Indonesia Peringkat 2 Kasus TBC Terbanyak di Dunia: Ini Fakta & Cara Pencegahannya!
Tanggal: 26 Mar 2025 09:45 wib.
Kasus tuberkulosis (TBC) di Indonesia terus menjadi perhatian serius, di mana negara ini menduduki peringkat kedua di dunia setelah India dengan jumlah kasus TBC terbanyak. Penyakit yang disebabkan oleh infeksi bakteri Mycobacterium tuberculosis ini tidak hanya menyerang paru-paru, tetapi juga dapat mempengaruhi tulang, kelenjar, dan kulit. Pada tahun 2024, data menunjukkan bahwa Indonesia terancam dengan 1.060.000 kasus tuberkulosis.
Menurut Direktur Penyakit Menular Kementerian Kesehatan, dr. Ina Agustina Isturini, pada awal Maret 2025, sebanyak 889.000 orang telah terdeteksi menderita TBC, yang merupakan sekitar 81% dari target deteksi kasus untuk tahun 2024 yaitu sebanyak 1.092.000. Peningkatan deteksi kasus TBC ini menunjukkan upaya pemerintah dalam meningkatkan kesadaran dan akses terhadap pengujian serta pengobatan penyakit ini.
Berdasarkan laporan, penemuan kasus TBC di Indonesia dari tahun ketahun mengalami peningkatan yang signifikan. Pada tahun 2022, terdapat 723.309 kasus terdeteksi, yang menyumbang 77% dari total estimasi kasus. Tahun lalu, di tahun 2023, angka ini sedikit meningkat menjadi 821.200 kasus, tetap mempertahankan proporsi 77%. Dari jumlah tersebut, sebanyak 722.863 kasus atau sekitar 88% berhasil diobati, menunjukkan bahwa sistem kesehatan Indonesia berfungsi dengan cukup baik dalam menangani penyakit ini.
Lebih jauh lagi, kasus TBC yang dilaporkan terbagi menjadi dua kategori, yakni TBC sensitif obat dan TBC resisten obat. TBC sensitif obat merupakan jenis yang paling umum, dengan 879.354 kasus terdeteksi. Sementara untuk TBC resisten obat, jumlahnya jauh lebih kecil, yaitu hanya 9.779 kasus atau sekitar 1,1% dari total estimasi kasus. Meskipun penyakit ini menular dan dapat menyebabkan kematian, kabar baiknya adalah TBC dapat disembuhkan apabila pengobatan dilakukan secara teratur sampai dinyatakan sembuh oleh dokter.
Dalam upaya penanggulangan TBC di Indonesia, pemerintah telah meluncurkan berbagai program kesehatan untuk menanggulangi dan mencegah penyebaran penyakit ini. Salah satu langkah utama adalah imunisasi BCG, sebuah program imunisasi esensial yang harus diberikan kepada semua bayi pada usia satu bulan untuk melindungi mereka dari infeksi tuberkulosis.
Selain itu, surveilans TBC juga sangat penting dalam menangani masalah ini. Surveilans terdiri dari pengamatan, pencatatan, analisis, pelaporan, dan penyebaran hasil yang dilakukan secara terus-menerus. Ada dua jenis surveilans yang diterapkan, yaitu pasif dan aktif. Surveilans pasif mengumpulkan data dari pencatatan kasus di fasilitas kesehatan, sedangkan surveilans aktif berfokus pada menemukan kasus baru dengan melakukan skrining terhadap orang-orang di sekitar pasien yang terdiagnosis.
Gerakan TOSS TBC (Temukan dan Obati Sampai Sembuh) juga merupakan inisiatif pemerintah untuk meningkatkan partisipasi masyarakat dalam menekan angka TBC. Melalui kampanye ini, masyarakat diajak untuk mengenali gejala TBC dan segera mencari diagnosa serta pengobatan yang sesuai. Dengan cara ini, diharapkan rantai penularan TBC dapat diputus.
Upaya lain yang signifikan adalah Terapi Pencegahan Tuberkulosis (TPT). Program ini dimaksudkan untuk mengurangi kemungkinan seseorang yang memiliki bakteri TBC dalam tubuh untuk jatuh sakit. Meski tidak menunjukkan gejala atau tidak menularkan virus, individu tersebut masih berpotensi untuk menularkan ketika sistem imun melemah. Melalui TPT, obat antituberkulosis (OAT) diberikan kepada kelompok dengan kondisi TBC laten untuk mencegah infeksi aktif di kemudian hari.
Peningkatan kapasitas fasilitas pelayanan kesehatan juga menjadi fokus utama pemerintah. Langkah ini dilakukan untuk memastikan bahwa layanan TBC terdistribusi merata, terutama di daerah yang dianggap memiliki risiko tinggi. Selain itu, pemerintah juga berupaya meningkatkan keterampilan sumber daya manusia dan infrastruktur fasilitas kesehatan agar tidak menciptakan ruang bagi penyebaran TBC.
Pencegahan tetap menjadi langkah terpenting dalam menangani TBC. Melakukan skrining secara rutin, segera mendapatkan perawatan di fasilitas kesehatan jika mengalami gejala, serta menjalani pengobatan hingga tuntas adalah beberapa langkah yang sangat disarankan. Apabila terdiagnosis TBC, pasien diharapkan tidak panik dan dapat mengontrol penularan dengan menjalani protokol kesehatan yang benar. Dengan pendekatan yang terintegrasi ini, diharapkan angka TBC di Indonesia dapat ditekan, dan masyarakat dapat hidup lebih sehat dan produktif.