Mengapa Kita Bisa Merasa Takut Sih?

Tanggal: 14 Mar 2018 22:12 wib.
 

Takut adalah salah satu emosi yang rasanya pernah dirasakan oleh semua orang. Tahukah kalian, apa sih sebenarnya yang berada di balik rasa takut ini? Yuk, kita telusuri si emosi yang satu ini!

Ada sebuah kata bijak yang menyebutkan, “Takut adalah pilihan dan bahaya itu nyata.” Kata bijak ini pernah juga muncul di film After Earth. Film yang mengisahkan tentang seorang anak laki-laki yang berjuang melawan ketakutannya terdampar di tempat asing dengan monster yang berkeliaran. Menariknya monster ini sebenarnya tidak dapat melihat, namun monster ini bisa mencium bau ketakutan. Nah kan, ketika kita dihadapkan dengan bahaya ini (baca: monster), sebenarnya kita dihadapkan kepada sesuatu yang bisa kita pilih, takut atau berani.

Sebelum lanjut dengan pilihan sikap tersebut. kita juga lihat yuk, sebenarnya apa sih yang terjadi pada otak ketika kita mengalami takut tersebut. Menurut sebuah referensi, takut adalah  sebuah reaksi berantai dalam otak yang dimulai dengan pemicu takut dan kemudian terjadi pelepasan hormon adrenalin. Pelepasan hormon inilah yang dapat menyebabkan perubahan fisik dan emosi. Perubahan yang terjadi misalnya: jantung yang berdetak lebih kencang, napas yang terburu-buru, dan perubahan lainnya.

Ternyata, emosi adalah sesuatu yang memang terjadi bukan hanya di ‘hati’, namun berasal dari reaksi fisik. Dalam sebuah referensi lainnya disebutkan bagaimana kita bisa mengatasi rasa takut kita adalah dengan mengenali penyebabnya terlebih dahulu. Apa saja sih penyebab takut itu? Takut bisa disebabkan oleh kejadian traumatis di masa lalu. Kejadian ini mungkin sudah berlangsung dari lama, namun dampak traumanya terus berkesan di otak, hingga kita mungkin akan mengalami takut yang sama walaupun kita sudah dewasa. Takut sebenarnya adalah bentuk survival dari diri atau perlindungan diri agar dampak tidak mengenakkan di masa lalu tidak terjadi lagi. Boleh saja sih sebenarnya kita melindungi diri dari rasa tidak nyaman yang diakibatkan dari takut tersebut. namun, seperti tadi yang dibahas di awal, bahwa yang nyata itu bahayanya, sedangkan rasa takut adalah pilihan.

Ada sebuah cerita mengenai rasa takut ini. Ada seseorang yang sudah dewasa namun ia sangat takut ketika melihat balon. Ia bisa berteriak-teriak dan lari tunggang langgang jika ia menlihat balon. Selidik punya selidik, ternyata orang ini pernah mengalami kejadian yang tidak nyaman dengan balon. Ketika kecil, ada balon yang meledak tepat di depan matanya. Sejak itu, ia seperti phobia terhadap balon. Balon adalah bagai monster baginya dan sesunggguhnya ia punya pilihan takut atau berani ketika melihat balon. Di sinilah dibutuhkan logika yang terbuka dan sehat untuk ‘menilai’ kembali apakah tepat jika kita takut kepada balon.

 

Dan terakhir, ketika kamu merasa takut, coba kenali moment-moment apa diri merasa takut dan coba juga kenali gejalanya. Cobalah atur diri, agar ketika ada moment seperti itu lagi, diri sudah dapat lebih dikuasai (baca: berani).

 

 
Copyright © Tampang.com
All rights reserved