Sumber foto: Google

Infeksi Tenggorokan Akibat Streptococcus Jangan Diabaikan, Bisa Picu Kerusakan Katup Jantung

Tanggal: 4 Nov 2026 11:36 wib.
Infeksi tenggorokan sering dianggap sebagai gangguan kesehatan ringan yang dapat sembuh dengan sendirinya. Gejalanya seperti sakit saat menelan, demam, dan rasa tidak nyaman di sekitar tenggorokan terkadang membuat sebagian orang memilih mengabaikannya. Padahal, infeksi yang disebabkan oleh bakteri tertentu dan tidak mendapatkan penanganan tepat berpotensi menimbulkan komplikasi serius, termasuk kerusakan katup jantung.

Salah satu bakteri yang perlu diwaspadai adalah Streptococcus. Bakteri ini dapat menyebabkan radang tenggorokan dan, dalam kondisi tertentu, memicu respons sistem kekebalan tubuh yang justru menyerang jaringan tubuh sendiri.

Komplikasi tersebut dikenal sebagai demam rematik. Jika tidak ditangani dengan baik, kondisi ini dapat berkembang menjadi penyakit jantung rematik yang menyebabkan kerusakan permanen pada katup jantung.

Dokter spesialis jantung dan pembuluh darah, Puti Sarah Saus, SpJP(K), menjelaskan bahwa infeksi tenggorokan akibat Streptococcus tidak boleh dianggap sepele. Dalam penjelasannya, infeksi tersebut dapat berkaitan dengan gangguan pada jantung melalui proses respons imun tubuh.

Hubungan Infeksi Tenggorokan dan Kerusakan Jantung

Infeksi tenggorokan akibat bakteri Streptococcus, khususnya Streptococcus pyogenes atau streptokokus grup A, dapat memicu demam rematik pada sebagian orang yang rentan.

Kondisi ini tidak terjadi karena bakteri secara langsung masuk dan merusak jantung. Sebaliknya, sistem kekebalan tubuh yang berusaha melawan infeksi dapat mengalami reaksi keliru. Antibodi yang terbentuk untuk melawan bakteri justru bereaksi terhadap jaringan tubuh, termasuk jaringan jantung.

Peradangan yang terjadi dapat menyerang lapisan jantung, terutama katup. Jika peradangan berlangsung dan menimbulkan kerusakan, katup jantung bisa mengalami perubahan struktur sehingga tidak mampu bekerja secara normal.

Katup jantung memiliki fungsi penting untuk memastikan darah mengalir ke arah yang benar. Apabila katup mengalami kerusakan, aliran darah dapat terganggu karena katup tidak menutup atau membuka sebagaimana mestinya.

Akibatnya, kemampuan jantung dalam memompa darah ke seluruh tubuh bisa menurun.

Siapa yang Berisiko Mengalami Komplikasi?

Demam rematik dapat dialami oleh siapa saja, tetapi lebih sering ditemukan pada anak-anak dan remaja, terutama kelompok usia 5 hingga 15 tahun. Risiko juga dapat meningkat pada masyarakat yang memiliki keterbatasan akses terhadap layanan kesehatan, kondisi lingkungan padat, serta kurangnya asupan gizi.

Puti Sarah juga menyoroti bahwa gangguan katup jantung akibat proses infeksi masih menjadi persoalan kesehatan pada kelompok masyarakat dengan kondisi sosial ekonomi tertentu. Kurangnya pemenuhan nutrisi dan keterlambatan mendapatkan pengobatan dapat memperbesar risiko komplikasi.

Namun, kerusakan katup jantung tidak selalu berkaitan dengan infeksi. Pada kelompok lanjut usia, khususnya mereka yang berusia sekitar 70 tahun ke atas, gangguan katup juga dapat muncul akibat proses degeneratif atau penuaan.

Seiring bertambahnya usia, jaringan dan struktur katup jantung dapat mengalami perubahan sehingga fungsinya semakin menurun.

Kenali Gejala Katup Jantung yang Mengalami Kerusakan

Kerusakan katup jantung dapat menimbulkan berbagai keluhan. Akan tetapi, gejalanya tidak selalu langsung terlihat pada tahap awal. Sebagian pasien bahkan baru merasakan gangguan setelah kerusakan berlangsung cukup lama.

