Sumber foto: Pinterest

Kenapa Makanan yang Tidak Sehat Justru Lebih Menggoda?

Tanggal: 24 Mar 2025 09:33 wib.
Makanan tidak sehat sering kali menjadi pilihan yang menggoda bagi banyak orang. Kita semua pernah merasakan dorongan untuk melahap burger berlemak, pizza cheesy, atau makanan manis yang penuh gula, walaupun kita tahu bahwa pilihan tersebut kurang baik untuk kesehatan. Mengapa makanan tidak sehat memiliki daya tarik yang kuat? Di sinilah psikologi makanan berperan penting dalam pola makan kita sehari-hari.

Psikologi makanan adalah studi tentang bagaimana faktor psikologis dan emosional memengaruhi pilihan dan kebiasaan makan individu. Dari segi biologis, tubuh manusia dirancang untuk mencari makanan yang kaya akan kalori. Dalam sejarah, manusia purba harus mencari sumber energi yang cukup untuk bertahan hidup, dan makanan tinggi lemak dan gula menjadi sumber energi cepat yang diinginkan. Makanan tidak sehat biasanya memiliki rasa yang kuat, kaya akan lemak, gula, dan garam, menjadikannya lebih menggugah selera. Para ahli menyebut hal ini sebagai "manis, asin, dan berlemak" yang secara alami menarik perhatian kita.

Salah satu alasan utama mengapa makanan tidak sehat lebih menggoda adalah karena komposisi kimianya. Makanan yang kaya akan gula, misalnya, dapat merangsang pelepasan dopamin di otak, senyawa neurotransmitter yang berhubungan dengan perasaan bahagia dan kepuasan. Ini menjelaskan mengapa kita sering kali merasa senang setelah mengonsumsi makanan manis, menjadikannya pilihan yang diinginkan saat kita merasa stres atau tidak bahagia. Ditambah lagi, makanan tidak sehat sering kali menawarkan pengalaman eating yang lebih memuaskan dibandingkan makanan sehat, yang cenderung memiliki rasa yang lebih netral.

Persepsi dan imajinasi juga memainkan peran penting dalam keputusan pola makan kita. Masyarakat saat ini dipenuhi dengan iklan dan promosi yang menggugah selera terhadap makanan tidak sehat. Pesan yang dipresentasikan di televisi, media sosial, dan berbagai platform lainnya sering menyoroti kesenangan dan kenikmatan yang dapat diperoleh dari makanan ini. Tidak jarang, gambar-gambar makanan yang menggoda dan penawaran “diskon besar-besaran” menjadikan orang lebih cenderung memenuhui keranjang belanja mereka dengan makanan tidak sehat.

Tensions dengan pola makan sehat juga bisa menjadi faktor yang memengaruhi kita. Dalam banyak budaya, makanan sehat terkadang dianggap kurang menarik atau menyulitkan untuk dipersiapkan. Makanan lebih sehat sering memerlukan waktu dan usaha yang lebih untuk disiapkan dan dinikmati. Di sisi lain, makanan tidak sehat sering kali tersedia secara instan, memakan waktu sedikit untuk disiapkan atau bahkan bisa dibeli dengan mudah di fast food. Kepraktisan ini menjadi daya tarik tambahan bagi banyak orang yang merasa sibuk dengan pekerjaan dan rutinitas sehari-hari.

Selain itu, faktor emosional juga sering berperan. Banyak individu mencari kenyamanan dalam makanan, terutama saat mengalami tekanan hidup yang tinggi. Makanan tidak sehat kerap kali diasosiasikan dengan kebahagiaan dan momen-momen bersenang-senang. Kegiatan sosial yang menyajikan makanan cepat saji, camilan manis, dan minuman berenergi sering kali menciptakan pengalaman positif yang sulit dilepaskan. Mari kita ingat momen-momen berkumpul dengan teman atau keluarga, di mana junk food menjadi menu utama, meningkatkan rasa kedekatan dan keakraban di antara kita.

Di tengah maraknya kesadaran akan pola makan sehat, daya tarik makanan tidak sehat tetap kuat. Psikologi makanan menunjukkan bahwa banyak faktor—biologis, emosional, dan sosial—yang berkontribusi terhadap pilihan ini. Kesulitan dalam mengatasi godaan makanan tidak sehat menunjukkan bahwa memahami motivasi di balik pola makan sangat penting, terutama dalam usaha untuk membuat pilihan yang lebih sehat di masa mendatang.
Copyright © Tampang.com
All rights reserved