Waspadai Tiga Fase Gejala Campak, Risiko, hingga Komplikasinya

Tanggal: 28 Agu 2025 13:58 wib.
Campak masih menjadi salah satu penyakit menular yang perlu diwaspadai di Indonesia. Ketua Unit Kerja Koordinasi (UKK) Infeksi Penyakit Tropik Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), Prof Dr dr Edi Hartoyo, SpA, Subs IPT(K), menjelaskan bahwa gejala khas campak berkembang dalam tiga fase yang muncul secara berurutan.

Fase pertama atau prodromal ditandai dengan demam tinggi selama sekitar tiga hari, disertai batuk, pilek, dan mata merah. Setelah itu, masuk ke fase kedua pada hari keempat hingga keenam, ditandai dengan ruam kemerahan yang bermula dari wajah lalu menyebar ke seluruh tubuh, sering diiringi rasa lemas dan hilangnya nafsu makan.

Yang membedakan campak dari penyakit lain adalah ciri di fase ketiga (penyembuhan), yaitu ruam yang berubah menjadi lebih gelap atau menghitam sebelum akhirnya mengelupas.

Meski terlihat “hanya ruam dan demam”, campak bisa menimbulkan komplikasi serius bila tidak ditangani, seperti pneumonia, diare, otitis media (infeksi telinga), bahkan radang otak.

“Campak merupakan infeksi virus akut yang sangat menular. Jika satu anak terkena campak, dia bisa menularkan ke 12 hingga 18 anak lain. Itu jauh lebih menular dibanding COVID-19,” tegas Edi dalam telewicara daring, Rabu (27/8).

Pengobatan dan Pencegahan

Saat ini belum ada obat khusus untuk membunuh virus campak, sehingga perawatan bersifat suportif: istirahat cukup, menjaga nutrisi, serta pemberian vitamin A untuk mempercepat pemulihan dan menjaga kesehatan mata maupun kulit. Orang tua juga perlu segera membawa anak ke fasilitas kesehatan jika demam tak kunjung turun atau gejala semakin berat.

Namun kabar baiknya, campak sepenuhnya bisa dicegah melalui imunisasi rutin yang tersedia gratis di layanan kesehatan pemerintah.

“Deteksi dini dan imunisasi adalah kunci untuk mencegah komplikasi serius bahkan kematian akibat campak,” kata Edi.
Copyright © Tampang.com
All rights reserved