Beberapa gejala yang perlu diwaspadai antara lain:



Sesak napas, terutama ketika melakukan aktivitas fisik atau saat berbaring.


Nyeri dada, yang dapat muncul ketika jantung mengalami tekanan akibat gangguan aliran darah.


Pingsan, akibat aliran darah ke otak yang tidak mencukupi.


Hampir pingsan, ditandai dengan rasa melayang, pusing berat, atau kehilangan keseimbangan.



Jika mengalami keluhan tersebut, masyarakat sebaiknya segera memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan. Terlebih apabila memiliki riwayat infeksi tenggorokan yang tidak mendapatkan penanganan memadai.

Pemeriksaan sejak dini penting untuk mengetahui kondisi jantung sebelum gangguan berkembang menjadi lebih berat.

Pemeriksaan untuk Mengetahui Kondisi Katup Jantung

Untuk memastikan adanya gangguan pada katup jantung, dokter dapat melakukan pemeriksaan awal melalui wawancara medis dan pemeriksaan fisik. Jika ditemukan indikasi masalah jantung, pasien dapat dirujuk kepada dokter spesialis jantung untuk pemeriksaan lebih lanjut.

Salah satu metode pemeriksaan yang penting adalah ekokardiografi atau USG jantung. Pemeriksaan ini menggunakan gelombang suara untuk melihat struktur jantung, pergerakan katup, serta aliran darah di dalamnya.

Melalui pemeriksaan tersebut, dokter dapat mengetahui apakah katup mengalami penyempitan atau kebocoran. Hasilnya kemudian digunakan untuk menentukan tingkat keparahan gangguan dan langkah penanganan yang diperlukan.

Bagaimana Penanganan Kerusakan Katup Jantung?

Kerusakan katup jantung tidak selalu mengharuskan pasien menjalani operasi. Penanganan disesuaikan dengan jenis gangguan, tingkat keparahan, serta kondisi kesehatan secara keseluruhan.

Dokter Puti Sarah Saus menjelaskan bahwa pasien perlu menjalani pemeriksaan diagnostik secara menyeluruh sebelum menentukan apakah tindakan medis tertentu diperlukan.

Pada kasus tertentu, gangguan katup dapat ditangani melalui pemberian obat untuk mengendalikan gejala dan membantu mengatasi komplikasi. Namun, jika kerusakan sudah cukup berat, dokter dapat mempertimbangkan tindakan intervensi.

Saat ini, tersedia pula metode minimal invasif dengan menggunakan kateter yang dimasukkan melalui pembuluh darah, termasuk dari area paha. Prosedur tersebut dapat menjadi alternatif operasi jantung terbuka bagi pasien yang memenuhi kriteria medis tertentu.

Cara Mencegah Infeksi Streptococcus Menyebabkan Komplikasi

Pencegahan menjadi langkah penting untuk mengurangi risiko demam rematik dan penyakit jantung rematik. Salah satu upaya utama adalah tidak mengabaikan gejala infeksi tenggorokan yang dicurigai disebabkan oleh bakteri Streptococcus.

Jika mengalami sakit tenggorokan disertai demam, nyeri saat menelan, atau pembengkakan amandel, sebaiknya segera berkonsultasi dengan tenaga medis. Dokter dapat melakukan pemeriksaan dan tes untuk memastikan penyebab infeksi.

Apabila terbukti mengalami infeksi bakteri Streptococcus, pasien perlu mengonsumsi antibiotik sesuai resep dan menghabiskan pengobatan berdasarkan petunjuk dokter. Antibiotik tidak boleh digunakan sembarangan karena infeksi tenggorokan juga dapat disebabkan oleh virus yang tidak membutuhkan obat tersebut.

Selain itu, kebiasaan mencuci tangan, menutup mulut ketika batuk atau bersin, serta menjaga kebersihan lingkungan dapat membantu mengurangi penyebaran bakteri.

Pada akhirnya, infeksi tenggorokan memang tidak selalu berkembang menjadi gangguan jantung. Namun, infeksi Streptococcus yang tidak ditangani dengan tepat dapat memicu komplikasi serius pada sebagian orang. Mengenali gejala, mendapatkan pengobatan sejak dini, dan melakukan pemeriksaan kesehatan secara berkala menjadi langkah penting untuk menjaga kesehatan jantung.
Copyright © Tampang.com
All rights reserved