin MMR (campak, gondongan, dan rubella) diketahui memberikan perlindungan lebih dari 99% jika diberikan dalam dua dosis.
Misinformasi: Faktor Utama Penyebaran Campak di Eropa
Selain rendahnya cakupan vaksinasi, faktor utama yang memperparah wabah ini adalah misinformasi.
Michael Head menyoroti bagaimana hoaks terkait vaksin telah merusak kepercayaan masyarakat terhadap imunisasi. Salah satu kasus paling terkenal adalah klaim palsu dari mantan dokter Andrew Wakefield di Inggris pada tahun 2002. Ia menyebarkan informasi bahwa vaksin MMR dapat menyebabkan autisme.
Meskipun makalahnya kemudian ditarik dari jurnal medis The Lancet, dampaknya masih terasa hingga saat ini. Banyak orang tua yang enggan memberikan vaksin kepada anak-anak mereka karena ketakutan yang tidak berdasar.
Bagaimana Cara Mengatasi Krisis Campak?
Untuk mengatasi krisis ini, pemerintah dan organisasi kesehatan perlu mengambil langkah cepat dan tegas. Beberapa langkah yang dapat dilakukan antara lain:
Meningkatkan Kampanye Vaksinasi
Sosialisasi mengenai pentingnya vaksin harus lebih masif, terutama di kalangan orang tua dan komunitas yang skeptis terhadap imunisasi.
Mengatasi Hoaks dan Misinformasi
Perlu ada strategi komunikasi yang efektif untuk melawan misinformasi tentang vaksin. Platform media sosial juga harus lebih aktif dalam menindaklanjuti penyebaran hoaks terkait kesehatan.
Investasi dalam Tenaga Kesehatan
Pemerintah harus memastikan ketersediaan tenaga medis yang cukup serta memberikan pelatihan lebih lanjut untuk meningkatkan cakupan imunisasi.
Peningkatan Akses terhadap Vaksin
Distribusi vaksin harus merata, terutama bagi kelompok rentan seperti anak-anak di bawah lima tahun.
Kerja Sama Internasional
Mengingat wabah ini telah meluas ke berbagai negara, kerja sama lintas negara sangat penting untuk menekan penyebaran virus campak.
Mewabahnya campak di Eropa menjadi alarm bagi dunia bahwa ancaman penyakit yang dapat dicegah dengan vaksin masih sangat nyata. Tanpa tindakan cepat, tidak menutup kemungkinan penyakit ini bisa menyebar ke wilayah lain.