Sumber foto: iStock

Makanan Gorengan, Kesenangan atau Ancaman Kesehatan? Ketahui Dampak Konsumsi Gorengan yang Mengkhawatirkan!

Tanggal: 2 Apr 2025 13:58 wib.
Tampang.com | Indonesia dikenal dengan beragam kuliner khas yang menggugah selera, salah satunya adalah makanan gorengan. Makanan ini menjadi favorit banyak orang mulai dari bakwan, tempe mendoan, hingga ayam geprek dan tahu bulat.

Namun, kebiasaan mengonsumsi gorengan dalam jumlah besar telah menimbulkan masalah kesehatan yang cukup serius, dengan dampak ekonomi yang tidak kecil bagi negara. Salah satu masalah terbesar yang muncul adalah penyakit kardiovaskular, yang berkaitan erat dengan konsumsi lemak trans yang banyak ditemukan dalam makanan gorengan.

Penyakit jantung dan stroke, yang merupakan jenis penyakit kardiovaskular, sudah menjadi penyebab utama kematian di Indonesia. Data menunjukkan bahwa hampir 800.000 orang meninggal setiap tahun akibat penyakit jantung, yang mengakibatkan beban ekonomi yang sangat besar.

Dalam 10 tahun terakhir, pemerintah harus mengeluarkan biaya kesehatan hingga mencapai US$213 juta atau sekitar Rp3,45 triliun untuk menangani penyakit kardiovaskular. Angka ini bukan hanya berasal dari biaya pengobatan, tetapi juga termasuk kerugian produktivitas warga yang harus dirawat akibat penyakit jantung.

Kaitan antara makanan gorengan dan penyakit jantung tidak bisa dipandang sebelah mata. Makanan gorengan mengandung lemak trans, yang terbentuk melalui proses industri dengan menambahkan hidrogen ke dalam minyak sayur. Lemak trans ini ternyata sangat berbahaya bagi kesehatan jantung karena dapat meningkatkan kadar kolesterol jahat (LDL) dalam tubuh. Kolesterol yang tinggi ini dapat menyebabkan penyumbatan pada pembuluh darah, yang pada gilirannya dapat memicu serangan jantung atau stroke.

Menurut proyeksi yang dilakukan oleh Kementerian Kesehatan, beban ekonomi akibat penyakit jantung pada tahun 2024 diperkirakan mencapai Rp67,34 triliun. Angka ini berasal dari klaim BPJS Kesehatan untuk pengobatan penyakit jantung yang diperkirakan mencapai Rp38,96 triliun hingga akhir tahun, serta estimasi kerugian akibat hilangnya produktivitas sebesar Rp28,38 triliun. Ini menunjukkan betapa besar dampak yang ditimbulkan oleh penyakit kardiovaskular di Indonesia, yang sebagian besar dapat dicegah dengan mengurangi konsumsi makanan yang mengandung lemak trans.

Di sisi lain, meski bahaya kesehatan sudah sangat jelas, kecintaan masyarakat Indonesia terhadap gorengan tetap tinggi. Berdasarkan data yang dirilis oleh Badan Pusat Statistik (BPS), beberapa daerah di Indonesia mencatatkan konsumsi gorengan yang sangat tinggi.

Kabupaten Batang, misalnya, tercatat sebagai wilayah dengan konsumsi gorengan tertinggi, dengan rata-rata warga mengonsumsi hingga 5,68 gorengan per minggu. Posisi kedua diisi oleh Kabupaten Indramayu, dengan 5,20 gorengan per minggu, sementara Brebes berada di posisi ke-10 dengan 4,62 gorengan per kapita setiap minggu.

Berikut adalah daftar 10 kabupaten/kota dengan konsumsi gorengan tertinggi sepanjang tahun 2024:



Batang (5,69 gorengan per minggu)


Indramayu (5,2 gorengan per minggu)


Kota Pekalongan (5,11 gorengan per minggu)


Pemalang (5,01 gorengan per minggu)


Pekalongan (4,95 gorengan per minggu)


Majalengka (4,94 gorengan per minggu)


Nagan Raya (4,92 gorengan per minggu)


Bener Meriah (4,84 gorengan per minggu)


Padang Lawas (4,84 gorengan per minggu)


Brebes (4,62 gorengan per minggu)



Konsumsi gorengan yang tinggi di daerah-daerah tersebut perlu menjadi perhatian, mengingat dampaknya terhadap kesehatan jangka panjang. Terlalu banyak mengonsumsi makanan yang mengandung lemak trans dapat memicu peningkatan kadar kolesterol dalam darah. Jika tidak segera ditangani, kondisi ini dapat mengarah pada penyakit jantung, stroke, dan masalah kesehatan serius lainnya.

Data dari Kementerian Kesehatan Indonesia menunjukkan bahwa penyakit jantung dan stroke adalah penyebab utama kematian di Indonesia, dengan hampir 800.000 orang meninggal setiap tahunnya. Oleh karena itu, penting bagi masyarakat untuk lebih sadar akan dampak konsumsi makanan gorengan terhadap kesehatan mereka, serta berusaha untuk mengurangi asupan lemak trans dari makanan sehari-hari.

Untuk mengurangi risiko penyakit jantung dan kardiovaskular, langkah pertama yang bisa dilakukan adalah mengurangi konsumsi gorengan. Memilih makanan yang lebih sehat, seperti yang dipanggang atau direbus, dapat membantu menurunkan risiko kolesterol tinggi dan masalah kesehatan lainnya. Selain itu, penting juga untuk menjaga pola makan yang seimbang, rutin berolahraga, dan menghindari kebiasaan merokok atau mengonsumsi alkohol berlebihan.

Pemerintah dan masyarakat perlu bekerja sama untuk mengatasi masalah ini. Peningkatan kesadaran tentang bahaya lemak trans dalam gorengan serta pentingnya menjaga pola makan sehat harus menjadi prioritas. Dengan begitu, diharapkan jumlah kasus penyakit jantung dan stroke dapat menurun, dan beban ekonomi akibat pengobatan penyakit kardiovaskular pun dapat berkurang.
Copyright © Tampang.com
All rights reserved