Belajar Menikmati Hidup dari Kisah Semangkuk Mie Ayam...

Tanggal: 11 Jun 2018 11:25 wib.
Pernahkah kamu merasa sangat menginginkan sesuatu, namun kamu (seakan) menahan untuk tidak memenuhi keinginanmu tersebut.  Menahan, menunda, atau melupakan adalah hal yang mungkin kita lakukan ketika kita menginginkan sesuatu, namun kita ‘bermain’ dengan waktu sebelum merealisasikannya. Nah, aku pun termasuk tipe yang tidak langsung menuruti keinginan diri. Tipe yang mengontrol, apakah ini kebutuhan atau keinginan. Biasanya, jika bersifat kebutuhan langsung kupenuhi. Namun, jika ini bersifat keinginan, ‘menahan’, ‘menunda’, atau ‘melupakanlah’ yang kupilih.

Namun, ada satu peristiwa yang membuatku berpikir ulang dengan kebisaanku tersebut.  Suatu hari aku mendapatkan kabar bahwa ada seorang teman yang telah berpulang karena dipanggil oleh Tuhan. Aku benar-benar tidak menyangka. Usianya lebih muda daripada aku, dia pun baru saja menyelesaikan salah satu tugas pentingnya di kantor. Intinya, teman-temannya tak menyangka kalau dia harus berpulang begitu cepat dan tiba-tibanya. Di situ aku berpikir bahwa waktu tak tahu kapan akan berakhir....dia bisa saja begitu lama, tapi bisa juga begitu cepat tanpa kita sadari dia harus berakhir. Salah satu kebiasaanku adalah bermain dengan waktu, khususnya ketika ada keinginan yang datang. Ternyata..... ‘menahan’, ‘menunda’, atau ‘melupakan’ bisa membuat kita benar-benar tidak bisa memenuhi keinginan kita, ketika waktu kita berpulang pada Nya sudah tiba.

Pikiran ini aku coba eksekusi, pada keinginanku di suatu sore. Sudah lama aku ingin berbuka puasa dengan menu mie ayam! Ya, semangkung mie ayam! Aku menginginkan ini dari awal puasa, namun keinginanku ini aku tunda lagi dan lagi dengan berbagai alasan. Mulai dari alasan, tak ada teman yang mau aku ajak makan mie ayam, mie ayam itu tidak cocok dijadikan menu berbuka puasa, hingga alasan jalanan macet untuk menuju kedai mie ayam yang kuinginkan. Akhirnya di sore itu aku hentikan permainanku bermain dengan waktu. Aku pun mengambil telepon genggamku dan memesan mie ayam yang kuinginkan. Mudah dan puas! Itu yang kurasakan setelah aku menikmati mie ayam sebagai menu berbuka puasaku.

Mie ayam hanyalah analogi, betapa kita harus memikirkan waktu yang terus berjalan ketika kita menunda keinginan. Sore itu aku belajar sesuatu dari mie ayam. Ketika kita punya keinginan dan keinginan itu tak merugikan siapapun, realisasikanlah! Selagi kita masih diberi waktu untuk hidup, selagi hidup masih bisa dinikmati. Nikmatilah hidupmu dan ikuti keinginanmu (ingat: selama ini positif dan tidak merugikan siapapun)! Keindahan hidup sangat disayangkan lewat begitu saja karena penundaan keinginan-keinginan positifmu! Ayo, nikmati mie ayammu!
Copyright © Tampang.com
All rights reserved