Sumber foto: iStock

AI di Rumah Sakit: Ancaman bagi Dokter atau Revolusi Perawatan Kesehatan?

Tanggal: 25 Mar 2025 14:23 wib.
Kemajuan pesat dalam teknologi kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) telah mengubah banyak aspek kehidupan, termasuk industri kesehatan di Indonesia. Dominasi teknologi baru ini menawarkan berbagai peluang untuk meningkatkan operasional rumah sakit, memastikan bahwa perawatan pasien dilakukan dengan lebih cepat dan tepat. Namun, pertanyaan yang mengemuka adalah bagaimana nasib para dokter dalam era digital ini. Apakah keberadaan AI akan memunggungi tugas mereka, atau justru memberikan dukungan yang lebih baik?

Salah satu contoh penerapan teknologi AI dalam layanan kesehatan adalah kolaborasi antara EMC Healthcare dan InterSystems, sebuah perusahaan yang dikenal dengan solusi teknologi data inovatif. Langkah ini bertujuan untuk memodernisasi perawatan pasien melalui pengadopsian sistem rekam medis elektronik generasi selanjutnya, yang dikenal sebagai InterSystems IntelliCare. Inisiatif ini diharapkan mampu menghadirkan perubahan signifikan dalam cara penyampaian layanan kesehatan sebagai upaya meningkatkan efisiensi operasional di berbagai fasilitas kesehatan.

"Implementasi sistem InterSystems IntelliCare bukan sekadar peningkatan teknologi biasa. Ini memungkinkan perubahan mendasar dalam cara kami memberikan layanan kesehatan," ungkap Jusup Halimi, Presiden Direktur EMC Group, saat acara peluncuran di Rumah Sakit EMC Alam Sutera, Tangerang Selatan. Penggunaan sistem EHR yang lebih maju bertujuan untuk mengurangi potensi kesalahan medis, meningkatkan efisiensi, dan pada akhirnya meningkatkan kualitas perawatan pasien yang diterima.

Peralihan dari dokumen kertas menuju sistem digital yang canggih adalah satu langkah yang signifikan dalam dunia kesehatan. Dalam waktu sekitar lima tahun, EMC Healthcare telah mengubah total cara kerjanya dengan merancang solusi berbasis AI yang secara langsung memberikan manfaat baik bagi tenaga medis maupun pasien. Dengan teknologi ini, pasien mendapatkan layanan yang lebih responsif, sementara tenaga medis dapat mengurangi beban administratif mereka.

Penerapan AI dalam dunia medis tidak hanya menjadi sorotan karena inovasi teknologinya, tetapi juga karena dampaknya terhadap para profesional kesehatan. Kemampuan AI untuk mengotomatiskan tugas-tugas rutin sangatlah penting. Hal ini memungkinkan dokter untuk lebih fokus pada inti pekerjaan mereka, yaitu mendengarkan keluhan pasien, melakukan diagnosa, dan mengembangkan rencana perawatan yang lebih personal. Sistem analitik berbasis AI berfungsi untuk membantu pengambilan keputusan klinis dengan memberikan data yang lebih akurat dan relevan, termasuk wawasan prediktif yang dapat meningkatkan kualitas diagnosis.

Dr. Bella Desra Andae, Kepala Informatika Medis di EMC, menyoroti bagaimana InterSystems IntelliCare mampu menghemat waktu dokter saat berinteraksi dengan rekam medis elektronik. "Sebelum teknologi ini ada, banyak dokter menghabiskan waktu hingga sepuluh menit hanya untuk mencari rekam medis, mendiagnosis, dan menulis resep. Kini, dengan adanya InterSystems IntelliCare, waktu yang dihabiskan di depan layar berkurang secara signifikan. Hal ini memungkinkan dokter untuk lebih terlibat dengan pasien, meningkatkan komunikasi, dan memperkuat hubungan antara dokter dan pasien," jelasnya.

Sistem yang memadai ini berpotensi menjadikan AI sebagai sekutu, bukan musuh bagi para dokter. Dengan berkurangnya waktu yang dihabiskan untuk tugas administratif, dokter bisa lebih banyak melakukan interaksi manusiawi yang diperlukan untuk membangun kepercayaan pasien. Pasien juga mendapatkan pengalaman yang lebih baik karena dokter dapat memberikan perhatian penuh kepada mereka.

Menariknya, keberadaan AI juga membawa harapan bagi para dokter muda dan profesional kesehatan lainnya dalam hal pengembangan karier. Dengan adanya teknologi yang dapat mengotomatiskan proses-proses tertentu, mereka lebih berfokus pada pengembangan keterampilan klinis dan keahlian interpersonal yang sangat dibutuhkan dalam praktik kedokteran. AI berperan sebagai asisten yang dapat meningkatkan kualitas pendidikan dan pelatihan bagi generasi dokter berikutnya.

Lebih dari sekadar alat bantu, AI juga diharapkan dapat meningkatkan kemampuan diagnosis dan pengobatan. Dengan analitik yang lebih canggih, dokter dapat dengan lebih mudah mendeteksi anomali dan mengimplementasikan pengobatan yang lebih efektif. Ini membuka kemungkinan bagi diagnosis yang lebih cepat dan akurat yang dapat menyelamatkan nyawa.

Di tengah semua kemajuan ini, tantangan baru juga muncul. Dokter diharapkan tidak hanya ahli di bidang medis, tetapi juga memahami teknologi baru yang diperkenalkan di tempat kerja mereka. Pelatihan dan pengembangan keterampilan baru menjadi hal yang krusial agar para dokter bisa memanfaatkan potensi AI seoptimal mungkin.

Inovasi dalam dunia kesehatan ini menunjukkan bahwa AI bukanlah pengganti, melainkan pelengkap yang mampu meningkatkan kecakapan dan efektivitas para profesional kesehatan. Dalam dekade mendatang, saat teknologi semakin berkembang dengan pesat, kolaborasi antara dokter dan AI diharapkan akan menciptakan ekosistem kesehatan yang lebih baik dan lebih berkelanjutan, menawarkan solusi dari tantangan kesehatan yang ada. 

Dengan perkembangan yang begitu pesat, para dokter perlu bersiap untuk masa depan yang mengintegrasikan teknologi dalam setiap aspek praktik kesehatan mereka. Keberhasilan kolaborasi antara teknologi dan sumber daya manusia di rumah sakit akan menjadi kunci dalam menciptakan layanan kesehatan yang lebih manusiawi, efisien, dan responsif terhadap kebutuhan pasien.
Copyright © Tampang.com
All rights reserved