Waspadai Risiko Kanker Akibat Tato
Tanggal: 27 Mar 2025 14:33 wib.
Baru-baru ini, para peneliti mengingatkan masyarakat untuk berpikir dua kali sebelum memutuskan untuk menato tubuh mereka. Penelitian terbaru menunjukkan bahwa tato dapat meningkatkan risiko kanker kulit dan limfoma, yang berhubungan dengan kelenjar getah bening. Temuan ini menjadi perhatian serius, terutama bagi mereka yang ingin mendekorasi tubuh mereka dengan tinta tanpa mempertimbangkan dampak jangka panjangnya. Kekhawatiran ini semakin meningkat seiring dengan meningkatnya tren tato di berbagai kalangan, termasuk anak muda.
Sebuah laporan dari Medical Daily yang dirilis pada Rabu (5/3) mengungkapkan bahwa tinta tato tidak hanya menempel di permukaan kulit, tetapi juga dapat menembus lapisan epidermis dan masuk ke dalam sistem limfatik tubuh. Tinta tersebut berpotensi berpindah ke kelenjar getah bening dan menumpuk di sana, yang dapat menyebabkan peradangan atau komplikasi kesehatan lainnya. Namun, menentukan apakah tato secara langsung berkontribusi terhadap risiko kanker masih menjadi tantangan bagi para ilmuwan, karena dampaknya pada kesehatan mungkin baru terlihat setelah bertahun-tahun.
Studi Ilmiah: Mengungkap Hubungan Antara Tato dan Kanker
Dalam studi terbaru yang dipublikasikan di jurnal BMC Public Health, tim riset memanfaatkan data dari lebih dari 5.900 pasangan kembar di Denmark untuk meneliti dampak jangka panjang dari tato. Peneliti utama, Jacob von Bornemann Hjelmborg, menjelaskan bahwa menggunakan pasangan kembar sebagai subjek penelitian memberikan keunggulan tersendiri. Dengan latar belakang genetik dan lingkungan yang serupa, perbedaan risiko kanker pada mereka yang memiliki dan tidak memiliki tato dapat diamati dengan lebih akurat.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa individu dengan tato mengalami insidensi kanker kulit dan limfoma yang lebih tinggi dibandingkan saudara kembar mereka yang tidak memiliki tato. Risiko ini juga bervariasi tergantung pada ukuran dan desain tato. Misalnya, individu dengan tato yang lebih besar dari ukuran telapak tangan menunjukkan kemungkinan lebih tinggi terkena kanker dibandingkan mereka yang memiliki tato kecil atau dalam jumlah sedikit. Fakta ini mengindikasikan bahwa semakin banyak tinta yang digunakan, semakin besar pula risiko kesehatan yang ditimbulkan.
Menariknya, penelitian ini juga mengungkap bahwa semakin lama seseorang memiliki tato di tubuhnya, semakin besar pula risiko yang dihadapi. Seiring berjalannya waktu, partikel tinta yang tertanam di kulit akan mengalami degradasi dan menyebar ke sistem limfatik. Akumulasi zat asing ini diduga dapat memicu peradangan kronis atau bahkan meningkatkan kemungkinan mutasi sel yang dapat menyebabkan kanker. Fenomena ini menunjukkan bahwa dampak tato bukan hanya bersifat sementara, melainkan dapat memberikan efek jangka panjang yang serius terhadap kesehatan.
Reaksi Tubuh terhadap Partikel Tinta
Henrik Frederiksen, salah satu penulis studi tersebut, menjelaskan bahwa partikel tinta tato yang masuk ke kelenjar getah bening dapat memicu respons imun yang berlebihan. "Saat ini kami dapat mengamati bagaimana partikel tinta terakumulasi di kelenjar getah bening, dan kami menduga bahwa tubuh menganggapnya sebagai zat asing," ujar Frederiksen.
Ketika sistem kekebalan tubuh bekerja lebih keras untuk menangani partikel asing ini, potensi komplikasi kesehatan pun meningkat. Respons imun yang terus-menerus dapat menyebabkan stres oksidatif dan peradangan kronis, yang keduanya dikaitkan dengan perkembangan kanker. Selain itu, keberadaan zat-zat kimia dalam tinta tato, seperti logam berat dan senyawa organik beracun, dapat memperparah kondisi ini. Namun, hingga saat ini para ilmuwan masih belum sepenuhnya memahami apakah beban kerja ekstra pada sistem imun ini dapat secara langsung melemahkan fungsi kelenjar getah bening atau menyebabkan masalah kesehatan lain dalam jangka panjang.
Perlunya Penelitian Lebih Lanjut
Berdasarkan temuan ini, penting bagi masyarakat untuk lebih bijak dalam mempertimbangkan dampak kesehatan dari tato. Meskipun belum ada larangan resmi, penelitian lebih lanjut diperlukan untuk memahami mekanisme di balik bagaimana tato mempengaruhi fungsi kelenjar getah bening secara molekuler. Para peneliti juga ingin mengeksplorasi apakah bahan tertentu dalam tinta tato memiliki efek lebih berbahaya dibandingkan yang lain, sehingga dapat dijadikan dasar bagi regulasi yang lebih ketat terhadap industri tato.
Selain itu, para ilmuwan ingin meneliti apakah jenis limfoma tertentu memiliki hubungan lebih kuat dengan tato dibandingkan jenis lainnya. Jika korelasinya semakin terbukti, regulasi tentang penggunaan tinta tato mungkin perlu diperketat, termasuk penentuan standar keamanan bahan kimia dalam tinta yang digunakan. Hal ini juga bisa mendorong pengembangan tinta tato yang lebih aman dan ramah terhadap tubuh, sehingga risiko kesehatan dapat diminimalkan tanpa menghilangkan kebebasan individu dalam berekspresi melalui tato.
Meskipun tato telah menjadi bagian dari budaya modern dan sarana ekspresi diri, masyarakat sebaiknya tetap mempertimbangkan risiko yang ada. Dengan meningkatnya bukti ilmiah mengenai potensi dampak negatif tato terhadap kesehatan, individu yang ingin menato tubuh mereka perlu berpikir lebih matang dan mencari informasi yang lebih mendalam sebelum mengambil keputusan.